Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
DALAM beberapa hari akhir November 2025, wilayah Sumatra Utara diterjang banjir dan longsor hebat. Curah hujan tinggi memicu luapan sungai dan pergerakan tanah. Sedikitnya 105 orang ditemukan tewas hingga hari ini. (Kompas.com, 28 November 2025). Korban manusia menjadi satu wajah dari duka. Namun, di balik angka itu, terdapat rumah yang hilang, jalan yang tertutup lumpur, mata pencaharian yang musnah, dan ketakutan yang menunggu musibah selanjutnya.
Sementara itu di sisi lain pulau, tragedi berbeda terulang dalam diam. Di Taman Nasional Tesso Nilo, di Provinsi Riau, populasi gajah liar terus menurun. Dari 200 ekor pada 2004, turun menjadi sekitar 150 ekor pada 2025. Habitat alami yang dulu lebat, kini tinggal sebagian kecil karena perambahan hutan dan konversi lahan. Sekitar 60 sampai lebih dari 60 persen hutan alami telah rusak akibat aktivitas ilegal dan perluasan kebun sawit. (Kompas.com, 28 November 2025).
Baca juga: Soal Banjir-Longsor di Sumatera, Bahlil: Ini Kan Awalnya dari Kerusakan Lingkungan
Banjir longsor di Sumatra Utara dan penyusutan populasi gajah di Tesso Nilo seolah menunjukkan dua sisi dari krisis iklim dan krisis lingkungan yang saling terkait. Air meluap di satu sisi. Kehidupan liar diinjak perlahan di sisi lain. Kita tengah berdiri di persimpangan krisis yang menuntut jawaban nyata.
Masalahnya bukan hanya iklim yang makin berubah atau cuaca yang tak bisa ditebak. Masalah berakar pada cara kita memperlakukan alam. Kita menggusur hutan, kita menerabas tanah, kita menanam di tempat tak tepat. Lalu saat hujan deras datang atau siklus alam terganggu, kita terkejut. Seakan lupa bahwa kita dulu ikut merusak penyangga kehidupan.
Contoh kerusakan di Tesso Nilo, hutan yang rusak bukan sekadar soal kehilangan pepohonan. Kehilangan hutan berarti kehilangan rumah bagi makhluk hidup, kehilangan sistem penyerapan air yang bagus, kehilangan penahan longsor, dan kehilangan keseimbangan ekosistem. Saat hujan berlebih atau angin kencang datang, daerah tanpa pepohonan lebih rentan banjir, longsor, erosi dan kerusakan.
Baca juga: Sawit Masuk Tesso Nilo, Gajah–Harimau Terjepit, Reputasi Indonesia Terancam
Di sisi lain, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa sepanjang 2025, terjadi 2.942 peristiwa bencana alam. Sekitar 70 persen di antaranya adalah banjir dan cuaca ekstrem. Fakta ini seharusnya tidak membuat kita pasrah tapi justru mendorong kita untuk bergerak untuk melindungi alam. Jika pengerusakan alam terus dibiarkan, masa depan generasi kita akan terbungkus awan abu, lumpur dan kenangan pahit.
Kita perlu pendekatan baru, pendekatan yang tidak hanya bereaksi saat bencana sudah menyerang. Kita butuh gerakan preventif seperti pengelolaan alam secara bijak, penanaman pohon, perlindungan habitat satwa, pemetaan wilayah rawan bencana, pengaturan ulang tata ruang dan pola produksi.
Pemerintah memang memiliki peran penting. Misalnya langkah tegas di Tesso Nilo dengan penguatan operasi penertiban dan pengamanan kawasan, pemasangan portal, pembangunan pos penjagaan, dan proses pengosongan lahan secara persuasif dari penghuni ilegal. Tapi itu saja tidak cukup jika masyarakat, komunitas, dan seluruh elemen tidak ikut aktif.
Kita juga perlu membangun budaya waspada dan adaptasi. Belajar dari korban banjir dan longsor bahwa kita tidak bisa lagi mengabaikan tanda-tanda alam. Kita harus peka saat hujan berkepanjangan, saat tanjakan makin labil, saat sungai mulai naik. Kita harus punya jejaring sosial yang peduli, punya komunitas siaga, punya gotong royong dalam pemulihan dan pencegahan.
Jika kita ingin memperbaiki masa depan, kita harus mulai sekarang. Kita harus melindungi alam dengan mengakuinya sebagai bagian dari kehidupan kita. Bukan sumber daya semata yang bisa dieksploitasi. Bukan objek yang bisa dipaksa sesuai keinginan. Krisis iklim bukan mitos atau wacana jauh. Krisis hadir nyata di depan mata kita.
Ketika tanah longsor menelan rumah, ketika hutan digunduli, ketika satwa liar perlahan hilang. Jika kita diam, generasi mendatang hanya akan mewarisi duka dan penyesalan. Sedikit gerakan dari banyak orang lebih kuat daripada banyak janji dari sedikit orang. Mari kita bangun sikap peduli. Mari kita rawat alam ini untuk kita dan masa depan.
Baca juga: Prabowo Singgung Pembabatan Hutan Saat Bicara Banjir dan Longsor di Aceh hingga Sumbar
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya