Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang

Kompas.com, 6 Desember 2025, 17:57 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pengembangan taman bumi (geopark) bisa menjadi strategi inovatif untuk memperkuat daya dukung lingkungan.

Adapun geopark adalah kawasan geografis terpadu dengan warisan geologi dan budaya bernilai tinggi yang melindungi keanekaragaman hayati. Pengembangan geopark dapat dilakukan melalui geowisata yang berkelanjutan sehingga bisa mengembangkan perekonomian tanpa merusak alam.

Baca juga:

Potensi UNESCO Global Geopark di Indonesia

Indonesia bisa jadi negara dengan UNESCO Global Geopark terbanyak di dunia

Indonesia berpeluang jadi negara dengan geopark terbanyak di dunia. Pengembangan geopark dinilai bisa memperkuat ekonomi dan perlindungan alam.Dok. Kemenpar Indonesia berpeluang jadi negara dengan geopark terbanyak di dunia. Pengembangan geopark dinilai bisa memperkuat ekonomi dan perlindungan alam.

Pengembangan geopark dengan pendekatan pariwisata akan diarahkan untuk mengedepankan edukasi, memberdayakan masyarakat, serta mencegah terjadinya permasalahan lingkungan yang sering terjadi.

Geopark Raja Ampat yang telah ditetapkan sebagai United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) Global Geopark (UGGp) dapat menjadi contoh modelnya.

Saat ini, terdapat 241 UGGp yang tersebar di 51 negara. Indonesia memiliki 12 UGGp, mendudukannya di posisi ketiga terbanyak di dunia atau setara dengan Italia. Indonesia hanya kalah dari China dengan 49 UGGp dan Spanyol 18 UGGp.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy meyakini Indonesia berpotensi menjadi negara dengan UGGp terbanyak di dunia.

"Kalau nanti kita mencatat geopark-geopark yang belum terdaftar, seharinya kita (punya) lebih banyak lagi. Memang ambisi kita sepertinya melampaui angka-angka yang ada. Kalau saja geopark yang terdaftar (hanya) dari (negara-negara di) wilayah tropis maka kita akan nomor satu di dunia," jelas Rachmat dalam webinar, Rabu (4/12/2025).

"Apalagi, kalau nanti kami daftarkan lagi geopark yang belum kita temukan, kita pasti (punya) geopark paling banyak di dunia," tambah dia.

Baca juga: UNESCO Validasi Ulang Status Geopark 2 Gunung di NTB

Geopark memerlukan kolaborasi multi-pihak

Pemandangan dari atas mercusuar di Pulau Lengkuas. Indonesia berpeluang jadi negara dengan geopark terbanyak di dunia. Pengembangan geopark dinilai bisa memperkuat ekonomi dan perlindungan alam.KOMPAS.com/Hotria Mariana Pemandangan dari atas mercusuar di Pulau Lengkuas. Indonesia berpeluang jadi negara dengan geopark terbanyak di dunia. Pengembangan geopark dinilai bisa memperkuat ekonomi dan perlindungan alam.

Geopark tersebut ternyata tidak hanya warisan alam dan budaya, tapi juga warisan kombinasi antara budaya dan alam, yang sudah seharusnya dijaga.

Di sisi lain, geopark perlu dikembangkan sebagai laboratorium alam terbuka untuk literasi lingkungan dan budaya bagi generasi penerus bangsa. Geopark dapat menjadi aset masa depan yang dinamis bagi Indonesia.

Indonesia mempunyai keragaman geologi yang sangat unik, mengingat letak geografisnya yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama (Eurasia di utara, Indo-Australia di selatan, dan Pasifik di timur).

Kondisi tersebut menjadikan Indonesia rawan terhadap gempa bumi, tsunami, serta aktivitas vulkanik.

Namun, kondisi tersebut juga menyebabkan Indonesia memiliki mega keanekaragaman hayati dan potensi geopark yang belum tercatat.

Menurut Rachmat, pengembangan geopark bertumpu pada kolaborasi multipihak antara pemerintah, swasta, dan akademisi dalam mendorong transformasi yang berdampak luas.

Pengembangan geopark membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dalam penguatan tata kelola, pendanaan, dan sumber daya manusia (SDM).

"Geopark ini ternyata bukan hanya warisan alam, bukan hanya warisan budaya, tetapi juga warisan kombinasi antara budaya dan alam, dan yang seharusnya bukan hanya kita jaga untuk generasi sekarang, tapi juga untuk generasi masa mendatang," tutur Rachmat.

Baca juga: Gunung Ditutup karena Sampah: Cermin Buram Wisata Alam Kita

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau