Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Implementasi B10 Hemat Rp 100 T Per Tahun, Ini Strategi Pertamina agar Pasokan Stabil

Kompas.com, 9 Desember 2025, 13:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertamina memperkirakan Indonesia berpotensi menghemat sekitar Rp 100 triliun per tahun jika kebijakan mewajibkan pencampuran 10 persen etanol ke dalam bensin (E10) terlaksana.

Bahkan, jika skenario mewajibkan pencampuran 50 persen etanol ke dalam bensin (E50) terlaksana, potensi penghematan disebut mencapai Rp 500 triliun. Penghematan tersebut berpotensi meningkatkan perputaran uang dalam negeri.

Baca juga:

"Karena impor (BBM) kita hampir Rp 500 triliun per tahun, artinya itu setengah dari volume BBM kita. Kalau kita bisa E10 saja untuk semua program, berarti 20 persen atau sekitar Rp 100 triliun yang bisa kita hemat dari mengurangi impor," kata VP of Techonolgy & Engineering PT Pertamina Power Indonesia, Nanang Kurniawan di Jakarta, Senin (9/12/2025).

Selain potensi penghematan, implementasi bioetanol juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Bahkan, dalam skenario implementasi pencampuran lima persen etanol ke dalam bensin (E5) saja, kata dia, bisa mengurangi emisi GRK sebesar 2 juta tCO2 (total karbon dioksida) per tahun pada 2034.

Baca juga:

Integrasi untuk kembangkan ekosistem bioetanol di Indonesia

Indonesia pernah menerapkan kebijakan pencampuran bioetanol sejak 2006. Namun, kebijakan tersebut terhenti akibat volatilitas harga bahan baku (feedstock).

Meski saat ini dukungan terhadap bioetanol lebih jelas, pasokan bahan baku masih belum stabil.

Menurut Nanang, perlu integrasi dari hulu ke hilir untuk mengembangkan ekosistem bioetanol di Indonesia yang berkelanjutan.

Pertamina akan membangun ekosistem bioetanol dari hulu ke hilir melalui kolaborasi lintas sektor (kampus, pertanian, dan industri) untuk memperkuat riset, pengembangan teknologi, produktivitas bahan baku, serta kesiapan adopsi secara nasional.

Pertamina akan memberlakukan strategi multifeedstock dalam implementasi bioetanol. Penggunaan multifeedstock bersifat krusial untuk menjamin pasokan bahan baku yang stabil.

Baca juga:

Kriteria multifeedstock untuk bioetanol

Ilustrasi sorgum. Indonesia berpotensi menghemat sekitar Rp 100 triliun per tahun bila pencampuran 10 persen etanol ke bensin (E10) terlaksana. Apa strategi Pertamina?PIXABAY/VIJAYANARASIMHA Ilustrasi sorgum. Indonesia berpotensi menghemat sekitar Rp 100 triliun per tahun bila pencampuran 10 persen etanol ke bensin (E10) terlaksana. Apa strategi Pertamina?

Indonesia memiliki banyak potensi feedstock bioetanol, seperti tebu, sorgum, aren, jagung, dan singkong. Namun, terdapat beberapa kriteria multifeedstock untuk bioetanol.

Pertama, penggunaan bahan baku tidak menimbulkan persaingan dengan pangan. Kedua, tidak mengganggu penggunaan lahan produktif untuk komoditas lain.

Ketiga, sinergi dengan rencana pemerintah dalam swasembada gula dan bidang pengembangan lainnya. Keempat, memberikan nilai yang optimal bagi stakeholder.

Pertamina akan mengoptimalisasinya dari pabrik-pabrik yang sudah eksis, dengan potensi 1,7 juta ton molase (produk samping industri gula) per tahun.

Di sisi lain, produksi bioetanol juga berpotensi naik berlipat ganda kalau ada perluasan lahan (ekstensifikasi) dan peningkatan produktivitas (intensifikasi) pertanian yang menghasilkan bahan bakunya.

"Kami akan membangun pabrik yang baru, kemudian sejalan dengan itu, kami mencoba melihat feedstok-feedstok yang lain untuk mempercepat target setidaknya 10 persen etanol, (karena) 50 persen etanol masih jauh," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau