Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Proyek Bioetanol Kurang Libatkan Petani, Intensifikasi Lahan Perkebunan Belum Optimal

Kompas.com, 9 Desember 2025, 11:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembangunan industri bahan bakar nabati atau biofuel di Indonesia dinilai masih mengabaikan petani.

Sektor hulu sebagai penyedia bahan baku untuk bioetanol didominasi oleh pertanian rakyat dengan komoditas tebu, singkong, atau sorgum. Namun, kegiatan produksi, distribusi, dan pemanfaatan bioetanol pada sektor hilir dikelola oleh perusahaan skala besar.

Baca juga:

Petani belum jadi aktor sentral bioetanol di Indonesia

Petani belum menjadi aktor sentral yang harus memperoleh nilai tambah optimal dari rantai pasok bioetanol.

Padahal, keberhasilan pembangunan industri bioetanol tidak hanya diukur dari volume produksinya saja. Keberhasilan pembangunan industri bioetanol juga diukur dari dampak sosio-ekonominya terhadap petani.

Peneliti dari Pusat Studi Energi UGM, Irham menilai, persaingan kepentingan antara pangan dengan energi atau bioetanol dari tebu tergolong kecil. Yang diolah menjadi bioetanol dari tebu adalah produk sampingannya (byproduct) yaitu molase atau tetes tebu dan bagasse atau ampas tebu.

"Jadi begitu bioetanol ini kita leverage (perbesar daya ungkitnya atau potensi keuntungan), ya otomatis petani akan senang. Karena molasenya itu bisa dibeli dengan harga yang lebih tinggi," ujar Irham di Jakarta, Senin (8/11/2025).

Ia mengkritik cara berpikir ekstensifikasi atau perluasan lahan perkebunan tebu oleh pemerintah untuk peningkatan produksi bioetanol. Menurut dia, intensifikasi lahan perkebunan tebu di Indonesia saja sampai sekarang belum dioptimalkan.

"Potensi fakta tebu kita hanya sepertiganya saja (yang dimanfaatkan), kenapa tidak kita tingkatkan, terutama (perkebunan) milik petani. Singkong juga sama, (hanya) sepertiga dari potensi, bibit, varietasnya, dan seterusnya itu tidak (sesuai) standar," tutur Irham.

Baca juga:

Kesenjangan pengetahuan para petani yang harus diisi

Bulir sorgum.KOMPAS.com/HERU DAHNUR Bulir sorgum.

Petani menanam tebu dengan cara di-ratoon atau dibiarkan tumbuh kembali usai panen. Saat ratoon dilakukan terus-menerus, hasil rendaman dari tebu sangat rendah.

Menurut Irham, tingkat pendidikan petani di Indonesia relatif rendah sehingga sistem penyuluhan untuk meng-upgrade pengetahuan perlu diperkuat.

Ia berharap setiap perusahaan mempunyai penyuluh yang mampu menjelaskan untung-rugi dan peluang-risiko moral hazard menjadi bagian dari rantai pasok bioetanol.

Irham menganggap kesenjangan pengetahuan petani dalam mengoptimalkan pemanfaatan potensi tebu, singkong, dan sorgum untuk bioetanol perlu diakhiri.

"Gimana para penyuluh sekarang sudah melempem, itulah kenapa petani tidak pernah di-upgrade. Gap knowledge di tebu dan singkong juga besar, apalagi di sorgum," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Pemerintah
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau