JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bioetanol dari aren untuk campuran bahan bakar bisa menjawab kebutuhan BBM bersih di Tanah Air. Hal ini disampaikan Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menyusul peresmian etanol dari aren oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
“Hasil kajian BRIN di laboratorium menunjukkan bahwa penggunaan bioetanol pada kendaraan sebagai campuran, misalnya E5 atau E10 telah terbukti dapat menurunkan emisi gas buangnya kendaraan,” ujar Cuk Supriyadi saat dihubungi, Selasa (25/11/2025).
Menurut dia, apabila bioetanol yang dihasilkan telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, maka aman untuk digunakan kendaraan. Kendati demikian, penggunaan aren sebagai bahan baku bioetanol harus dipastikan tidak mengandung impuritis.
Baca juga: Biasanya Jadi Gula, Kini Pertamina Pikirkan Ubah Aren Jadi Bioetanol
“Sehingga disarankan untuk diuji dahulu karakteristiknya serta dampaknya melalui uji performa mesin,” papar dia.
Sejauh ini Kemenhut tengah melakukan pemetaan dan pembudidayaan aren. Cuk Supriyadi menekankan, teknologi pasca panen perlu dikaji untuk meminimalkan pengeluaran produksi.
“Oleh karena itu BRIN bersama Pertamina New and Renewable Energy bekerja sama dalam pengembangan bioetanol berbasis aren yang terintegrasi dengan panas bumi,” jelas Cuk Supriyadi.
Diberitakan sebelumnya, Kemenhut meresmikan Pilot Bioethanol Aren di lingkungan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, Jawa Barat.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyebut peresmian tersebut merupakan tonggak penting dalam mempercepat pengembangan bioenergi hijau berbasis aren yang sejalan dengan agenda transisi energi pemerintah.
Baca juga: Akademisi UI: Produksi Etanol untuk BBM Tak Ganggu Ketersediaan Pangan
“Dengan produktivitasnya yang tinggi dan ketersediaannya yang stabil, aren dapat menjadi salah satu pilar pemenuhan kebutuhan bioetanol nasional. Ketika nilai ekonominya meningkat, masyarakat akan memiliki insentif kuat menjaga tutupan hutan dan mencegah alih fungsi lahan,” ucap Raja Juli, dalam keterangannya, Rabu (19/11/2025).
Aren adalah salah satu komoditas paling potensial untuk menopang kebutuhan bioetanol nasional, karena bisa tumbuh baik hutan ataupun lereng.
Proses produksi bioetanol aren mulai dari penyadapan nira, pengolahan, hingga menjadi produk bioetanol. Campuran bahan bakar nabati itu kini siap diuji dan dimanfaatkan masyarakat.
Inovasi ini memanfaatkan nira aren sebagai bahan baku, dengan kapasitas produksi sekitar 300 liter bioetanol per hari dan 300-500 kilogram nira aren per hari. 1 hektare lahan aren dapat menghasilkan 24.000 liter etanol per tahun.
Nira aren yang digunakan berasal dari hutan aren yang dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Baru Bojong di Desa Bojong, Garut.
Program itu bekerja sama dengan Pertamina, Pertamina New & Renewable Energy, Pertamina Geothermal Energy, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan tim percepatan aren yang dipimpin Penasehat Utama Menhut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya