Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?

Kompas.com, 15 Desember 2025, 10:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KALIMANTAN TENGAH, KOMPAS.com - Triputra Agro Persada Group (TAPG) melalui anak usahanya, PT Sukses Karya Mandiri (SKM) mengembangkan model kemitraan inti-plasma satu atap di Desa Laman Baru, Kecamatan Permata Kecubung, Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah.

Dalam model ini, PT SKM (inti) mengelola lahan petani sawit rakyat (plasma) yang diserahkan melalui Koperasi Jati Sejahtera (JS). PT SKM bertanggung jawab penuh dari persiapan lahan, pembibitan, pemupukan, pengendalian hama, pemanenan, hingga pemasaran.

Baca juga: 

Mengelola lahan petani sawit rakyat

Petani sawit rakyat, yang tergabung dalam koperasi JS, hanya berkewajiban menjual seluruh tandan buah segar (TBS) mereka kepada PT SKM. Setiap bulan, petani sawit rakyat akan menerima hasil Sisa Hasil Usaha (SHU) yang sudah dikurangi biaya operasional perawatan lahan perkebunan. SHU yang diperoleh anggota petani disebut sekitar Rp 2-3 juta per hektar, tergantung kinerja blok dan periode panen.

Berdasarkan data koperasi JS, total lahan petani rakyat yang dikelola PT SKM mencapai 282,43 hektar. Lahan yang digarap 39 tenaga kerja tersebut, terbagi dalam 47 blok dan mulai ditanami kelapa sawit pada periode tahun 2017-2018.

"Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per hektar. Itu yang kami bagikan untuk ke masing-masing anggota. Total ada sekitar 130 orang," ujar Sekretaris Koperasi Jati Sejahtera, Plasma PT SKM, Indra Ayu Riantika, Rabu (10/12/2025).

Koperasi JS mencatat SHU tertinggi pada Januari-Februari 2025 sebesar Rp 7,5 juta (Rp 7.503.057,69).

Kemudian disusul Rp 6,9 juta (Rp 6.934.244,04) pada Mei-Juni 2025; Rp 6,2 juta (Rp 6.230.866,81) pada Maret-April 2025; Rp 5,6 juta (Rp 5.611.033,95) pada Juli-Agustus 2025; serta Rp 4 juta (Rp 4.067.436,91) pada September-Oktober 2025.

Porsi pemotongan terbesar SHU dari biaya pemupukan

Model kemitraan satu atap PT SKM di Kalimantan Tengah melibatkan petani sawit rakyat, dengan pengelolaan profesional dan efisiensi biaya pupuk.freepik.com Model kemitraan satu atap PT SKM di Kalimantan Tengah melibatkan petani sawit rakyat, dengan pengelolaan profesional dan efisiensi biaya pupuk.

Menurut Estate Manager PT SKM, Syahrial Purba, porsi pemotongan terbesar SHU berasal dari biaya operasional pemupukan.

Manajemen pemupukan memang perlu diperhatikan untuk menghemat pengeluaran, mengingat biaya operasionalnya terbesar dari total produksi. Tim research and development (R&D) menghitung waktu, lokasi, dan dosis pemupukan secara presisi.

"Pupuk kimia kan sudah jelas NPK-nya (kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium), ada kadarnya. Itu bisa dihitung," tutur Syahrial.

PT SKM juga menghemat biaya operasional pemupukan dengan menggunakan pupuk organik dari mengelola limbah cair kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME). Pupuk organik tersebut mengurangi biaya operasional pemupukan hingga 30 persen.

"Kalau bergantung dengan pupuk organik itu tidak akan mencukupi," ucapnya.

Dari segi produktivitas dalam menghasilkan TBS, data koperasi JS melaporkan adanya peningkatan yield per hectar (YPH), dari 14,26 ton per hektar pada 2022, menjadi 21,37 ton per hektar tahun 2025. PT SKM menargetkan YPH pada 2026 mencapai 26 ton per hektar.

Baca juga:

Ekspansi plasma

Sebagai bagian dari ekspansi plasma, PT SKM baru saja menyelesaikan pembukaan lahan (land clearing) dan penanaman baru seluas 7,70 hektar.

Perluasan itu seiring sejalan dengan semakin banyaknya anggota-anggota koperasi JS menyetorkan lahannya yang termasuk di dalam pemetaan plasma PT SKM.

Jenis tanah lahan perkebunan sawit plasma 100 persen mineral. Secara topografi, sekitar 41 persen lahan perkebunan sawit plasma bertanah datar dan 59 persen bergelombang.

PT SKM menolak lahan bernilai konservasi tinggi (high conservation value/HCV) yang disetorkan petani sawit rakyat melalui koperasi JS.

PT SKM telah mengantongi sertifikasi Indonesia Sustainbale Palm Oil (ISPO) yang menuntutnya untuk mengidentifikasi dan memantau untuk memastikan kelestarian lahan HCV.

Di sisi lain, PT SKM sebagai inti tidak akan melakukan land clearing, mengikuti aturan moratorium sawit. PT SKM hanya akan melakukan peremajaan (replanting) kelapa sawit.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau