Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tekan Emisi, Anak Usaha TAPG Olah Limbah Cair Sawit Jadi Listrik dan Pupuk Organik

Kompas.com, 12 Desember 2025, 11:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KALIMANTAN TENGAH, KOMPAS.com - PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) melalui salah satu anak usahanya, PT Sukses Karya Mandiri (SKM) disebut mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari limbah cair industri pengolahan kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME) dengan mengubahnya menjadi listrik dan pupuk organik.

Biogas Plant PT SKM mengurangi emisi GRK dari 930.000 ton CO2e per tahun, menjadi 75.000 ton CO2e. Angka tersebut belum termasuk pengurangan emisi GRK dari peralihan pemakaian energi dari genset diesel ke pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).

Baca juga: 

PLTBg tersebut berkapasitas dua megawatt (MW), dengan sebagian besar dimanfaatkan untuk menyuplai kebutuhan energi pabrik pengolahan inti sawit (kernel crushing plant). Secara total, pemanfaatan listrik dari PLTBg sekitar 1,6 MW atau setara konsumsi solar 160 liter per jam.

Sebagai emisi GRK, yang jauh lebih kuat dari CO2, metana dari pome perlu diolah karena berbahaya bagi lingkungan. PT SKM mengoperasikan Biogas Plant sebagai nilai tambah dari upaya perusahaan dalam memenuhi standar Biological Oxygen Demand (BOD) demi menjaga kesehatan lingkungan.

Proses ubah gas jadi listrik

Sebagai produk samping (byproduct) dari pabrik pengelolaan sawit, POME hanya bahan organik dengan suhu mencapai 60-70 derajat celsius. Untuk mendinginkannya, POME ditampung dalam Cooling Pond hingga suhunya hanya 45-50 derajat celsius.

Sebelum dibawa ke Biodigester, POME harus diproses terlebih dahulu di Mixing Tank untuk menyeragamkan pH dan kandungan lainnya.

Baca juga: Jangan Tunggu Gas Langka, Rumah Tangga Bisa Manfaatkan Sampah Organik Jadi Biogas

Mixing Tank berfungsi untuk menyeragamkan pH dan kandungan lain dalam limbah cair industri kelapa sawit agar bakteri tidak mati selama proses penangkapan gas metana dalam Biodigester.Kompas.com/Manda Firmansyah Mixing Tank berfungsi untuk menyeragamkan pH dan kandungan lain dalam limbah cair industri kelapa sawit agar bakteri tidak mati selama proses penangkapan gas metana dalam Biodigester.

"Baru dicampur dengan yang dari Cooling Pond tadi. Dicampur dulu, supaya dia lebih mendekati komposisi yang ada di dalam. Jadi supaya tidak terkaget bakterinya," ujar Mill Manager PT SKM, Roganda Sitorus di Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, Rabu (10/12/2025).

Di dalam Biodigester, gas ditangkap dan limbah akhir dari POME yang tidak dapat dikelola dibuang melalui pompa outlet. Limbah tersebut memiliki kandungan BOD sebesar 5.000 miligram per liter. 

Namun, bila belum sesuai standar kandungan BOD untuk limbah kelapa sawit atau harus di bawah 3.000 miligram per liter, perlu diturunkan terlebih dahulu sebelum dibawa ke Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).

"(Setelah dari IPAL) Itulah yang dikirim ke lahan aplikasi perkebunan sawit sebagai pupuk organik," tutur Roganda.

Menurut Roganda, gas yang dikelola melalui Biogas Plant itu sebenarnya belum murni metana atau kandungannya hanya 55 persen. Di dalam gas, masih ada H2S, CO2, dan oksigen.

Gas yang akan dikonversi menjadi listrik dengan mesin turbin harus memenuhi baku mutu. Untuk mencapai baku mutu yang dapat ditoleransi, gas perlu melewati proses pada Scrubber. Fungsi paling penting dari Scrubber adalah menurunkan nilai H2S.

Selain Scrubber, gas harus diproses juga pada Chiller & Heat Exchanger untuk menurunkan kelembapan. Scrubber dan Chiller & Heat Exchanger merupakan proses treatment khusus agar gas untuk menghasilkan listrik tidak rusak.

Jika produksi berlebihan, gas, yang biasanya disalurkan ke Gas Engine untuk menghasilkan listrik, dialihkan ke Flare.

"Ini jarang terjadi, tapi daripada gas metana terbuang ke alam, lebih baik dibakar (secara) sempurna di Flare. Itu sudah tidak menyisakan metana dan CO2," ucapnya.

Baca juga: Kelola Kotoran Ternak Jadi Biogas Bisa Kurangi Emisi hingga 80 Persen

Flare berfungsi untuk membakar secara sempurna kelebihan suplai gas metana yang tidak mampu diolah gas engine menjadi listrik. Kompas.com/Manda Firmansyah Flare berfungsi untuk membakar secara sempurna kelebihan suplai gas metana yang tidak mampu diolah gas engine menjadi listrik.

Pupuk organik

Limbah sisa dari POME yang tidak bisa dikelola lagi menjadi listrik masih mengandung bahan organik. Maka, limbah sisa tersebut dikirimkan ke IPAL untuk kemudian dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

"Di lapangan, pupuk organik tersebut bukan disiram-siram, melainkan ditaruh secara berotasi atau bergantian pada kolam-kolam yang dibuat rapi di perkebunan sawit," ujar Roganda.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau