Dari data pemantauan, kadar pH, kekeruhan, dan logam terlarut pada air hasil pengelolaan tersebut tercatat telah memenuhi baku mutu.
“Hasil ini menandakan bahwa sistem (pengelolaan air) berjalan efektif,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa risiko pencemaran tetap ada, terutama akibat faktor cuaca ekstrem, perubahan kondisi geoteknik, atau gangguan operasional yang tidak terduga.
Seperti diketahui, Pulau Obi berada di wilayah beriklim basah dengan curah hujan rata-rata sekitar 3.000 mm per tahun. Wilayah ini juga berpotensi mengalami cuaca ekstrem yang dapat dengan cepat mengubah karakter limpasan.
Oleh karena itu, kata Sonny, sistem pengelolaan air harus dievaluasi dan disesuaikan dengan dinamika lingkungan agar tetap efektif dan setiap penyimpangan dapat segera dikoreksi.
Kualitas air yang baik di area pertambangan Harita Nickel tidak terlepas dari pengelolaan air berlapis melalui kolam pengendapan (sediment pond) bertingkat untuk menurunkan kekeruhan sebelum air mengalir ke badan air.
Air hujan yang jatuh di area tambang dipisahkan sejak awal antara yang bersentuhan langsung dengan area operasi dan yang tidak.
Air yang berpotensi membawa sedimen dialirkan ke serangkaian kolam pengendapan bertingkat. Sistem pengendapan raksasa ini mampu memperlambat sekaligus mengurangi energi limpasan sehingga mengendapkan lumpur secara bertahap sebelum akhirnya keluar dalam keadaan jernih.
Hal tersebut dilakukan agar air yang keluar dari tambang bisa dikembalikan ke alam dalam kualitas yang baik dengan derajat keasaman (pH) normal antara 7 sampai 8.
Baca juga: Demi Tembus Pasar AS dan Eropa, Harita Nickel (NCKL) Jalani Audit Terketat di Dunia
Untuk memperkuat sistem itu, juga mengembangkan inovasi berupa mekanisme cerdas yang dirancang khusus untuk mencegah air keruh dari area tambang mengalir langsung ke laut.
Avatar bekerja seperti pengatur arus yang menahan limpasan air berlebih saat hujan ekstrem. Lalu, mengalirkannya perlahan agar kolam pengendapan dapat bekerja optimal.
Teknologi itu menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadapi dinamika cuaca tropis di Pulau Obi yang kerap berubah dalam hitungan jam.
Selain kolam, juga dilakukan pemantauan dan pemeriksaan kualitas air melalui laboratorium independen terakreditasi.
Tak hanya menjaga kualitas air yang masuk ke laut, tim Harita Nickel juga secara berkala mengecek kondisi pH air laut, oksigen terlarut, kejernihan, suhu permukaan, serta ekologi perairan, seperti biota perairan termasuk plankton dan terumbu karang.
Hasil pemantauan kualitas air laut kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu yang ditetapkan, yakni batas pH 6,5–8,5, TSS < 80 mg/L, DO ≥ 5 mg/L, serta logam berat terlarut, seperti nikel, mangan, besi, timbal, dan merkuri. Seluruh hasil pengujian dilaporkan secara daring melalui Sistem Pelaporan SIMPEL KLH milik Kementerian Lingkungan Hidup.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya