Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT HILIRISASI

Pengamat: Pengelolaan Air Jadi Kunci Praktik Pertambangan Berkelanjutan

Kompas.com, 24 Desember 2025, 18:03 WIB
ADW,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Praktik pertambangan yang baik atau good mining practice (GMP) sudah menjadi keniscayaan di sektor ekstraksi. Bukan lagi sekadar daftar cek, GMP adalah disiplin teknis yang mengikat perusahaan sejak perencanaan hingga pascatambang.

Salah satu payung hukum yang menaunginya adalah Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 26 Tahun 2018 yang menegaskan pelaksanaan kaidah pertambangan yang baik dan pengawasan rutin oleh Inspektur Tambang.

Standar teknis GMP dirinci dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1827K/30/MEM/2018. Dokumen pedoman ini mengatur struktur keselamatan, tata kelola operasional, hingga aspek lingkungan, termasuk kewajiban mengelola air, sedimen, dan potensi air asam tambang secara preventif dan terukur.

Pada level perizinan, kewajiban GMP terhubung dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 96 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang kemudian diperbarui oleh PP Nomor 25 Tahun 2024.

Baca juga: Harita Nickel Penuhi Standar Kualitas Air Tanah di Kawasan Industri

Pada aspek rehabilitasi lahan, PP Nomor 78 Tahun 2010 mewajibkan reklamasi dan pascatambang disiapkan sejak awal operasi, lengkap dengan jaminan keuangan. Di dalamnya, pengelolaan air menjadi bagian integral, mulai dari pengendalian limpasan hingga stabilisasi timbunan. 

Air limpasan akan diolah terlebih dahulu di kolam pengendapan untuk memenuhi baku mutu sebelum dilepaskan ke lingkungan.

Tata kelola air yang krusial

Salah satu jantung GMP adalah tata kelola air (water management). Pedoman resmi GMP menempatkan pengelolaan air sebagai inti praktik, mulai dari pemisahan aliran air kontak dan non-kontak, desain drainase dan kolam pengendapan (sediment pond), serta pengelolaan dan pemantauan kualitas sebelum air dilepas ke badan air sesuai dengan Persetujuan Lingkungan dan Sertifikat Layak Operasi (SLO)

Pakar hidrologi dan dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr Muhammad Sonny Abfertiawan mengatakan, secara prinsip, pendekatan water management di area tambang harus bersifat preventif dan adaptif.

Kolam sedimentasi yang dikelola Harita Nickel di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.DOK. HARITA NICKEL Kolam sedimentasi yang dikelola Harita Nickel di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

“Preventif berarti memisahkan aliran sejak awal melalui penyaliran terpisah. Sementara, adaptif artinya mengendalikan dan mengolah air tambang sebelum dialirkan ke badan air penerima,”  jelasnya seperti dikutip dari artikel kolom di Kompas.com, Kamis (13/11/2025).

Kedua pendekatan tersebut, imbuhnya, menuntut konsistensi teknis dan komitmen jangka panjang dari perusahaan tambang sejak tahap pra-penambangan atau sebelum operasi penambangan dimulai. 

Tidak hanya itu, diperlukan pula sistem pemantauan kualitas air yang berkelanjutan serta evaluasi rutin (continuous improvement) berbasis data ilmiah.

Hal tersebut penting karena tambang di Indonesia umumnya menggunakan metode tambang terbuka (open cast mining) yang dipengaruhi kondisi iklim tropis. 

Pengelolaan air di Obi

Operasi tambang nikel yang berada di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, itu dikelola oleh PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel).

Untuk memastikan pengelolaan air yang dilakukan berjalan baik, Harita Nickel mengelola seluruh  area tangkapan air (catchment) dengan membangun check dam dan sediment pond

Titik keluaran (outlet) fasilitas tersebut telah ditetapkan sebagai titik penaatan dan dilengkapi sistem SPARING yang terhubung real-time ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) serta dipantau kualitas airnya secara rutin.

Baca juga: Harita Raih Penghargaan Kementerian ESDM Bidang Pendidikan dan Kesehatan

Dari data pemantauan, kadar pH, kekeruhan, dan logam terlarut pada air hasil pengelolaan tersebut tercatat telah memenuhi baku mutu.

“Hasil ini menandakan bahwa sistem (pengelolaan air) berjalan efektif,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa risiko pencemaran tetap ada, terutama akibat faktor cuaca ekstrem, perubahan kondisi geoteknik, atau gangguan operasional yang tidak terduga.

Seperti diketahui, Pulau Obi berada di wilayah beriklim basah dengan curah hujan rata-rata sekitar 3.000 mm per tahun. Wilayah ini juga berpotensi mengalami cuaca ekstrem yang dapat dengan cepat mengubah karakter limpasan.

Oleh karena itu, kata Sonny, sistem pengelolaan air harus dievaluasi dan disesuaikan dengan dinamika lingkungan agar tetap efektif dan setiap penyimpangan dapat segera dikoreksi.

Mekanisme “Avatar”

Kualitas air yang baik di area pertambangan Harita Nickel tidak terlepas dari pengelolaan air berlapis melalui kolam pengendapan (sediment pond) bertingkat untuk menurunkan kekeruhan sebelum air mengalir ke badan air.

Air hujan yang jatuh di area tambang dipisahkan sejak awal antara yang bersentuhan langsung dengan area operasi dan yang tidak.

Air yang berpotensi membawa sedimen dialirkan ke serangkaian kolam pengendapan bertingkat. Sistem pengendapan raksasa ini mampu memperlambat sekaligus mengurangi energi limpasan sehingga mengendapkan lumpur secara bertahap sebelum akhirnya keluar dalam keadaan jernih.

Hal tersebut dilakukan agar air yang keluar dari tambang bisa dikembalikan ke alam dalam kualitas yang baik dengan derajat keasaman (pH) normal antara 7 sampai 8.

Baca juga: Demi Tembus Pasar AS dan Eropa, Harita Nickel (NCKL) Jalani Audit Terketat di Dunia

Untuk memperkuat sistem itu, juga mengembangkan inovasi berupa mekanisme cerdas yang dirancang khusus untuk mencegah air keruh dari area tambang mengalir langsung ke laut.

Avatar bekerja seperti pengatur arus yang menahan limpasan air berlebih saat hujan ekstrem. Lalu, mengalirkannya perlahan agar kolam pengendapan dapat bekerja optimal.

Teknologi itu menjadi bagian dari upaya perusahaan menghadapi dinamika cuaca tropis di Pulau Obi yang kerap berubah dalam hitungan jam.

Selain kolam, juga dilakukan pemantauan dan pemeriksaan kualitas air melalui laboratorium independen terakreditasi.

Memelihara ekosistem laut

Tak hanya menjaga kualitas air yang masuk ke laut, tim Harita Nickel juga secara berkala mengecek kondisi pH air laut, oksigen terlarut, kejernihan, suhu permukaan, serta ekologi perairan, seperti biota perairan termasuk plankton dan terumbu karang. 

Hasil pemantauan kualitas air laut kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu yang ditetapkan, yakni batas pH 6,5–8,5, TSS < 80 mg/L, DO ≥ 5 mg/L, serta logam berat terlarut, seperti nikel, mangan, besi, timbal, dan merkuri. Seluruh hasil pengujian dilaporkan secara daring melalui Sistem Pelaporan SIMPEL KLH milik Kementerian Lingkungan Hidup.

Pemantauan tidak hanya mencakup kualitas air laut, tetapi juga kondisi sedimen, plankton, benthos, terumbu karang, dan ikan karang untuk memastikan ekosistem tetap terjaga.

Baca juga: Harita Nickel Dapat Penghargaan Bisnis dan HAM 2025 dari SETARA Institute

Sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem laut, Harita Nickel juga menebar reef cube yang berfungsi sebagai substrat pertumbuhan karang baru.

Inisiatif tersebut dapat membantu memulihkan habitat laut dan mengundang biota kembali ke perairan sekitar Pulau Obi.

Demi menguatkan komitmen, perusahaan juga telah mengajukan diri secara sukarela untuk diaudit secara independen oleh Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) pada 2024. Adapun IRMA Standard merupakan sertifikasi terketat di sektor tambang dan menjadi pengakuan global atas praktik tambang yang bertanggung jawab.

Menariknya, sebagian besar kebutuhan air untuk industri pertambangan Obi kini tak lagi bergantung pada air tawar. Lebih dari 90 persen air untuk operasional berasal dari laut, sedangkan sisanya dari air hujan yang ditampung dan didaur ulang.

“Pada akhirnya, menjaga air berarti menjaga kehidupan. Praktik GMP tidak hanya berbicara tentang efisiensi atau kepatuhan regulasi, tetapi tentang etika pengelolaan sumber daya alam. Pulau Obi memberi pelajaran penting bahwa dengan tata kelola air yang baik, kegiatan tambang berkelanjutan dapat berjalan berdampingan dengan kelestarian sumber air masyarakat,” tulis Sonny.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
LSM/Figur
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
LSM/Figur
Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Warga Diminta Jangan Gunakan Airnya
Sungai Cisadane Tercemar Pestisida, Warga Diminta Jangan Gunakan Airnya
Pemerintah
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Cuaca Indonesia Sulit Diprediksi, Apa PLTS Atap di Mall Masih Efektif?
Swasta
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025
LSM/Figur
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
6 Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Wehea-Kelay Kaltim Secara Berkelanjutan
LSM/Figur
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau