Kelima, belum adanya regulasi komprehensif, mulai dari pajak minuman bergula, pembatasan iklim makanan tidak sehat, pelabelan gizi yang jelas, hingga desain tata kota yang ramah aktivitas fisik.
Menurut Ade, intervensi obesitas berbasis individu, seperti diet dan olahraga, sering kali tidak efektif jika tidak dibarengi perubahan lingkungan. Pasalnya, tubuh memiliki mekanisme biologis untuk mempertahankan berat badan, sementara lingkungan obesogenik di Indonesia sudah terbentuk kuat.
Di sisi lain, upaya pencegahan obesitas melalui kebijakan publik dinilai masih lambat, bahkan kerap terhambat kepentingan industri makanan dan resistensi politik.
“Perubahan regulasi, termasuk pajak minuman manis, terutama di lingkungan sekolah, sangat penting untuk membentuk pola pikir anak sejak dini. Saat ini justru makanan sehat lebih mahal dibandingkan makanan obesogenik,” kata Ade.
Ia menambahkan, hingga kini belum ada negara yang berhasil menurunkan prevalensi obesitas secara nasional dalam jangka panjang. Obesitas terjadi baik di negara berpendapatan tinggi maupun rendah, dengan beban ekonomi yang sama-sama besar.
“Di negara berpendapatan rendah, bebannya bahkan berlapis karena selain obesitas, juga masih menghadapi masalah malnutrisi. Kondisi ini juga terjadi di Indonesia,” ujar Ade.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya