Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanasan Global Terjadi Lebih Cepat, Bisa Jadi Ancaman Ekonomi Dunia

Kompas.com, 16 Januari 2026, 19:58 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Kenaikan suhu global disebut terjadi lebih cepat daripada prediksi sebelumnya dan bisa berdampak terhadap perekonomian, menurut laporan dari Institute and Faculty of Actuaries (IFoA) dan University of Exeter, Inggris. 

Bila tak ada tindakan untuk mencegahnya, kemungkinan suhu bumi bisa mencapai dua derajat di atas level pra-industri sebelum tahun 2050. Akibatnya, bencana bisa merugikan masyarakat dan ekonomi di dunia, termasuk gangguan pada sistem air, pangan, migrasi, dan kesehatan. 

Baca juga: 

"Jika kita tidak segera mengubah arah, kerusakan akibat perubahan iklim akan mulai memengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan masa depan," ucap penulis utama dan anggota dewan keberlanjutan IFoA, Sandy Trust, dikutip dari Euronews, Jumat (16/1/2026).

Pembuat kebijakan dan lembaga keuangan dinilai masih meremehkan risiko iklim.

Padahal krisis iklim bisa merusak sistem keuangan global, inflasi, serta mundurnya perusahaan asuransi dari wilayah berisiko tinggi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan banyak orang.

"Kesamaan antara kegagalan manajemen risiko dalam Krisis Keuangan Global dan ketidakberdayaan dalam menangani risiko sistemik besar yang ditimbulkan oleh perubahan iklim sangat jelas. Keduanya ditandai dengan ketergantungan berlebihan pada hasil model risiko yang dianggap aman dan kegagalan dalam memahami risiko sistemik," jelas Trust.

Baca juga:

Risiko pemanasan global terhadap perekonomian

Guncangan iklim bisa bikin PDB global turun hingga 20 persen

Laporan menyebut kenaikan suhu bumi bisa tembus dua derajat celsius sebelum 2050. Dampaknya mengancam ekonomi global hingga sistem keuangan.KOMPAS.com/CAROLUS DORI Laporan menyebut kenaikan suhu bumi bisa tembus dua derajat celsius sebelum 2050. Dampaknya mengancam ekonomi global hingga sistem keuangan.

Perkiraan sebelumnya menyatakan bahwa kerugian akibat iklim hanya sebesar 2,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global untuk kenaikan suhu sebesar tiga derajat celsius, serta kurang dari delapan persen dari PDB global untuk kenaikan sebesar enam derajat celsius.

Namun, analisis terbaru dari Climate Financial Risk Forum (Forum Risiko Finansial Iklim) Inggris menunjukkan, perusahaan perlu mempertimbangkan skenario guncangan iklim dan alam yang parah yang menyebabkan penyusutan PDB global sebesar 15 hingga 20 persen, dalam periode lima tahun.

Para peneliti menambahkan, lonjakan besar tersebut terjadi karena banyak prakiraan ekonomi tidak memasukkan risiko-risiko yang saat ini diantisipasi oleh para ilmuwan, seperti kenaikan permukaan laut, pengasaman samudera, dan degradasi alam.

Di Eropa, para ahli memperingatkan bahwa cuaca ekstrem musim panas tahun 2025 memicu kerugian ekonomi jangka pendek setidaknya sebesar 43 miliar Euro, dengan total biaya yang diperkirakan akan mencapai 126 miliar Euro pada tahun 2029.

Kerugian langsung tersebut berjumlah 0,26 persen dari output ekonomi Uni Eropa pada tahun 2024.

Baca juga: 

Laporan menyebut kenaikan suhu bumi bisa tembus dua derajat celsius sebelum 2050. Dampaknya mengancam ekonomi global hingga sistem keuangan.SHUTTERSTOCK/Piyaset Laporan menyebut kenaikan suhu bumi bisa tembus dua derajat celsius sebelum 2050. Dampaknya mengancam ekonomi global hingga sistem keuangan.

Namun, para peneliti menekankan bahwa perkiraan tersebut masih bersifat konservatif karena belum mencakup dampak gabungan ketika peristiwa ekstrem terjadi secara bersamaan, seperti gelombang panas dan kekeringan.

Perkiraan ini juga tidak termasuk biaya bahaya, seperti kebakaran hutan, yang memecahkan rekor di seluruh Eropa tahun ini, atau kerusakan akibat hujan es dan angin dari badai.

“Kita memasuki realitas baru dunia dengan kenaikan suhu 1,5 derajat celsius, yang mana risiko fisik yang intens saat ini mengancam perekonomian, biaya hidup, dan sistem keuangan, dan titik kritis bencana sudah di depan mata,” kata Dr. Jesse Abrams dari University of Exeter.

Seiring dengan percepatan laju pemanasan global, guncangan iklim kemungkinan akan datang lebih cepat dan membawa dampak yang lebih langsung dan intens terhadap perekonomian.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau