KOMPAS.com - Tim peneliti dari International Institute for Applied Systems Analysis dan Universitas Ekonomi dan Bisnis Wina (WU Vienna) menemukan diabetes merugikan ekonomi global hingga triliunan dolar.
Hasil tersebut didapat setelah tim peneliti menghitung dampak ekonomi diabetes di 204 negara dari tahun 2020 hingga 2050.
Temuannya sangat mengejutkan, tanpa perawatan informal yang diberikan anggota keluarga, biaya global diabetes mencapai sekitar 10 triliun dolar AS atau setara dengan 0,2 persen dari PDB global tahunan.
Melansir, Medical Xpress, Jumat (9/1/2026) ketika perawatan informal diperhitungkan, biaya melonjak hingga 152 triliun dolar AS atau 1,7 persen dari PDB.
"Para pengasuh sering kali keluar dari pasar kerja, setidaknya sebagian, yang menciptakan biaya ekonomi tambahan," jelas ekonom WU Klaus Prettner, salah satu penulis studi tersebut.
Diabetes melitus sendiri merupakan gangguan metabolisme kronis dan salah satu penyakit tidak menular yang paling umum di seluruh dunia.
Baca juga: Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera
Rata-rata, satu dari sepuluh orang dewasa terkena dampaknya. Jumlah orang yang hidup dengan diabetes terus meningkat, menimbulkan tantangan yang semakin besar bagi sistem perawatan kesehatan dan seluruh perekonomian.
Meskipun diabetes lebih umum terjadi di negara-negara berpendapatan rendah, Amerika Serikat menanggung biaya absolut tertinggi, diikuti oleh China dan India.
Namun menurut Michael Kuhn, Pelaksana Tugas Pemimpin Kelompok Riset Batas Ekonomi di IIASA, Republik Ceko sebenarnya yang paling "tertekan" karena biaya diabetes di sana memakan porsi ekonomi nasional yang paling besar (0,5 persen) baru kemudian diikuti Amerika Serikat dan Jerman sebesar 0,4 persen.
Sementara itu, Irlandia, Monako, dan Bermuda menghadapi beban ekonomi per kapita masing-masing senilai 18.000 dolar AS, 12.000 dolar AS, dan 8.000 dolar AS, menunjukkan biaya rata-rata yang sangat tinggi untuk menangani diabetes per individu.
Jika dibandingkan dengan penyakit lain selama periode yang sama, seperti Alzheimer, demensia, atau kanker, dampak ekonomi diabetes sangat besar.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Berbagai Jenis Penyakit, Ancam Kesehatan Global
Para penulis menekankan bahwa cara paling efektif untuk mencegah diabetes dan mengurangi dampak ekonominya terletak pada promosi gaya hidup yang lebih sehat.
Aktivitas fisik teratur yang dikombinasikan dengan diet seimbang dapat secara signifikan menurunkan risiko terkena penyakit ini.
Selain itu, deteksi dini memainkan peran penting misalnya program skrining diabetes komprehensif untuk seluruh populasi, bersama dengan diagnosis cepat dan pengobatan tepat waktu bagi individu yang menunjukkan gejala atau faktor risiko, merupakan langkah penting untuk mengurangi konsekuensi kesehatan dan ekonomi.
"Langkah-langkah tersebut sangat relevan untuk negara-negara berpenghasilan rendah, di mana tingkat kurangnya diagnosis yang tinggi dan perannya dalam meningkatkan angka kematian akibat penyakit menular menjadikan diabetes sebagai faktor risiko serius bagi stabilitas sistem perawatan kesehatan," simpul Kuhn.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya