Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diabetes Merugikan Ekonomi Global Hingga Triliunan Dolar

Kompas.com, 12 Januari 2026, 20:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tim peneliti dari International Institute for Applied Systems Analysis dan Universitas Ekonomi dan Bisnis Wina (WU Vienna) menemukan diabetes merugikan ekonomi global hingga triliunan dolar.

Hasil tersebut didapat setelah tim peneliti menghitung dampak ekonomi diabetes di 204 negara dari tahun 2020 hingga 2050.

Temuannya sangat mengejutkan, tanpa perawatan informal yang diberikan anggota keluarga, biaya global diabetes mencapai sekitar 10 triliun dolar AS atau setara dengan 0,2 persen dari PDB global tahunan.

Melansir, Medical Xpress, Jumat (9/1/2026) ketika perawatan informal diperhitungkan, biaya melonjak hingga 152 triliun dolar AS atau 1,7 persen dari PDB.

"Para pengasuh sering kali keluar dari pasar kerja, setidaknya sebagian, yang menciptakan biaya ekonomi tambahan," jelas ekonom WU Klaus Prettner, salah satu penulis studi tersebut.

Diabetes melitus sendiri merupakan gangguan metabolisme kronis dan salah satu penyakit tidak menular yang paling umum di seluruh dunia.

Baca juga: Peringkat Kesehatan Laut Indonesia Naik, tapi Nelayan Kecil Masih Belum Sejahtera

Rata-rata, satu dari sepuluh orang dewasa terkena dampaknya. Jumlah orang yang hidup dengan diabetes terus meningkat, menimbulkan tantangan yang semakin besar bagi sistem perawatan kesehatan dan seluruh perekonomian.

Meskipun diabetes lebih umum terjadi di negara-negara berpendapatan rendah, Amerika Serikat menanggung biaya absolut tertinggi, diikuti oleh China dan India.

Namun menurut Michael Kuhn, Pelaksana Tugas Pemimpin Kelompok Riset Batas Ekonomi di IIASA, Republik Ceko sebenarnya yang paling "tertekan" karena biaya diabetes di sana memakan porsi ekonomi nasional yang paling besar (0,5 persen) baru kemudian diikuti Amerika Serikat dan Jerman sebesar 0,4 persen.

Sementara itu, Irlandia, Monako, dan Bermuda menghadapi beban ekonomi per kapita masing-masing senilai 18.000 dolar AS, 12.000 dolar AS, dan 8.000 dolar AS, menunjukkan biaya rata-rata yang sangat tinggi untuk menangani diabetes per individu.

Jika dibandingkan dengan penyakit lain selama periode yang sama, seperti Alzheimer, demensia, atau kanker, dampak ekonomi diabetes sangat besar.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Berbagai Jenis Penyakit, Ancam Kesehatan Global

Para penulis menekankan bahwa cara paling efektif untuk mencegah diabetes dan mengurangi dampak ekonominya terletak pada promosi gaya hidup yang lebih sehat.

Aktivitas fisik teratur yang dikombinasikan dengan diet seimbang dapat secara signifikan menurunkan risiko terkena penyakit ini.

Selain itu, deteksi dini memainkan peran penting misalnya program skrining diabetes komprehensif untuk seluruh populasi, bersama dengan diagnosis cepat dan pengobatan tepat waktu bagi individu yang menunjukkan gejala atau faktor risiko, merupakan langkah penting untuk mengurangi konsekuensi kesehatan dan ekonomi.

"Langkah-langkah tersebut sangat relevan untuk negara-negara berpenghasilan rendah, di mana tingkat kurangnya diagnosis yang tinggi dan perannya dalam meningkatkan angka kematian akibat penyakit menular menjadikan diabetes sebagai faktor risiko serius bagi stabilitas sistem perawatan kesehatan," simpul Kuhn.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Pemerintah
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
LSM/Figur
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
LSM/Figur
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Pemerintah
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Pemerintah
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Swasta
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Pemerintah
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
LSM/Figur
Babak Baru Kasus Anak Gajah Mati di TN Tesso Nilo, Polisi Tangkap Tersangka
Babak Baru Kasus Anak Gajah Mati di TN Tesso Nilo, Polisi Tangkap Tersangka
Pemerintah
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
Mengapa Banyak Karyawan Resign Setelah Dapat THR Lebaran?
LSM/Figur
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
Bahan Kimia Abadi PFAS Terdeteksi dalam Makanan Anjing dan Kucing
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau