Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup

Kompas.com, 10 Januari 2026, 16:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Sebuah studi terbaru menemukan beberapa kendaraan jauh lebih berpolusi daripada yang lain.

Menariknya, studi yang dilakukan oleh peneliti di University of York, Inggris mengungkap pula desain pipa knalpot ternyata dapat memengaruhi seberapa banyak polusi udara yang kita hirup saat berjalan di sepanjang jalan yang ramai.

Hasil itu didapatkan setelah Profesor David Carslaw, dari Universitas York, memimpin tim yang mengukur emisi knalpot dari 38.000 kendaraan di Milan, Italia dan York, Inggris.

Studi menunjukkan kendaraan diesel masih mendominasi polusi knalpot, mengeluarkan lebih banyak nitrogen oksida di jalan daripada dalam pengujian resmi.

Melansir Guardian, Jumat (9/1/2026) di Milan, kendaraan diesel bertanggung jawab atas 81 persen nitrogen oksida dari lalu lintas lokal. Mereka menghasilkan 61 persen karbon hitam dan 55 persen jumlah partikel kecil.

Namun, sangat sulit untuk mengukur polusi udara dari masing-masing mobil saat kendaraan melintas.

Baca juga: Taiwan Capai Target Penurunan Polusi Udara PM2.5 pada 2025

“Asap knalpot dari kendaraan yang lewat cenderung tumpang tindih satu sama lain dalam sebagian besar situasi lalu lintas, sehingga hampir tidak mungkin untuk menentukan kontribusi yang dibuat oleh kendaraan yang berbeda,” kata Carslaw.

Untuk mengetahui polusi masing-masing mobil, peneliti kemudian melakukan pengukuran detik demi detik tepat di sebelah trotoar dan mengembangkan pendekatan analisis data baru.

Peneliti kemudian menemukan 5 persen mobil yang paling berpolusi menghasilkan dua kali lipat nitrogen oksida dibandingkan kendaraan rata-rata.

Untuk karbon hitam dan partikel kecil, perbedaannya mencapai lebih dari tujuh kali lipat, yang mengindikasikan adanya masalah pada beberapa filter partikulat, dan terdapat juga perbedaan yang jelas di antara berbagai produsen kendaraan.

Posisi knalpot pengaruhi polusi

Kejutan utamanya adalah bahwa posisi knalpot memiliki dampak penting dan langsung terhadap konsentrasi polutan udara di dekat jalan.

Seorang pejalan kaki di trotoar terpapar polusi udara sekitar 40 persen lebih banyak udara ketika sebuah mobil dengan pipa knalpot yang dekat dengan tepian jalan melintas, dibandingkan dengan mobil yang memiliki knalpot di posisi yang lebih dekat ke tengah jalan.

Baca juga: Vitamin C Bantu Lindungi Paru-paru dari Dampak Polusi Udara

"Kami terkejut menemukan bahwa sebagian besar mobil diesel memiliki knalpot di sebelah kiri. Itu paling dekat dengan tepian jalan di Inggris di mana dampaknya terhadap konsentrasi polusi adalah yang paling maksimal. Sedangkan sebagian besar mobil bensin dan bensin hibrida memiliki knalpot di sebelah kanan," ungkap Carslaw.

Tim tersebut menemukan bahwa polusi lalu lintas di pinggir jalanan Inggris dapat dikurangi sebesar 21 persen jika semua mobil diesel memiliki pipa knalpot di posisi yang dekat dengan tengah jalan.

Peneliti juga menemukan turbulensi dari kendaraan listrik, terutama bus dan van, memberikan efek menguntungkan yang mengejutkan, yaitu membantu menguraikan polusi tanpa menyumbangkan emisi knalpot dari mereka sendiri.

Lebih lanjut, kendati kendaraan diesel masih mendominasi polusi knalpot, namun efek pemberlakuan standar emisi baru yang lebih ketat terlihat jelas.

Dulu, mesin diesel dianggap jauh lebih kotor karena menghasilkan nitrogen oksida yang sangat tinggi dibandingkan mesin bensin. Namun, teknologi terbaru telah berhasil menurunkan emisi gas tersebut hingga setara dengan mesin bensin.

Kendaraan diesel terbaru juga telah menghasilkan jauh lebih sedikit polusi partikel dibandingkan dengan model yang lebih lama.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau