Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Misi Sunyi PCBA Taman Safari Prigen Selamatkan Spesies Terlupakan

Kompas.com, 23 Januari 2026, 14:31 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

PRIGEN, KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk upaya penyelamatan satwa karismatik, ada kelompok spesies yang perlahan menghilang dalam senyap.

Satwa-satwa tersebut tidak memiliki loreng yang memesona, gading yang megah, atau kisah heroik yang mudah dijual. Keberadaan mereka juga jarang menjadi tajuk utama, bahkan kerap luput dari ingatan manusia. Padahal, justru merekalah yang berada paling dekat dengan jurang kepunahan.

Spesies-spesies terlupakan (forgotten species), demikian satwa-satwa itu disebut, hidup di ruang yang sempit, mulai dari sisa hutan, rawa yang mengering, hingga pulau kecil yang terisolasi. Populasinya sedikit, namanya jarang disebut, dan wajahnya tak cukup “menarik” untuk menjadi simbol kampanye pelestarian.

Di Indonesia, salah satu wajah dari kepunahan yang senyap itu adalah babi kutil. Tepatnya, babi kutil jawa (Sus verrucosus) dan babi kutil bawean (Sus verrucosus blouchi), keduanya sudah ditetapkan sebagai satwa terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 1996.

Habitat yang menyusut akibat deforestasi, perburuan, kawin silang, hingga ancaman wabah penyakit membuat masa depan kedua spesies ini berada di ujung tanduk. Peliknya lagi, satwa endemik ini nyaris tak pernah masuk dalam percakapan publik.

Tak banyak orang tahu bahwa kelestarian babi itu kini bergantung pada sisa-sisa habitat dan bahkan hanya segelintir individu yang masih bertahan.

Bagi sebagian orang, babi kutil mungkin sekadar satwa liar biasa. Namun, kehadirannya yang semakin berkurang adalah penanda kerapuhan ekosistem dan kegagalan manusia menjaga yang dianggap tak penting.

Direktur Utama TSI Aswin Sumampau mengatakan, pendirian Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) di Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, Jawa Timur, berangkat dari nasib spesies-spesies yang nyaris hilang dari ingatan manusia.

Baca juga: Menyelamatkan Spesies Endemik, Strategi Konservasi Taman Safari Indonesia di Era Perubahan Iklim

Di PCBA, konservasi tidak diukur dari seberapa besar atau indah satwa yang diselamatkan, tetapi dari keberanian merawat yang terlupakan. Perawatan dilakukan sebelum spesies terlupakan itu punah.

“Secara global, babi kutil memang jarang menjadi prioritas konservasi. Di Indonesia, situasinya lebih parah karena beberapa spesiesnya berada di ujung tanduk,” ujar Aswin saat ditemui Kompas.com di Prigen, Jawa Timur, Selasa (16/12/2025).

Dari krisis burung berkicau ke bahtera konservasi terbesar Asia Tenggara

Aswin bercerita, PCBA tidak lahir dalam ruang hampa. Akar pendiriannya bermula pada Asian Songbird Crisis Summit 2015 di Jurong Bird Park, Singapura. Pertemuan internasional ini menyoroti krisis serius populasi burung berkicau di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Direktur Utama TSI Aswin Sumampau dan General Manager TSI Prigen Erwina Lemuel saat berbincang dengan Kompas.com di Taman Safari Indonesia Prigen, Jawa Timur, Selasa (16/12/2025).
KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA Direktur Utama TSI Aswin Sumampau dan General Manager TSI Prigen Erwina Lemuel saat berbincang dengan Kompas.com di Taman Safari Indonesia Prigen, Jawa Timur, Selasa (16/12/2025).

Pada forum tersebut, banyak spesies burung endemik dinyatakan berada di ambang kepunahan akibat perburuan dan perdagangan ilegal yang masif.

Kala itu, pendiri TSI Tony Sumampau menyatakan komitmennya untuk membangun 150 kandang khusus pengembangbiakan konservasi burung kecil dalam waktu 10 tahun. Kandang ini tersebar di TSI Cisarua Bogor, TSI Prigen, dan TSI Bali.

Langkah awal dimulai dari TSI Cisarua dengan pembangunan 24 kandang untuk burung cica-daun, poksai, dan ekek geling Jawa. Di Bali, 28 kandang dikhususkan untuk konservasi burung jalak bali. Sementara di Prigen, kompleks awal dengan 25 kandang burung dibangun pada 2017. 

“Awalnya PCBA memang fokus pada burung berkicau. Namun, seiring waktu, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak spesies lain yang terancam punah dan sama sekali tidak mendapat perhatian,” kata Aswin.

Baca juga: Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau