PRIGEN, KOMPAS.com – Di tengah hiruk-pikuk upaya penyelamatan satwa karismatik, ada kelompok spesies yang perlahan menghilang dalam senyap.
Satwa-satwa tersebut tidak memiliki loreng yang memesona, gading yang megah, atau kisah heroik yang mudah dijual. Keberadaan mereka juga jarang menjadi tajuk utama, bahkan kerap luput dari ingatan manusia. Padahal, justru merekalah yang berada paling dekat dengan jurang kepunahan.
Spesies-spesies terlupakan (forgotten species), demikian satwa-satwa itu disebut, hidup di ruang yang sempit, mulai dari sisa hutan, rawa yang mengering, hingga pulau kecil yang terisolasi. Populasinya sedikit, namanya jarang disebut, dan wajahnya tak cukup “menarik” untuk menjadi simbol kampanye pelestarian.
Di Indonesia, salah satu wajah dari kepunahan yang senyap itu adalah babi kutil. Tepatnya, babi kutil jawa (Sus verrucosus) dan babi kutil bawean (Sus verrucosus blouchi), keduanya sudah ditetapkan sebagai satwa terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 1996.
Habitat yang menyusut akibat deforestasi, perburuan, kawin silang, hingga ancaman wabah penyakit membuat masa depan kedua spesies ini berada di ujung tanduk. Peliknya lagi, satwa endemik ini nyaris tak pernah masuk dalam percakapan publik.
Tak banyak orang tahu bahwa kelestarian babi itu kini bergantung pada sisa-sisa habitat dan bahkan hanya segelintir individu yang masih bertahan.
Bagi sebagian orang, babi kutil mungkin sekadar satwa liar biasa. Namun, kehadirannya yang semakin berkurang adalah penanda kerapuhan ekosistem dan kegagalan manusia menjaga yang dianggap tak penting.
Direktur Utama TSI Aswin Sumampau mengatakan, pendirian Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) di Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, Jawa Timur, berangkat dari nasib spesies-spesies yang nyaris hilang dari ingatan manusia.
Baca juga: Menyelamatkan Spesies Endemik, Strategi Konservasi Taman Safari Indonesia di Era Perubahan Iklim
Di PCBA, konservasi tidak diukur dari seberapa besar atau indah satwa yang diselamatkan, tetapi dari keberanian merawat yang terlupakan. Perawatan dilakukan sebelum spesies terlupakan itu punah.
“Secara global, babi kutil memang jarang menjadi prioritas konservasi. Di Indonesia, situasinya lebih parah karena beberapa spesiesnya berada di ujung tanduk,” ujar Aswin saat ditemui Kompas.com di Prigen, Jawa Timur, Selasa (16/12/2025).
Aswin bercerita, PCBA tidak lahir dalam ruang hampa. Akar pendiriannya bermula pada Asian Songbird Crisis Summit 2015 di Jurong Bird Park, Singapura. Pertemuan internasional ini menyoroti krisis serius populasi burung berkicau di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Direktur Utama TSI Aswin Sumampau dan General Manager TSI Prigen Erwina Lemuel saat berbincang dengan Kompas.com di Taman Safari Indonesia Prigen, Jawa Timur, Selasa (16/12/2025).
Pada forum tersebut, banyak spesies burung endemik dinyatakan berada di ambang kepunahan akibat perburuan dan perdagangan ilegal yang masif.
Kala itu, pendiri TSI Tony Sumampau menyatakan komitmennya untuk membangun 150 kandang khusus pengembangbiakan konservasi burung kecil dalam waktu 10 tahun. Kandang ini tersebar di TSI Cisarua Bogor, TSI Prigen, dan TSI Bali.
Langkah awal dimulai dari TSI Cisarua dengan pembangunan 24 kandang untuk burung cica-daun, poksai, dan ekek geling Jawa. Di Bali, 28 kandang dikhususkan untuk konservasi burung jalak bali. Sementara di Prigen, kompleks awal dengan 25 kandang burung dibangun pada 2017.
“Awalnya PCBA memang fokus pada burung berkicau. Namun, seiring waktu, kami dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak spesies lain yang terancam punah dan sama sekali tidak mendapat perhatian,” kata Aswin.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya