Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen

Kompas.com, 27 Januari 2026, 20:32 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Masyarakat yang menua alias lanjut usia (lansia), akibat penurunan tingkat kelahiran dan peningkatan harapan hidup, berpotensi mengurangi pengambilan air tawar hingga 31 persen pada pertengahan abad ini.

Dampak populasi yang menua dalam mengurangi penggunaan air global sangat terasa di negara-negara Asia, seperti China, Singapura, Korea Selatan, dan Jepang.

Baca juga:

Negara-negara tersebut diproyeksikan mengalami pengurangan penggunaan air sekitar 42 persen sampai 62 persen seiring bertambahnya usia penduduk, menurut studi yang diterbitkan di jurnal Water Resources Research. 

"Sedikit yang diketahui apakah peningkatan penuaan populasi global memiliki efek independen terhadap penggunaan air (yang berkaitan dengan keamanan air global)," tulis para peneliti studi tersebut, dilansir dari laman AGU Online Library, Selasa (27/1/2026).

Populasi yang menua dan menurunnya pengambilan air tawar

Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.freepik.com Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.

Kelangkaan air tawar termasuk isu paling mendesak di seluruh dunia pada abad ke-21. Krisis iklim seolah memaksa sungai dan akuifer ke kondisi ekstrem yang belum terjadi sebelumnya. 

Kondisi tersebut diperparah dengan kekeringan dan banjir yang semakin intensif, dengan kenaikan permintaan air tawar seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan ekonomi.

Namun, selama ini, dampak dari pergeseran demografis kerap diabaikan dari proyeksi permintaan air secara global, dikutip dari Phys.org. 

Hanya sedikit penilaian yang secara eksplisit mempertimbangkan struktur usia sebagai pendorong penggunaan air, dengan memasukkan penuaan demografis ke dalam analisis mereka.

Negara-negara dengan populasi yang lebih tua, seperti sebagian Eropa dan Amerika Utara, cenderung mengalami pertumbuhan yang lebih lambat atau penurunan permintaan air. 

Sebaliknya, wilayah dengan populasi yang lebih muda, termasuk sebagian besar Afrika sub-Sahara, kemungkinan tidak mengalami efek serupa.

Baca juga:

Permintaan air

Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.Unsplash/swankyfella Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.

Pengambilan air yang merujuk pada volume yang diambil dari sumber alami untuk pertanian, industri, produksi energi, dan rumah tangga, cenderung meningkat secara historis.

Pengambilan air naik seiring bertambahnya populasi manusia dan berkembangnya perekonomian, dengan pertanian tetap menjadi pengguna terbesar di sebagian besar wilayah selama seabad terakhir.

Tanpa perubahan kebijakan atau efisiensi, proyeksi permintaan air tawar akan terus naik dalam beberapa dekade mendatang. 

Hal ini berpotensi menyebabkan ratusan juta orang mengalami kekurangan air karena permintaan mendekati atau melebihi pasokan air terbarukan yang tersedia secara lokal.

Organisasi Meteorologi Dunia dan PBB memperingatkan bahwa akses terhadap air tawar yang andal semakin tidak aman.

Air terbarukan yang secara alami terisi kembali melalui curah hujan dan alirannya tidak meningkat seiring dengan permintaan. Kondisi itu diperparah dengan krisis iklim membuat siklus hidrologi menjadi lebih sulit diprediksi.

Tekanan terhadap air tawar semakin meluas, dengan sekitar tiga perempat populasi global pada lebih dari 100 negara tinggal di wilayah yang mengalami kehilangan sumber daya ini.

Bahkan, negara-negara yang kaya air, seperti Kanada, Amerika Serikat (AS), dan Rusia, kehilangan sejumlah air tawar.

Negara-negara berpenduduk padat, termasuk India dan Iran, juga kehilangan air tawar berskala besar.

Kontribusi penuaan

Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.Freepik/Freepik Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.

Isu populasi yang menua memperlambat pertumbuhan permintaan air tawar menawarkan sudut pandang baru bagi pemangku kebijakan dalam mengantisipasi tantangan masa depan.

Di Amerika Serikat, China, dan Jepang, penuaan penduduk telah berperan dalam mengurangi permintaan air. 

Hal itu mencerminkan konsumsi rumah tangga lebih rendah di kalangan orang dewasa yang lebih tua dan pergeseran bertahap dari industri dengan banyak menggunakan air.

Sebaliknya, negara-negara seperti Filipina dan Rusia, menunjukkan pola yang berlawanan, penuaan dikaitkan dengan peningkatan penggunaan air tawar.

Sebab, orang dewasa lebih tua tetap aktif dalam pertanian yang membutuhkan banyak air atau sistem industri dan irigasi tetap relatif tidak efisien.

Selain itu, negara seperti Kenya, menunjukkan bagaimana penuaan penduduk bisa beriringan dengan permintaan air pertanian yang berkelanjutan.

Sementara itu, negara seperti Somalia menunjukkan penurunan tajam karena aktivitas ekonomi menyusut dan populasi muda bermigrasi.

Pemahaman tentang tren demografis dapat menguatkan perencanaan air dalam beberapa cara. Keputusan infrastruktur jangka panjang, seperti membangun waduk, pipa, atau instalasi pengolahan air, sering kali bergantung pada perkiraan permintaan masa depan.

Perkiraan permintaan air tawar secara berlebihan dapat menyebabkan biaya tidak perlu dan perkiraan yang kurang tepat membuat masyarakat tidak siap.

Mempertimbangkan pola penuaan penduduk dalam proyeksi, bersamaan dengan urbanisasi, krisis iklim, dan perubahan teknologi bisa membuat perencanaan menjadi lebih akurat.

Baca juga:

Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.Shutterstock/Maxim Studio Studi terbaru mengungkap populasi dunia yang menua berpotensi menurunkan penggunaan air tawar global hingga 31 persen.

Di sisi lain, di luar infrastruktur fisik, kebijakan tentang air kemungkinan juga perlu beradaptasi.

Jika penuaan penduduk memperlambat pertumbuhan permintaan di beberapa wilayah maka memengaruhi urgensi atau fokus insentif konservasi, strategi penetapan harga, serta langkah-langkah efisiensi di seluruh sektor pertanian maupun industri.

Pada saat yang sama, di wilayah-wilayah dengan permintaan air masih tinggi, penuaan saja tidak akan menghilangkan kebutuhan akan solusi pasokan baru.

Teknologi, seperti transfer air jarak jauh dan desalinasi, kemungkinan akan tetap penting, dengan diiringi penanaman kesadaran penghematan pada generasi muda seiring meningkatnya tekanan air global.

Temuan dari studi ini tidak mengurangi urgensi adaptasi sistem air terhadap krisis iklim dan justru memperumit gambaran keseluruhan.

Apalagi, dampak pergeseran efek demografis tidak merata terhadap permintaan air tawar global. 

Hal itu mengingat perubahan curah hujan, pencairan salju, risiko kekeringan, dan faktor lain ikut mempengaruhi pasokan air tawar, di samping pergeseran demografis.

Secara keseluruhan, studi ini menggarisbawahi perubahan demografis tidak hanya tren latar belakang, tapi juga pendorong penting bagi penggunaan air masa depan.

Secara global, jumlah orang berusia di atas 65 tahun telah meningkat tajam, dari sekitar 129 juta pada pertengahan tahun 1960-an, menjadi sekitar 750 juta saat ini.

Diperkirakan jumlah orang berusia di atas 65 tahun akan terus bertambah, dengan potensi mencapai 2,5 miliar pada akhir abad ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau