Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

74 Persen Air Tawar Indonesia Habis untuk Pertanian, Pakar Ingatkan Dampaknya

Kompas.com, 23 Januari 2026, 09:43 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pertanian menjadi sektor dengan pengambilan air tawar terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Kemenko Bidang Infrastruktur, 74 persen air tawar digunakan untuk irigasi atau pengairan sawah.

Air tawar berkali-kali lipat lebih banyak digunaan untuk pertanian ketimbang kebutuhan rumah tangga atau hanya sembilan persen.

Baca juga:

Ketersediaan air tawar penting dalam produksi beras untuk mencapai target swasembada pangan. Saat ini, lahan persawahan di Indonesia sudah seluas 7,3 juta hektar. Lahan persawahan di Indonesia ditanami padi sebanyak satu sampai tiga kali dalam setahun.

"7,3 juta hektar ini karena bisa ditanami lebih dari satu kali (sehingga) sebenarnya luas yang bisa ditanami itu 10 juta hektare. Berarti, rata-rata satu hektar itu bisa ditanami 1,4 kali," ujar Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Muhammad Rachmat Kaimuddin dalam webinar Water Sustainability dari Beauty Science Tech (BST) 2026, Kamis (22/1/2026).

"Tapi butuh irigasi, nah, hari ini kita punya 280 juta penduduk. Di tahun 2045, penduduk kita bisa 320 juta. Artinya, kita butuh lebih banyak lagi (air tawar)," tambah dia. 

Masalah ketersediaan air tawar di Indonesia

Indonesia ditargetkan jadi lumbung padi dunia pada 2045

Sebanyak 74 persen air tawar Indonesia digunakan untuk pertanian. Menuju target lumbung pangan dunia 2045, krisis air menjadi tantangan besar.PIXABAY/HARTONO SUBAGIO Sebanyak 74 persen air tawar Indonesia digunakan untuk pertanian. Menuju target lumbung pangan dunia 2045, krisis air menjadi tantangan besar.

Rachmat menuturkan, Indonesia ditargetkan harus menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Maka dari itu, perlu upaya intensifikasi dan ekstensifikasi atau perluasan lahan persawahan untuk bisa mencapainya.

"Jadi pekerjaan rumah kami bagaimana caranya (lahan persawahan produktif sekitar) 10 juta (hektar) ini (bertambah) menjadi 15 juta (hektar). Ini yang perlu kita pikirkan bersama. Jadi paling sedikit, angka setiap hektar harus paling tidak ditanamin dua kali (dalam setahun)," tutur Rachmat.

Sementara itu, utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk urusan air, Retno Marsudi menilai, penghematan pengambilan air tawar untuk irigasi lahan persawahan perlu mendapatkan perhatian.

"Kita harus meng-address irigasi karena angka withdrawal-nya kan tinggi sekali. Angka saya 72 (persen), angka Pak Rachmat 74 (persen), lebih gede lagi," ucap mantan Menteri Luar Negeri ini.

Baru-baru ini, Retno mengaku terkejut usai mendengar jawaban Menteri Pertanian Jerman mengenai kebutuhan air tawar untuk sektor tersebut. Pengambilan air tawar untuk sektor pertanian di Jerman hanya 2,5 persen dan sisanya berasal dari hujan.

Baca juga:

Air tawar tak ada, pertanian tak berjalan

Sebanyak 74 persen air tawar Indonesia digunakan untuk pertanian. Menuju target lumbung pangan dunia 2045, krisis air menjadi tantangan besar.PIXABAY/ZAIN_MUSTAGHFIR Sebanyak 74 persen air tawar Indonesia digunakan untuk pertanian. Menuju target lumbung pangan dunia 2045, krisis air menjadi tantangan besar.

Menurut Retno, ketersediaan air sangat memengaruhi segala aspek kehidupan orang Indonesia. Oleh sebab itu, konservasi sumber daya air perlu dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif.

"Ini nanti tugas Pak Rachmat, jangan (melihat) dari sisi air yang berdiri sendiri, padahal air ini terkait dengan semua kehidupan kita. 72 persen fresh water withdrawal is used for agriculture pengambilan air tawar digunakan untuk agrikultur). Jadi, kalau airnya collapse, pertanian collapse, kita collapse semua," jelas Retno.

Baca juga:

Inovasi teknologi pertanian untuk menghemat pengambilan air tawar perlu diterapkan dalam lahan persawahan di Indonesia.

Misalnya, teknologi irigasi tetes yang mengalirkan air secara perlahan dan langsung ke zona perakaran tanaman melalui jaringan pipa, selang, serta emitor atau penetes.

Teknologi irigasi tetes dapat menghemat pengambilan air tawar untuk pertanian hingga 90 persen.

Namun, biaya awal untuk investasi teknologi irigasi tetes sangat mahal. Apalagi, sampai saat ini, teknologi irigasi tetes belum pernah dicoba untuk lahan persawahan atau masih diterapkan ke pertanian dengan komoditas lain.

"Jadi, jika kita bisa berinovasi menggunakan teknologi dan sebagainya, ini saya mengambil satu isu mengenai irigasi, belum lain, maka kita akan banyak sekali yang dapat kita lakukan," tutur Retno.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau