Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Dorong Lonjakan Konflik Terkait Air

Kompas.com, 24 Januari 2026, 15:10 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Kekerasan terkait air hampir berlipat ganda sejak 2022. Mirisnya, sedikit yang dilakukan untuk memahami dan mengatasi tren tersebut serta mencegah risiko baru yang meningkat.

Menurut laporan Pacific Institute, lembaga think tank yang berbasis di Amerika Serikat (AS), tercatat 419 insiden kekerasan terkait air pada 2024, naik dari 235 pada tahun 2022.

Lembaga tersebut telah mengumpulkan bukti ratusan tahun konflik terkait air, termasuk kasus-kasus di mana air menjadi pemicu kekerasan, senjata konflik atau korban konflik.

“Kita melihat lebih banyak konflik dan konflik tersebut memiliki banyak penyebab,” kata Dr. Peter Gleick, salah satu pendiri dan peneliti senior di Pacific Institute, dikutip dari Guardian, Jumat (23/1/2026).

Baca juga: Jakarta Masuk Daftar Kota dengan Tekanan Air Ekstrem

Krisis iklim dan cuaca ekstrem berperan, tetapi ada banyak faktor lain seperti kegagalan negara dan pemerintah yang tidak kompeten atau korup, serta kurangnya atau penyalahgunaan infrastruktur,” tambahnya.

Konflik Lokal Meningkat

Joanna Trevor, kepala keamanan air Oxfam mengungkapkan pula adanya peningkatan konflik lokal terkait air akibat perubahan iklim dan ketidakamanan air.

Contoh terbaru termasuk ketegangan atas perjanjian pembagian air Sungai Indus antara India dan Pakistan setelah serangan teroris, Rusia yang menargetkan bendungan pembangkit listrik tenaga air di Ukraina, Israel yang menghancurkan sistem air Gaza, dan protes atas pasokan air di Afrika Selatan.

“Di Afrika Timur dan Sahel, air menjadi semakin tidak aman dan orang-orang pindah ke daerah baru untuk mengakses air, yang dengan sendirinya dapat memicu persaingan dan konflik dengan penduduk setempat,” kata Trevor.

Politik telah memperparah situasi yang sudah rapuh di beberapa tempat.

Misalnya yang terjadi di Sungai Colorado dan Rio Grande di AS. Terdapat perjanjian yang dibuat sejak tahun 1944 yang mengatur kedua sungai tersebut, yang mewajibkan AS untuk mengirimkan air Sungai Colorado ke Meksiko dan Meksiko untuk mengirimkan air Sungai Rio Grande ke AS.

Namun, seiring meningkatnya politik perbatasan di bawah pemerintahan Trump, isu-isu ini menjadi lebih kontroversial. Beberapa orang tewas di Meksiko selama protes di bendungan yang digunakan untuk mengirimkan air ke AS, setelah para petani keberatan dengan pengiriman air tersebut.

Permintaan Air Tawar yang Melonjak

PBB sebelumnya memprediksi permintaan air tawar global akan melampaui pasokan sebesar 40 persen pada 2030. Institut Universitas PBB untuk Air, Lingkungan, dan Kesehatan bahkan menyatakan bahwa dunia telah memasuki era 'kebangkrutan air'."

Baca juga: 74 Persen Air Tawar Indonesia Habis untuk Pertanian, Pakar Ingatkan Dampaknya

Itu merupakan kondisi di mana penggunaan air jangka panjang melebihi pasokan dan merusak alam sedemikian parah sehingga tingkat sebelumnya tidak dapat dipulihkan seperti semula.

Lebih lanjut, UNESCO mengatakan meski sekitar 40 persen populasi dunia tinggal di cekungan sungai dan danau lintas batas, hanya seperlima negara yang memiliki perjanjian lintas batas untuk berbagi sumber daya secara adil.

“Dengan meningkatnya ketidakamanan air, perjanjian lintas batas yang lebih akuntabel perlu dibuat untuk memenuhi kebutuhan semua orang dengan cara yang menjamin hak asasi manusia mereka atas air," terang Trevor.

Selain itu perlu ada pengakuan yang lebih besar tentang perlunya berbagi air yang lebih baik di luar perjanjian pembagian air saat ini yang seringkali bersifat sukarela dan sepenuhnya bergantung pada niat baik.

"Kita bisa menyelesaikan masalah air kita, termasuk menyelesaikan dampak perubahan iklim terhadap air, memenuhi kebutuhan dasar dan hak asasi manusia atas air, mengatasi masalah ekosistem, serta mengurangi risiko konflik atas sumber daya air," pungkas Gleick.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau