KOMPAS.com - Jakarta diklasifikasikan sebagai kota yang menghadapi tekanan air ekstrem atau sangat tinggi (highly-stressed), bersanding dengan London di Inggris dan Bangkok di Thailand.
Hal itu menurut pemetaan Watershed Investigations dan The Guardian terhadap kota-kota di daerah aliran sungai (DAS) yang mengalami tekanan air yang tinggi (water stress).
Baca juga:
Tekanan tersebut berasal dari pengambilan air tanah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan kepentingan industri yang hampir melebihi ketersediaan pasokan, yang mana disebabkan pengelolaan sumber daya air yang buruk dan diperparah krisis iklim.
Dilansir dari The Guardian, Jumat (23/1/2026), setengah dari 100 kota besar di dunia mengalami tekanan air yang tinggi. Sebanyak 38 kota besar di antaranya berada di wilayah bertekanan air yang cukup tinggi.
Adapun Beijing, China; New York dan Los Angeles, Amerika Serikat; Rio de Janeiro Brasil; serta Delhi, India termasuk jajaran kota besar dengan tekanan air yang tinggi.
London, Bangkok, dan Jakarta diklasifikasikan sebagai kota yang menghadapi tekanan air ekstrem atau sangat tinggi.Secara terpisah, analisis terbaru dari data satelit NASA yang disusun oleh para ilmuwan di University College London menunjukkan, 100 kota terbesar mengalami kekeringan atau peningkatan curah hujan selama 20 tahun terakhir.
Kota-kota besar, seperti Chennai, India; Teheran, Iran; dan Zhengzhou, China; menunjukkan tren kekeringan jangka panjang yang parah, dengan sekitar 1,1 miliar orang tinggal di wilayah itu.
Di sisi lain, kota-kota besar, seperti Tokyo, Jepang; Lagos, Nigeria; dan Kampala, Uganda; justru menunjukkan tren peningkatan curah hujan yang kuat, dengan 96 juta orang tinggal di wilayah itu.
Namun, data satelit dinilai terlalu "kasar" untuk menunjukkan detail dan konteks pada skala lokal.
Sebagian besar perkotaan di zona curah hujan tinggi berada di Afrika sub-Sahara, dengan hanya Tokyo dan Santo Domingo di Republik Dominika yang berada di wilayah lain.
Mayoritas pusat kota di daerah dengan sinyal kekeringan terkuat terkonsentrasi di seluruh Asia, terutama India utara dan Pakistan.
Baca juga:
Saat ini, memasuki tahun keenam kekeringan, Teheran berada dalam kondisi yang sangat dekat dengan "hari nol" ketika tidak ada air yang tersedia untuk warganya.
Cape Town dan Chennai sama-sama hampir mencapai "hari nol" dan banyak kota dengan pertumbuhan tercepat di dunia terletak di zona kering, yang mana dapat mengalami kekurangan air pada masa depan.
"Dengan melacak perubahan total penyimpanan air dari luar angkasa, (proyek NASA) Grace menunjukkan kota mana yang mengalami kekeringan dan kota mana yang mengalami peningkatan ketersediaan air sehingga memberikan peringatan dini tentang munculnya ketidakamanan air," ujar profesor krisis air dan pengurangan risiko di University College London, Mohammad Shamsudduha.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya