JAKARTA, KOMPAS.com - Fasilitas refuse derived fuel (RDF Rorotan) di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, dibangung untuk mengurangi ketergantungan dan beban pada fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST), khususnya TPST Bantargebang di Jawa Barat.
RDF Pant Rorotan atau RDF Rorotan mulai beroperasi sejak akhir Desember 2025, dengan kapasitas terbatas dan pengoperasian secara bertahap.
Baca juga:
Peningkatan kapasitas pengelolaan sampah di RDF Rorotan dilaukan secara bertahap, mulai dari 200 ton per hari, naik menjadi 400-600 ton per hari. Lalu, direncanakan naik secara gradual hingga 1.000 ton per hari.
DLH DKI menyebut RDF Rorotan berada di zona penyangga sawah, TPU, dan BKT. Jarak ke permukiman diklaim jauh, tapi bau masih dikeluhkan.Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan, alasan pembangunan RDF paling ideal di Kelurahan Rorotan. Salah satunya karena ada zona penyangga (buffer zone) alami berupa sawah abadi, area pemakaman, serta aliran banjir kanal timur (BKT).
Selain itu, akses logistiknya memadai untuk mendukung operasional pengangkutan sampah skala kota secara efisien dan terkontrol. Tak hanya itu, lokasinya berjarak dari permukiman, yang meminimalisasi potensi dampak terhadap aktivitas warga sehari-hari.
Fasilitas RDF tersebut berada di lahan seluas 7,87 hektar, dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebagai off-taker-nya. Fasilitas pengelolaan sampah itu berkapasitas 2.500 ton per hari dan menghasilkan RDF minimum 875 ton per hari.
"Kami membangun RDF di Rorotan memang di lahan milik Pemprov (Pemerintah Provinsi) DKI Jakarta. Itu sebenarnya lahan untuk permakaman (korban) Covid-19. Lokasinya memang kanan-kiri depan belakangnya itu sawah. Tadinya, dipikir relatif aman karena sudah di ujung perbatasan juga, ternyata begitulah kondisinya," ujar Asep kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026).
Dalam pengangkutan dari tempat pembuangan sampah (TPS) menuju RDF Plant Rorotan, DLH DKI Jakarta menggunakan truk compactor tertutup untuk mencegah kebauan dan ceceran air lindi sepanjang jalur distribusi.
DLH DKI Jakarta telah menyelesaikan pengadaan 51 unit truk compactor baru ini untuk mendukung sistem pengangkutan sampah yang meminimalisasi kebauan, ceceran sampah, dan tetesan air lindi.
Baca juga:
Jarak terdekat dengan fasilitas RDF dari sisi barat adalah Cluster Shinano, perumahan Jakarta Garden City (JGC), yang jaraknya sekitar 800 meter.
Dari sisi timur, fasilitas RDF berbatasan langsung dengan sawah dan jarak ke permukiman sekitar satu kilometer.
Dari sisi selatan, fasilitas RDF berdekatan dengan BKT, sebelum akhirnya RW 08 Kelurahan Rorotan. Bergeser agak jauh sedikit, kampung Karang Tengah, Kabupaten Bekasi.
Dari sisi utara, fasilitas RDF berbatasan dengan tempat pemakaman umum (TPU) untuk korban Covid-19.
DLH DKI menyebut RDF Rorotan berada di zona penyangga sawah, TPU, dan BKT. Jarak ke permukiman diklaim jauh, tapi bau masih dikeluhkan.Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko mengatakan, ada berbagai sumber bau dari fasilitas RDF, dengan karateristiknya masing-masing.
"Kalau (bau) lindi baunya itu berbeda dengan (bau) dari residu. (Bau) Produk RDF agak berbau asam, bukan bau sampah," ujar Agung.
Pemprov DKI Jakarta mempunyai alat pemantau bau di lapangan untuk menentukan dari mana sumbernya. Setiap menerima pengaduan dari warga sekitar fasilitas RDF Rorotan, Pemprov DKI Jakarta menerjunkan tim untuk mendeteksi dari mana sumbernya.
Bau di sekitar fasilitas RDF juga berpotensi berasal dari penumpukan sedimentasi di banjir kanal timur (BKT) atau pembuangan sampah ilegal dan saluran yang mampat.
Di awal isu bau dari fasilitas RDF menguar, Pemprov DKI Jakarta berupaya mengatasinya dengan memasang satu alat pengendali kebauan (Deodorizer).
Mekanismenya bukan menyebarkan aroma wangi tandingan, tapi menyedot dan menghilangkan bau menyengat melalui teknologi Advanced Oxidation Process (AOP).
Baca juga:
Jalur menuju RDF dari tepi BKT, Jakarta Timur, Senin (2/2/2026).
Sebelumnya, Ketua RT 18 RW 14, Cluster Shinano Perumahan JGC, Kelurahan Cakung Timur, Jakarta Timur, Wahyu Andre Maryono mengeluhkan bau dari fasilitas RDF sangat mengganggu aktivitas sehari-hari warga perumahan JGC.
"Bau banget sampah dari RDF itu, bukan bau sampah biasa, tapi bau asam yang menusuk hidung. Aktivitas sehari-hari jelas terganggu. Bayangkan saja, mau makan atau sedang bersantai di rumah bersama keluarga, tiba-tiba 'serangan' bau datang," ujar Wahyu kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Dulu, lanjut Wahyu, Cluster Shinano dan kawasan sekitar udaranya relatif segar karena berdekatan dengan ruang terbuka hijau (RTH) yang masih luas.
Saat ini, warga Cluster Shinano bak hidup berdampingan dengan tempat pembuangan sampah raksasa.
Posisi Cluster Shinano di ujung perumahan JGC yang sangat luas, agak terpisah dari cluster-cluster lainnya, serta terletak dekat banjir kanal timur (BKT) dan lokasi RDF Rorotan.
Ketika sore menjelang malam, angin berembus dari arah utara ke selatan, menyebarkan bau RDF ke perumahan JGC. Namun, sering pula bau RDF menguar pada subuh atau pagi, yang merusak suasana memulai hari.
"Jadi memang enggak menentu, tergantung arah angin, tapi paling sering ya sore sampai malam itu," ucapnya.
Saat atau usai hujan, bau dari RDF malah semakin menyengat. Wahyu menduga bau sangat busuk disebabkan kelembapan udara yang tinggi sehingga aromanya tertahan di bawah dan tercium di mana-mana.
Bahkan, kata dia, warga Karang Tengah, Desa Pusaka Rakyat, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, kebagian bau selama 24 jam karena posisi rumah mereka berada sekitar 200 meter di seberang BKT.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya