Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RDF Rorotan, Pakar Sarankan Tata Kelola Pemilahan Sampah Diperbaiki

Kompas.com, 4 Februari 2026, 09:13 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Masalah bau yang diduga berasal dari fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST) untuk diubah menjadi bahan bakar alternatif, refuse derived fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara, masih berlangsung. 

Selama tahap uji coba pada 2025 lalu, RDF Rorotan dinilai kerap menguarkan bau menyengat sehingga memicu protes dari warga setempat. Saat ini, bau tak sedap sudah tercium warga yang jarak rumahnya tak jauh dari RDF Rorotan, sekitar 800 meter.

Baca juga:

"Ketika pembangunan, sosialisasi ke warga kurang dan analisis kelayakan belum ada. Makanya, banyak warga yang protes. Memang secara operasional ini sangat berpotensi banyak celahnya. Justru ke depan itu kalau dari kami, apakah ada kebutuhan (RDF) atau enggak (pemerintah provinsi/Pemprov) DKI Jakarta perlu terbuka atas apa yang terjadi," ujar juru kampanye isu plastik dan perkotaan Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar kepada Kompas.com, Senin (2/2/2026).

Ibar menilai, Pemprov DKI Jakarta memperlakukan warga yang tinggal di sekitar RDF Rorotan dengan tidak adil.

Semestinya, tidak ada seorang pun warga yang menjadi korban dari keberadaan fasilitas RDF, termasuk pada tahap uji coba.

Pembangunan RDF Rorotan dan pemilahan sampah

Disarankan membangun tata kelola terlebih dahulu

Bau yang diduga dari RDF Rorotan diprotes warga. Pakar sarankan perbaikan tata kelola pemilahan sampah.KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Bau yang diduga dari RDF Rorotan diprotes warga. Pakar sarankan perbaikan tata kelola pemilahan sampah.

Pemprov DKI Jakarta memutuskan memilih teknologi RDF yang membutuhkan sampah dalam kondisi kering dan sudah terpilah. Padahal, menurut Ibar, sampah di Jakarta tercampur antara organik dan anorganik.

Kendati RDF Rorotan memakai teknologi melalui perlakuan termal yang mahal, kata Ibar, percuma saja jika sampahnya masih campur aduk atau tidak terpilah dengan baik.

"Sehingga membutuhkan tenaga ekstra, terus juga banyak hal yang perlu disiapkan sehingga menghasilkan sampah yang kering. Jadi memang itu pekerjaan ganda. Maka sebenarnya kalau kami melihat, Pemprov DKI Jakarta ini salah langkah dari awal," tutur Ibar.

Ia menyarankan, sebaiknya Pemprov DKI Jakarta memperbaiki tata kelola terlebih dahulu dengan membangun infrastruktur pengumpulan dan pemilahan sampah.

Pengumpulan dan pemilahan seharusnya sudah dilakukan sejak awal, bukan dikelola pada tahap pertengahan melalui tempat pengelolaan sampah - reduce, reuse, recycle (TPS3R).

Kondisi ini mengingat jika sampah sudah tercampur aduk di tempat pemrosesan akhir (TPA), Pemprov DKI Jakarta terpaksa bekerja secara ekstra dua kali lipat untuk memilahnya, sebelum dimasukkan ke fasilitas RDF.

Apalagi, saat ini cuaca ekstrem akibat krisis iklim memicu hujan lebih sering dan semakin sulit diprediksi. Ketika sampah yang sudah tercampur aduk terkena hujan, pemilahan dan pengelolaanya menjadi semakin sulit.

"Makanya, sebenarnya melihat masalah ini sangat kompleks. Kalau dari hulunya tidak ada pemilahan, tidak ada pengurangan, sama aja sih sebenarnya RDF Rorotan juga tidak akan mampu menyelesaikan masalah sampah di DKI Jakarta," ucapnya.

Baca juga:

Bau yang diduga dari RDF Rorotan diprotes warga. Pakar sarankan perbaikan tata kelola pemilahan sampah.Dok: DLH DKI Jakarta Bau yang diduga dari RDF Rorotan diprotes warga. Pakar sarankan perbaikan tata kelola pemilahan sampah.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto menuturkan, pembangunan RDF Rorotan salah satunya bertujuan mengatasi masalah sampah di Jakarta, sekaligus membantu RDF Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Hal itu ditambah pembangunan instalasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) tak kunjung terealisiasi.

"(Setelah dihitung), jadi kebayang beban APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) yang harus dikeluarkan (jika harus) membangun PSEL di tahun 2019-an, sehingga waktu melihat kami sudah membangun RDF di Bantargebang maka Pak Heru (Budi Hartono, Plt Gubernur DKI Jakarta) minta tolong bangun satu lagi. Nah, ini yang menginisiasi kami membangun RDF di Rorotan," jelas Asep.

Fasilitas pengelolaan sampah itu berkapasitas 2.500 ton per hari dan menghasilkan RDF minimum 875 ton per hari.

"Kami membangun RDF di Rorotan memang di lahan milik Pemprov DKI Jakarta. Itu sebenarnya lahan untuk permakaman (korban) Covid-19. Lokasinya memang kanan-kiri depan belakangnya itu sawah. Tadinya, dipikir relatif aman, karena sudah di ujung perbatasan juga, ternyata begitulah kondisinya," tutur Asep.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau