Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Sebut Jakarta Jadi Hutan Beton, Risiko Banjir Meluas

Kompas.com, 5 Februari 2026, 12:54 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti perubahan hidrologi wilayah akibat masifnya alih fungsi lahan di Jakarta.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa menilai, tutupan hutan pohon di Jakarta berubah menjadi hutan beton.

Baca juga:

Ruang terbuka hijau (RTH) pun makin sempit seiring dibangunnya pencakar langit. Hal ini memicu risiko banjir di hampir seluruh wilayah Jakarta.

"Jakarta ini sekarang permukaannya sudah sebagian besar tertutup lapisan yang tidak bisa menembus air disebut juga impermeable layer. Ada atap gedung, parkiran disemen beton maupun dari aspal tidak bisa ditembus kecuali sangat sedikit," kata Budi dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).

Alhasil, jika curah hujan tinggi maka air akan melimpas ke daerah sekitarnya hingga menyebabkan banjir.

BRIN sebut Jakarta jadi hutan beton

Penumpukan sampah hingga penurunan muka tanah bikin banjir

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa menjelaskan banjir di Jakarta, Rabu (4/2/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa menjelaskan banjir di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Dia menjelaskan, Jakarta dilintasi 13 sungai utama, termasuk Ciliwung, Krukut, Angke, Pesanggrahan, dan Sunter.

Sungai-sungai tersebut menjadi jalur utama aliran air dari wilayah hulu seperti Bogor, Depok, dan Tangerang sebelum bermuara ke Jakarta.

"Ketika air laut pasangnya sangat tinggi, hujan deras di seluruh wilayah DAS (daerah aliran sungai) mulai dari puncak, Jakarta, Bogor, Depok dan sebagainya sangat besar debitnya yang masuk ke Jakarta dan di Jakarta juga hujan di situlah kombinasi yang paling parah berpotensi terjadi," tutur Budi. 

Okupasi sempadan sungai, penumpukan sampah, dan sedimentasi yang memperkecil kapasitas sungai menampung air turut menyebabkan banjir di Jakarta.

Selain itu, penurunan muka tanah (land subsidence) menjadi faktor penyebab banjir Jakarta. Budi menyatakan, di beberapa lokasi di Jakarta penurunan tanah tercatat mencapai hingga belasan sentimeter per tahun.

Banjir merendam Jalan Daan Mogot KM 13 dekat Rumah Pompa Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (29/1/2026) malamKOMPAS.com/Ridho Danu Prasetyo Banjir merendam Jalan Daan Mogot KM 13 dekat Rumah Pompa Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (29/1/2026) malam

Penyebab utamanya, karakter alami tanah aluvial serta pengambilan air tanah berlebihan di permukiman padat penduduk dan sektor industri.

"Tanah pasti ada kandungan airnya, ketika airnya disedot tidak serta-merta dia akan terisi oleh air yang baru. Otomatis hubungan antara pori-pori ada yang kosong, di sana akan terjadi pemampatan, akan turun pelan sedikit demi sedikit juga terjadi konsolidasi," jelas Budi.

Maka dari itu, pemerintah daerah harus mengantisipasi dengan menyediakan air perpipaan yang layak untuk masyarakat.

Baca juga:

Solusi jangka pendek dan jangka panjang

Budi berpandangan, pembangunan ruang limpah sungai atau kolam retensi yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI sudah tepat. Ruang ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara saat debit sungai meningkat.

Dalam jangka pendek, Budi mendorong adanya perbaikan sistem drainase, penguatan sistem peringatan dini banjir berbasis data dan kecerdasan buatan (AI atau Artificial Intelligence), serta percepatan pembangunan infrastruktur pengendali banjir.

Sementara itu, untuk jangka panjang, dia merekomendasikan pembatasan pengambilan air tanah, penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions), dan penataan ruang berbasis mitigasi bencana.

Operasi Modifikasi Cuaca sebaiknya disertai upaya lain

Petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memeriksa bahan semai untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dimuat ke dalam pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/10/2025). BNPB bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara berkala sejak Sabtu (25/10) hingga lima hari ke depan dalam rangka penanganan bencana hidrometeorologi basah di wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Grobogan dengan total bahan semai sebanyak 10 ton NaCl dan 2 ton CaO. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.ANTARA FOTO/Aprillio Akbar Petugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memeriksa bahan semai untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah dimuat ke dalam pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Senin (27/10/2025). BNPB bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara berkala sejak Sabtu (25/10) hingga lima hari ke depan dalam rangka penanganan bencana hidrometeorologi basah di wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Grobogan dengan total bahan semai sebanyak 10 ton NaCl dan 2 ton CaO. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.

Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan mengatakan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebaiknya dikaji lebih dalam.

OMC banyak dilakukan untuk mengendalikan curah hujan agar tidak turun di wilayah daratan yang rawan banjir. Awan-awan disemai agar hujan turun di laut guna mengurangi potensi banjir.

Namun, menurut Eddy, cara tersebut bukanlah solusi utama.

"(Misalnya) saya pengin awan itu jatuh hujan di Waduk Jati Luhur supaya ditampung dulu. Siapa yang bisa menjamin kalau awannya setelah itu jatuh di Jati Luhur? Teknologi apa, AI mana misalnya, tidak ada kepastian apa pun," ucap Eddy. 

Baca juga:

Penyemaian awan, khususnya di wilayah dengan kondisi cuaca ekstrem dan siklon, juga memiliki risiko tinggi.

"Oleh karena itu saran saya coba dikaji ulang, deep analysis, deep science, deep, deep, deep, betul enggak (bermanfaat)?" kata dia.

Tak hanya mengantisipasi dampak cuaca ekstrem, OMC juga kerap dilakukan untuk membuat hujan buatan saat kemarau. Eddy mengatakan, proses ini dilakukan dengan menyemai bahan tertentu seperti garam (NaCl) ke dalam awan.

Akan tetapi, tanpa perhitungan matang, upaya tersebut kemungkinan besar tidak efektif dan hanya sekadar membuang-buang anggaran.

"Konsep dasar hujan buatan itu adalah dikaji lebih mendalam, supaya tepat waktu, kapan, dan di mana," tutur Eddy.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau