Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Sinkhole di Limapuluh Kota Disebut Unik, Apa Maksudnya?

Kompas.com, 9 Februari 2026, 10:51 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Sinkhole muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) menilai, sinkhole tersebut berbeda dari sinkhole pada umumnya.

"Dari hasil kaji cepat yang kita lakukan, sebenarnya sinkhole di Situjuah ini termasuk kategori yang unik," ucap ahli geologi teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, dilansir dari Antara, Senin (9/2/2026).

Baca juga:

Keunikan fenomena sinkhole di Limapuluh Kota

Muncul di batu gamping

Taufiq menjelaskan, hasil kaji cepat yang dilakukan dari Jumat (9/1/2026) sampai Minggu (11/1/12026) menunjukkan bahwa sinkhole di Situjuah tergolong unik. 

Menurut Taufiq, sinkhole di Limapuluh Kota termasuk kategori pseudokarst atau kars semu. Artinya, proses pembentukan lubang tidak terjadi di batu gamping seperti sinkhole pada umumnya.

Sinkhole Limapuluh Kota justru terbentuk di material vulkanik berupa endapan gunung api atau tuflapili.

"Biasanya sinkhole ini terjadi di batu gamping, tapi Sinkhole Limapuluh Kota terjadi di batuan kapur," kata Taufiq.

Baca juga:

Sungai bawah tanah yang membentuk rongga

Sinkhole Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, di Sumatera Barat dinilai unik oleh Badan Geologi. Apa maksudnya?Badan geologi kementerian ESDM Sinkhole Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, di Sumatera Barat dinilai unik oleh Badan Geologi. Apa maksudnya?

Keunikan lain yang ditemukan Badan Geologi adalah adanya sungai bawah tanah yang membentuk rongga di dalam material vulkanik tersebut.

Rongga terbentuk akibat mekanisme erosi buluh yang terjadi dari dalam tanah. Air mengikis partikel tanah secara perlahan. Proses ini membentuk saluran alami yang menyerupai pipa.

Tim peneliti juga menemukan lubang sinkhole yang terisi air yang terlihat berwarna biru. Fenomena ini dikenal dengan istilah cenote pada bentang alam kars.

Meski terlihat tidak biasa, hasil pengujian menunjukkan derajat keasaman air berada pada kategori agak asam hingga netral.

"Karena keunikan ini Badan Geologi menamainya dengan Sinkhole Situjuah," tutur Taufiq.

Mengapa sinkhole Limapuluh Kota terjadi?

Sinkhole Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, di Sumatera Barat dinilai unik oleh Badan Geologi. Apa maksudnya?Dok. ANTARA/Fandi Yogari/am. Sinkhole Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, di Sumatera Barat dinilai unik oleh Badan Geologi. Apa maksudnya?

Badan Geologi menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan munculnya sinkhole di Situjuah.

Faktor pertama adalah air. Wilayah ini mendapat suplai air yang melimpah dari hujan dan air tanah, yang terus menerus "menggali" tanah dari dalam. Air tanah juga memiliki kekuatan untuk mengikis material secara perlahan.

Faktor kedua adalah stabilitas tanah. Jenis tanah di kawasan ini berupa tuf atau abu vulkanik yang mudah terkikis oleh air.

Di dalam tanah juga terdapat jalur retakan yang mempercepat proses erosi buluh.

Tekanan rongga di bawah tanah kemudian berubah. Ketika tekanan melewati batas toleransi, tanah tidak lagi mampu menahan beban di atasnya.

Baca juga:

Opsi menangani sinkhole Limapuluh Kota

Biarkan sinkhole terbuka

Selain mengkaji penyebab, Badan Geologi juga memaparkan dua opsi penanganan Sinkhole Limapuluh Kota.

Opsi pertama adalah membiarkan sinkhole terbuka atau melebar secara alami. Namun, ada langkah penting yang harus dilakukan yaitu sinkhole tidak boleh ditutup.

Dalam hal ini, kestabilan lubang harus dihitung secara detail. Radius aman juga harus ditentukan secara terukur.

Air perlu dialirkan keluar melalui saluran drainase. Air tidak boleh meresap kembali ke tanah di sekitar sinkhole.

Aliran air diarahkan ke area yang lebih stabil seperti sungai di hilir. Air juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber air baku warga. Namun, kelayakannya harus dikaji terlebih dahulu.

Jangan sampai sinkhole melebar

Opsi kedua adalah mencegah sinkhole agar tidak melebar. Opsi ini membutuhkan dukungan ahli teknik sipil karena tebing sinkhole perlu diperkuat dengan rekayasa teknis.

Selain itu, jumlah air yang mengalir di sungai bawah tanah harus direncanakan dengan matang. Aliran air tidak boleh mengganggu kestabilan wilayah hulu dan hilir.

Dalam laporan kajian cepat, Badan Geologi juga menyampaikan upaya pengurangan risiko sinkhole. Masyarakat diminta mengenali gejala awal sinkhole.

Air yang meresap ke tanah secara berlebihan perlu dikurangi, terutama di area yang dicurigai memiliki sungai bawah tanah.

Badan Geologi juga menyarankan pemilihan tanaman yang tepat. Tanaman sebaiknya tidak membutuhkan banyak air.

Saluran air rumah pun harus diperhatikan. Air buangan tidak boleh merembes ke tanah yang berisiko sinkhole.

Air sinkhole bukan air berkhasiat

Taufiq menegaskan agar masyarakat tidak mempercayai isu air sinkhole yang disebut berkhasiat. Berdasarkan uji laboratorium, air tersebut sama seperti air pada umumnya.

Warna biru pada air terjadi karena partikel kecil atau zat terlarut yang menghamburkan gelombang cahaya biru.

"Air berwarna biru adalah fenomena alam dan bukan hal mistis," kata Taufiq.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau