Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lubang Sinkhole Disebut Bisa Muncul Lagi di Indonesia, Masyarakat Diimbau Waspada

Kompas.com, 6 Januari 2026, 09:26 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari mengatakan bahwa sinkhole atau lubang besar dapat muncul kembali di Indonesia. Baru-baru ini, sinkhole terbentuk di area sawah Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Lubang yang dilaporkan pada Minggu (4/1/2026) tersebut diperkirakan memiliki kedalaman hingga 15 meter.

Baca juga: 

"Apakah (sinkhole) akan terjadi di daerah-daerah lain di sekitar situ ya bisa saja terjadi. Jadi mungkin sinkhole-nya enggak hanya satu, bisa saja muncul lagi tetapi itu perlu pemetaan," kata Adrin saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Sinkhole bisa muncul kembali di Indonesia

Sinkhole terbentuk akibat rongga di batuan gamping

Pemetaan geofisika, lanjut dia, bertujuan mengetahui lokasi rongga di pada batu gamping di bawah permukaan tanah.

Adrin menjelaskan bahwa sinkhole terbentuk karena adanya rongga besar di batuan gamping karena aliran air.

"Tetapi, kalau rongganya kecil-kecil ya relatif risikonya lebih kecil, sudah pasti ya kalau misalnya dibandingkan dengan rongganya besar. Potensi risiko sinkhole-nya akan makin besar, jadi sinkhole itu dikontrol oleh dimensi ukuran dari rongga yang ada di batu gampingnya," papar dia.

Berdasarkan pemetaan geologi, wilayah Sumatera Barat memang dilapisi batuan gamping sehingga rawan terbentuk sinkhole.

Dengan demikian, dia meminta masyarakat sekitar mewaspadai jika ada tanah area persawahan yang terlihat turun perlahan karena berpotensi membentuk sinkhole.

"Turunnya itu membentuk pola lingkaran, dan lama-lama akhirnya ambles, dan akhirnya membentuk lubang sinkhole," tutur Adrin.

Ciri lainnya, ketika air sungai mendadak hilang yang juga terjadi di Sumatera Barat. Adrin menyatakan, kondisi itu disebabkan air melintasi batuan gamping yang menyebabkan alirannya terpotong lalu masuk ke rongga-rongga batu. 

"Rumah penduduk yang tiba-tiba keluar air bersih dari kamar mandinya cukup deras, nah itu kemungkinan dipengaruhi adanya rongga batu gamping yang terisi penuh oleh air sehingga dia meluap. Dan melalui celah-celah fondasi rumah akhirnya muncul kayak air mancur," ujar Adrin.

Baca juga:

Diperlukan pemetaan rongga batu gamping

Lubang besar di Limapuluh Kota, Minggu (4/1/2025)Foto: BPBD Limapuluh Kota Lubang besar di Limapuluh Kota, Minggu (4/1/2025)

Di sisi lain, Adrin menilai sinkhole berukuran besar seperti yang terjadi di Sumatera Barat sulit diperbaiki secara permanen. Upaya penimbunan dengan tanah dinilai tidak efektif karena material tanah berpotensi kembali larut dan ambles.

Maka dari itu, dia menyarankan pemerintah setempat memagar area sekitar lubang agar tidak ada korban.

"Kalau misalnya untuk daerah-daerah perkotaan seperti misalnya di Malaysia yang (gedung) Twin Tower di Kuala Lumpur, itu kan dibangun di daerah batu gamping yang rongga-rongganya cukup banyak. Mereka memetakan dulu sebaran rongga-rongganya," jelas Adrin.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau