Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh di Sekolah dan Bergerak ke Kecamatan

Kompas.com, 11 Februari 2026, 09:33 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Editor

KOMPAS.com - Pengelolaan sampah di sekolah sering dianggap urusan internal. Namun, bagi tim Smart-Ho dari SMKN 3 Mandau, Riau, persoalan muncul ketika sistem di sekolah sudah berjalan baik, sedangkan lingkungan di sekitarnya masih bergelut dengan penumpukan sampah tanpa pengelolaan.

Dari kondisi itu, tim yang beranggotakan Alfi Sunny, Nabila Olivia, Ridho Ady, Siti Nur Amalia, dan Yovie Fauzulia, ini mengembangkan platform bank sampah digital.

Baca juga:

Platform itu menghubungkan pemilahan, penjemputan melalui mitra ojek, dan sistem poin berbasis aplikasi. Inisiatif ini mengantarkan Smart-Go meraih posisi Runner-Up kategori Waste Management Project dalam ASRI Awards 2025.

Smart-Go, bank sampah digital yang tumbuh di sekolah

Proyek yang mengubah sekolah jadi ruang belajar terbuka

Di sekolah, sampah tidak berserakan. Siswa terbiasa memilah dan mengolah limbah.

Tidak adanya kantin membuat sebagian besar siswa membawa bekal dari rumah, lalu membawa kembali wadah makan mereka. Lingkungan sekolah relatif bersih dan tertib.

Namun, kondisi itulah yang menimbulkan pertanyaan. Jika sampah di sekolah terbatas, sedangkan di luar pagar sekolah sampah masih menumpuk dan kecamatan bahkan belum memiliki tempat pembuangan akhir, apakah bank sampah hanya akan berhenti sebagai program internal?

Pertanyaan itu mengubah arah Smart-Go. Mereka tidak lagi fokus pada bagaimana mengolah sampah di sekolah, tapi bagaimana menghadirkan sistem yang bisa menjangkau lingkungan sekitar.

Tidak hanya untuk menambah pasokan bahan olahan, tapi juga membantu wilayah yang belum memiliki tata kelola sampah yang memadai.

Smart-Go kemudian membangun platform digital yang mempertemukan masyarakat dengan bank sampah sekolah.

Warga memilah sampah dari rumah, kemudian penjemputan dilakukan oleh mitra ojek dan seluruh proses tercatat dalam sistem poin. Sampah bergerak, data tercatat, dan lingkungan perlahan menjadi lebih rapi.

Dampaknya tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Proyek ini membuka peluang kerja bagi orangtua siswa yang terlibat dalam proses penjemputan dan pengolahan.

Sekolah pun berkembang menjadi ruang belajar terbuka, tempat praktik baik dibagikan dan dipelajari bersama.

Baca juga:

Butuh waktu mengubah kebiasaan masyarakat

Aplikasi Smart-Go tim SMKN 3 Mandau.Dok. Tim Aplikasi Smart-Go tim SMKN 3 Mandau.

Perjalanan ini tidak selalu mulus. Mengubah kebiasaan masyarakat membutuhkan waktu.

Smart-Go memilih pendekatan yang pelan, membangun aturan yang jelas, menanamkan komitmen, lalu menjaganya bersama.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau