Editor
KOMPAS.com - Kegelisahan melihat sampah yang terus menumpuk di lingkungan sekolah mendorong Nurlela Ramadani Marpaung, guru di SMAN 2 Bandar, Sumatera Utara, mencoba cara lain.
Nurlela mengembangkan prototipe bio baterai dari limbah kulit buah dan baterai bekas, sebuah eksperimen sederhana yang mengantarkannya meraih posisi runner-up kategori Nature Conservation Project dalam kompetisi ASRI 2025.
Baca juga:
Dengan daya sekitar 1,2 volt yang mampu bertahan hingga tujuh jam, inovasi ini menunjukkan potensi pengurangan polusi limbah beracun hingga 73 persen.
Di banyak sekolah, persoalan sampah sering dipandang sebagai urusan kebersihan semata. Sampah dikumpulkan, dibuang, lalu selesai.
Namun, bagi Nurlela, kebiasaan itu justru menyisakan pertanyaan. Jika sampah terus dihasilkan setiap hari, apakah membuangnya saja sudah cukup?
Pertanyaan tersebut membuatnya berhenti sejenak dan melihat kembali lingkungan sekolah. Sampah tercampur, menumpuk, dan jarang dimanfaatkan. Dari situ muncul kesadaran bahwa persoalan ini tidak bisa dibiarkan berjalan seperti biasa.
Baca juga:
Nurlela memilih untuk tidak berhenti pada keluhan. Ia mulai bereksperimen dengan bahan-bahan yang ada di sekitar. Limbah kulit buah dipadukan dengan baterai bekas untuk menghasilkan sumber energi bio elektrolit sederhana.
Prosesnya jauh dari instan. Percobaan dilakukan berulang kali, dari mencoba komposisi hingga mengamati kestabilan daya. Tidak semua berjalan mulus.
Namun, setiap kegagalan justru membuka pemahaman baru tentang bagaimana sampah bisa diolah, bukan sekadar dibuang.
Di titik ini, sampah mulai dilihat secara berbeda. Sampah bukan lagi dipikirkan sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan yang masih bisa digunakan kembali
Proyek bio baterai ini tidak berjalan sendirian. Nurlela melibatkan warga sekolah agar ide ini tidak berhenti sebagai eksperimen pribadi.
Ia mengajak untuk melihat langsung prosesnya, berdiskusi, dan mencoba memahami logika di baliknya.
Dari situ, muncul semangat bersama. Bukan soal seberapa besar energi yang dihasilkan, melainkan tentang bagaimana kebiasaan baru bisa mulai dibangun. Bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari alat besar atau teknologi rumit.
Prototipe Biobaterai Limbah Kulit Buah oleh Nurlela Ramadani Marpaung.Seiring berjalannya proyek, Nurlela menyadari bahwa yang paling berubah bukan hanya bentuk inovasinya, tapi cara memandang masalah itu sendiri. Sampah yang sebelumnya dianggap beban mulai dipikirkan sebagai potensi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya