Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Kulit Buah Jadi Energi, Eksperimen Sederhana yang Ubah Cara Pandang tentang Sampah

Kompas.com, 9 Februari 2026, 18:49 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Editor

KOMPAS.com - Kegelisahan melihat sampah yang terus menumpuk di lingkungan sekolah mendorong Nurlela Ramadani Marpaung, guru di SMAN 2 Bandar, Sumatera Utara, mencoba cara lain.

Nurlela mengembangkan prototipe bio baterai dari limbah kulit buah dan baterai bekas, sebuah eksperimen sederhana yang mengantarkannya meraih posisi runner-up kategori Nature Conservation Project dalam kompetisi ASRI 2025.

Baca juga:

Dengan daya sekitar 1,2 volt yang mampu bertahan hingga tujuh jam, inovasi ini menunjukkan potensi pengurangan polusi limbah beracun hingga 73 persen.

Di banyak sekolah, persoalan sampah sering dipandang sebagai urusan kebersihan semata. Sampah dikumpulkan, dibuang, lalu selesai.

Namun, bagi Nurlela, kebiasaan itu justru menyisakan pertanyaan. Jika sampah terus dihasilkan setiap hari, apakah membuangnya saja sudah cukup?

Pertanyaan tersebut membuatnya berhenti sejenak dan melihat kembali lingkungan sekolah. Sampah tercampur, menumpuk, dan jarang dimanfaatkan. Dari situ muncul kesadaran bahwa persoalan ini tidak bisa dibiarkan berjalan seperti biasa.

Baca juga:

Ketika sampah dikelola dengan cara berbeda

Nurlela memilih untuk tidak berhenti pada keluhan. Ia mulai bereksperimen dengan bahan-bahan yang ada di sekitar. Limbah kulit buah dipadukan dengan baterai bekas untuk menghasilkan sumber energi bio elektrolit sederhana.

Prosesnya jauh dari instan. Percobaan dilakukan berulang kali, dari mencoba komposisi hingga mengamati kestabilan daya. Tidak semua berjalan mulus.

Namun, setiap kegagalan justru membuka pemahaman baru tentang bagaimana sampah bisa diolah, bukan sekadar dibuang.

Di titik ini, sampah mulai dilihat secara berbeda. Sampah bukan lagi dipikirkan sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai bahan yang masih bisa digunakan kembali

Mengajak lingkungan ikut terlibat

Proyek bio baterai ini tidak berjalan sendirian. Nurlela melibatkan warga sekolah agar ide ini tidak berhenti sebagai eksperimen pribadi.

Ia mengajak untuk melihat langsung prosesnya, berdiskusi, dan mencoba memahami logika di baliknya.

Dari situ, muncul semangat bersama. Bukan soal seberapa besar energi yang dihasilkan, melainkan tentang bagaimana kebiasaan baru bisa mulai dibangun. Bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari alat besar atau teknologi rumit.

Saat cara pandang mulai bergeser

Prototipe Biobaterai Limbah Kulit Buah oleh Nurlela Ramadani Marpaung.Dok. Tim Prototipe Biobaterai Limbah Kulit Buah oleh Nurlela Ramadani Marpaung.

Seiring berjalannya proyek, Nurlela menyadari bahwa yang paling berubah bukan hanya bentuk inovasinya, tapi cara memandang masalah itu sendiri. Sampah yang sebelumnya dianggap beban mulai dipikirkan sebagai potensi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau