Editor
KOMPAS.com - Pengelolaan sampah di sekolah sering dianggap urusan internal. Namun, bagi tim Smart-Ho dari SMKN 3 Mandau, Riau, persoalan muncul ketika sistem di sekolah sudah berjalan baik, sedangkan lingkungan di sekitarnya masih bergelut dengan penumpukan sampah tanpa pengelolaan.
Dari kondisi itu, tim yang beranggotakan Alfi Sunny, Nabila Olivia, Ridho Ady, Siti Nur Amalia, dan Yovie Fauzulia, ini mengembangkan platform bank sampah digital.
Baca juga:
Platform itu menghubungkan pemilahan, penjemputan melalui mitra ojek, dan sistem poin berbasis aplikasi. Inisiatif ini mengantarkan Smart-Go meraih posisi Runner-Up kategori Waste Management Project dalam ASRI Awards 2025.
Di sekolah, sampah tidak berserakan. Siswa terbiasa memilah dan mengolah limbah.
Tidak adanya kantin membuat sebagian besar siswa membawa bekal dari rumah, lalu membawa kembali wadah makan mereka. Lingkungan sekolah relatif bersih dan tertib.
Namun, kondisi itulah yang menimbulkan pertanyaan. Jika sampah di sekolah terbatas, sedangkan di luar pagar sekolah sampah masih menumpuk dan kecamatan bahkan belum memiliki tempat pembuangan akhir, apakah bank sampah hanya akan berhenti sebagai program internal?
Pertanyaan itu mengubah arah Smart-Go. Mereka tidak lagi fokus pada bagaimana mengolah sampah di sekolah, tapi bagaimana menghadirkan sistem yang bisa menjangkau lingkungan sekitar.
Tidak hanya untuk menambah pasokan bahan olahan, tapi juga membantu wilayah yang belum memiliki tata kelola sampah yang memadai.
Smart-Go kemudian membangun platform digital yang mempertemukan masyarakat dengan bank sampah sekolah.
Warga memilah sampah dari rumah, kemudian penjemputan dilakukan oleh mitra ojek dan seluruh proses tercatat dalam sistem poin. Sampah bergerak, data tercatat, dan lingkungan perlahan menjadi lebih rapi.
Dampaknya tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Proyek ini membuka peluang kerja bagi orangtua siswa yang terlibat dalam proses penjemputan dan pengolahan.
Sekolah pun berkembang menjadi ruang belajar terbuka, tempat praktik baik dibagikan dan dipelajari bersama.
Baca juga:
Aplikasi Smart-Go tim SMKN 3 Mandau.Perjalanan ini tidak selalu mulus. Mengubah kebiasaan masyarakat membutuhkan waktu.
Smart-Go memilih pendekatan yang pelan, membangun aturan yang jelas, menanamkan komitmen, lalu menjaganya bersama.
Edukasi berjalan berdampingan dengan praktik, sedangkan kepedulian tumbuh menjadi kebiasaan.
Salah satu momen yang paling membekas datang dari dampak kecil yang terasa nyata. Hasil pengelolaan sampah membantu orangtua siswa melunasi sebagian biaya seragam.
Apresiasi dari Camat Bathin Solapan dan pihak industri setempat pun menjadi penguat bahwa upaya ini benar-benar memberi arti.
Bagi Smart-Go, pencapaian ini bukan semata soal aplikasi atau penghargaan. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang bahwa sampah tidak hanya persoalan lingkungan, tapi juga soal sistem, kolaborasi, dan keberanian melibatkan lebih banyak orang.
Jika sebuah sekolah bisa memulai perubahan di lingkungannya sendiri, mungkin pertanyaannya tinggal satu. Di sekitar kita, persoalan apa yang sebenarnya sudah bisa mulai ditangani hari ini?
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya