Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hadapi Banjir Rob dan Abrasi, BRIN Rancang Tanggul Tegak Multifungsi

Kompas.com, 20 Februari 2026, 10:28 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi atau TTMF untuk mengatasi banjir rob dan abrasi di wilayah pesisir.

TTMF dirancang sebagai struktur tanggul laut berbasis blok modular beton yang ramping dan hemat material. Desain ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan akan tanggul yang kuat, tapi tetap ramah lingkungan.

Baca juga:

Peneliti Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Dinar Catur Istiyanto, mengatakan, pengembangan TTMF berangkat dari kebutuhan akan alternatif desain tanggul yang tetap memenuhi standar keselamatan struktur tanpa memberi tekanan berlebihan terhadap lingkungan.

"Struktur tanggul urugan itu membutuhkan pasir dan batuan dalam jumlah sangat besar. Sumber materialnya mau tidak mau diambil dari gunung atau laut, dan ini tentu berdampak pada lingkungan," kata Dinar, dilansir dari Antara, Jumat (20/2/2026).

Tanggul TTMF, solusi untuk hadapi banjir rob dan abrasi

TTMF dirancang tegak berbahan beton bertulang

Ilustrasi banjir rob merendam dua RT di Jakarta Utara. BRIN mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) untuk atasi banjir rob, abrasi, dan kenaikan muka air laut. KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Ilustrasi banjir rob merendam dua RT di Jakarta Utara. BRIN mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) untuk atasi banjir rob, abrasi, dan kenaikan muka air laut.

Berbeda dengan tanggul konvensional yang melebar hingga ratusan meter ke arah laut, TTMF dirancang dengan konfigurasi tegak atau vertical seawall berbahan beton bertulang.

Desain ini disebut membuat penggunaan ruang menjadi lebih efisien.

Struktur TTMF menggunakan sistem blok modular atau caisson. Blok-blok ini disusun seperti kepingan lego.

Sistem ini membuat perencanaan dan pelaksanaan konstruksi menjadi lebih fleksibel. Desainnya juga disesuaikan dengan kemampuan alat berat yang tersedia di dalam negeri.

"Blok-blok beton ini diproduksi di darat dengan berat yang disesuaikan kapasitas crane nasional, sekitar 60 ton per blok, lalu disusun di lokasi. Dengan cara ini, konstruksi bisa berlangsung lebih cepat," tutur Dinar.

Keunggulan utama TTMF adalah efisiensi ruang. Lebar tanggul bisa disesuaikan dengan kebutuhan fungsi di atasnya.

Jika dirancang sebagai pendukung jalan raya, lebarnya cukup 10 hingga 20 meter, jauh lebih sempit dibanding tanggul urugan konvensional.

Sesuai namanya, TTMF tidak hanya berperan sebagai pelindung pantai dari gelombang laut, tapi juga tanggul waduk kedap air. Bahkan, TTMF dirancang untuk mengemban fungsi tambahan yang bernilai ekonomi.

Baca juga:

Ilustrasi banjir rob. Banjir akibat pasang air laut mengenangi kawasan Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (11/11/2021). BRIN mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) untuk atasi banjir rob, abrasi, dan kenaikan muka air laut. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Ilustrasi banjir rob. Banjir akibat pasang air laut mengenangi kawasan Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis (11/11/2021). BRIN mengembangkan desain Tanggul Tegak Multifungsi (TTMF) untuk atasi banjir rob, abrasi, dan kenaikan muka air laut.

Salah satu inovasi penting dalam desain ini adalah integrasi sistem penangkap energi gelombang laut tipe Oscillating Water Column atau OWC. Teknologi ini memungkinkan energi gelombang laut dikonversi menjadi listrik.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau