Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan

Kompas.com, 6 Februari 2026, 19:05 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kebocoran gas asam nitrat (HNO3) dari area PT VTM di Cilegon, Banten, harus segera dinetralkan, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kepala Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Roni Maryana menjelaskan, hal itu karena asam nitrat sangat berbahaya jika terhirup manusia. Penetralan zat asam dilakukan menggunakan basa dengan konsentrasi rendah dan diaplikasikan secara bertahap.

Baca juga: 

"Kalau dalam kondisi di lapangan bisa disiram oleh air lah katakanlah dari damkar (pemadam kebakaran), disemprotkan ke gas yang masih ada," kata Roni ketika dihubungi Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

"Nanti airnya itu yang dikasih amonium hidroksida di airnya, atau bisa juga dicampurkan ke air untuk penyemprot di damkar basa lemah dengan konsentrasi rendah," imbuh dia.

Gas asam nitrat bocor di Cilegon harus dinetralkan

Tiap bahan kimia punya panduan keselamatan

Roni menekankan pentingnya penerapan prosedur penanganan bahan kimia secara ketat untuk mencegah kejadian serupa.

Setiap bahan kimia, lanjut dia, sudah memiliki panduan keselamatan yang tercantum dalam Material Safety Data Sheet (MSDS).

"Itu sebetulnya kalau diikuti saja oleh perusahaan atau pihak-pihak yang menggunakan seharusnya kejadian tersebut bisa diantisipasi," tuturnya. 

Selain itu, perusahaan harus mengecek reaktor secara berkala guna mendeteksi lebih awal apabila ada kebocoran gas berbahaya.

"Kita harus menginvestigasi sebetulnya kesalahannya di mana ya, apakah human error (kelalaian manusia) ataukah memang peralatannya yang kurang maintenance (perawatan) atau seperti apa," tutur Roni.

Baca juga: Mengenal Limbah B3 Rumah Tangga yang Berbahaya Bagi Lingkungan dan Kesehatan

BRIN menyampaikan, kebocoran gas asam nitrat di Cilegon sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Penetralan harus segera dilakukan.Unsplash/Towfiqu barbhuiya BRIN menyampaikan, kebocoran gas asam nitrat di Cilegon sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Penetralan harus segera dilakukan.

Sebagai informasi, asap kuning membumbung tinggi di sekitar area PT VTM yang diketahui mengandung asam nitrat.

Roni menjelaskan bahwa asam nitrat tergolong asam kuat dan bersifat toksik saat terhirup.

Paparan uapnya dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, dan kerusakan jaringan paru-paru.

"Penanganannya di laboratorium pun enggak boleh di ruangan terbuka, ada ruangan khusus namanya ruang asam atau fume hood. Karena kan asapnya sangat berbahaya, kalau kehirup itu bisa menyebabkan iritasi ke mata maupun ke pernapasan," jelas Roni.

Uap asam nitrat yang lepas ke udara juga dapat membentuk gas nitrogen oksida (NOx) yang berpotensi memicu hujan asam. Kondisi ini dapat menurunkan tingkat keasaman air atau pH antara tiga sampai lima dan membahayakan ekosistem perairan.

"Jadi ke lingkungan bahaya, ke manusia bahaya, maupun ke benda-benda seperti besi kalau kena uap asam nitrat bisa korosi. Karena kan oksidator yang kuat," terang Roni.

Baca juga: Riset BRIN: Angka Partisipasi Kasar Anak Masuk PAUD Hanya 46 Persen

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
LSM/Figur
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Pemerintah
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
LSM/Figur
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Pemerintah
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Pemerintah
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Swasta
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Pemerintah
Ancaman Penambangan Laut Dalam, Kehidupan Dasar Laut Bisa Hilang
Ancaman Penambangan Laut Dalam, Kehidupan Dasar Laut Bisa Hilang
LSM/Figur
Pestisida Kian Beracun, Studi Ungkap Ancaman Serius bagi Satwa Liar
Pestisida Kian Beracun, Studi Ungkap Ancaman Serius bagi Satwa Liar
LSM/Figur
Asap Kuning Asam Nitrat di Cilegon Berbahaya, BRIN Jelaskan Dampaknya
Asap Kuning Asam Nitrat di Cilegon Berbahaya, BRIN Jelaskan Dampaknya
Pemerintah
Mandatori Biodiesel Sawit Hemat Devisa Rp 720 Triliun dan Tekan Emisi 228 Juta Ton CO2
Mandatori Biodiesel Sawit Hemat Devisa Rp 720 Triliun dan Tekan Emisi 228 Juta Ton CO2
Swasta
Tracer Study ungkap Lulusan IPB University Masuk Dunia Kerja Kurang dari 4 Bulan
Tracer Study ungkap Lulusan IPB University Masuk Dunia Kerja Kurang dari 4 Bulan
Pemerintah
Menghidupkan Kembali Green House Sekolah, Guru di Gorontalo Ajak Siswa Belajar dari Limbah
Menghidupkan Kembali Green House Sekolah, Guru di Gorontalo Ajak Siswa Belajar dari Limbah
LSM/Figur
RDF Rorotan Dinilai Efektif Kurangi Beban Sampah Jakarta
RDF Rorotan Dinilai Efektif Kurangi Beban Sampah Jakarta
Pemerintah
Bukan tentang Sampah, Pameran Seni Daur Ulang yang Libatkan Warga Jakarta
Bukan tentang Sampah, Pameran Seni Daur Ulang yang Libatkan Warga Jakarta
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau