JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti perubahan hidrologi wilayah akibat masifnya alih fungsi lahan di Jakarta.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa menilai, tutupan hutan pohon di Jakarta berubah menjadi hutan beton.
Baca juga:
Ruang terbuka hijau (RTH) pun makin sempit seiring dibangunnya pencakar langit. Hal ini memicu risiko banjir di hampir seluruh wilayah Jakarta.
"Jakarta ini sekarang permukaannya sudah sebagian besar tertutup lapisan yang tidak bisa menembus air disebut juga impermeable layer. Ada atap gedung, parkiran disemen beton maupun dari aspal tidak bisa ditembus kecuali sangat sedikit," kata Budi dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
Alhasil, jika curah hujan tinggi maka air akan melimpas ke daerah sekitarnya hingga menyebabkan banjir.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Budi Heru Santosa menjelaskan banjir di Jakarta, Rabu (4/2/2026). Dia menjelaskan, Jakarta dilintasi 13 sungai utama, termasuk Ciliwung, Krukut, Angke, Pesanggrahan, dan Sunter.
Sungai-sungai tersebut menjadi jalur utama aliran air dari wilayah hulu seperti Bogor, Depok, dan Tangerang sebelum bermuara ke Jakarta.
"Ketika air laut pasangnya sangat tinggi, hujan deras di seluruh wilayah DAS (daerah aliran sungai) mulai dari puncak, Jakarta, Bogor, Depok dan sebagainya sangat besar debitnya yang masuk ke Jakarta dan di Jakarta juga hujan di situlah kombinasi yang paling parah berpotensi terjadi," tutur Budi.
Okupasi sempadan sungai, penumpukan sampah, dan sedimentasi yang memperkecil kapasitas sungai menampung air turut menyebabkan banjir di Jakarta.
Selain itu, penurunan muka tanah (land subsidence) menjadi faktor penyebab banjir Jakarta. Budi menyatakan, di beberapa lokasi di Jakarta penurunan tanah tercatat mencapai hingga belasan sentimeter per tahun.
Banjir merendam Jalan Daan Mogot KM 13 dekat Rumah Pompa Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (29/1/2026) malamPenyebab utamanya, karakter alami tanah aluvial serta pengambilan air tanah berlebihan di permukiman padat penduduk dan sektor industri.
"Tanah pasti ada kandungan airnya, ketika airnya disedot tidak serta-merta dia akan terisi oleh air yang baru. Otomatis hubungan antara pori-pori ada yang kosong, di sana akan terjadi pemampatan, akan turun pelan sedikit demi sedikit juga terjadi konsolidasi," jelas Budi.
Maka dari itu, pemerintah daerah harus mengantisipasi dengan menyediakan air perpipaan yang layak untuk masyarakat.
Baca juga:
Budi berpandangan, pembangunan ruang limpah sungai atau kolam retensi yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI sudah tepat. Ruang ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara saat debit sungai meningkat.
Dalam jangka pendek, Budi mendorong adanya perbaikan sistem drainase, penguatan sistem peringatan dini banjir berbasis data dan kecerdasan buatan (AI atau Artificial Intelligence), serta percepatan pembangunan infrastruktur pengendali banjir.
Sementara itu, untuk jangka panjang, dia merekomendasikan pembatasan pengambilan air tanah, penerapan solusi berbasis alam (nature-based solutions), dan penataan ruang berbasis mitigasi bencana.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya