Meskipun jumlah grafena yang telah diproduksi menggunakan proses baru masih kecil, proses ini dapat dikomersialkan dalam waktu tiga hingga empat tahun dengan pengembangan lebih lanjut.
Prof. Yeoh mengatakan bahwa berbagai macam limbah organik lainnya berpotensi digunakan untuk menghasilkan hasil yang serupa.
"Kami telah menggunakan kacang tanah sebagai studi kasus, tetapi bahan utama dalam proses ini adalah lignin yang terdapat di banyak tanaman berbeda," katanya.
Lignin merupakan polimer alami yang terdapat pada tumbuhan yang mengandung banyak karbon.
Peneliti pun berencana untuk melakukan eksperimen dengan bahan lain, seperti ampas kopi, atau kulit pisang, atau apa pun yang dapat memberi kita arang yang baik untuk kemudian diubah menjadi grafena.
"Apa yang telah kami lakukan benar-benar menyoroti potensinya untuk digunakan dalam manufaktur biomassa ke grafena skala besar," pungkas Prof. Yeoh.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya