KOMPAS.com - Bungkil atau limbah padat hasil pengepresan biji (Calophyllum inophyllum) tanaman nyamplung dalam industri biofuel dapat diolah menjadi pakan ternak. Langkah ini bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) metana (CH4) sektor peternakan.
"Nah, menariknya bungkil nyamplung ini, di riset-riset awal kami sebelumnya ternyata bisa menjadi salah satu sumber protein," kata dosen Fakultas Peternakan UGM, Dimas Hand Vidya Paradhipta dalam webinar Pemanfaatan Limbah Industri Biofuel Nyamplung Menuju Hilirisasi, Rabu (28/1/2026).
Baca juga:
Ilustrasi Calophyllum inophyllum. Limbah biofuel nyamplung bisa diolah jadi pakan ternak kaya protein. Riset UGM menunjukkan pakan ini mampu menekan emisi metana.Pakan jadi salah satu komponen biaya yang cukup tinggi, atau sekitar 70 persen, untuk peternakan unggas, sedangkan ada 40 persen bagi ruminansia dari total produksi. Kualitas pakan berdampak terhadap kinerja peternakan, antara lain susu dan daging.
Peternak di Indonesia disebut jarang memberikan konsentrat atau pakan tambahan yang kaya nutrisi. Opsi konsentrat dengan sumber protein di Indonesia tidak terlalu banyak sehingga perlu adanya pakan alternatif baru bagi peternak dan industri.
Mencari pakan yang secara natural mengandung metabolit sekunder menjadi tren di sektor peternakan saat ini, yang mana banyak ditemukan dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Kadar metabolit sekunder berlebihan pada ternak justru akan menjadi toksik, menyebabkan penurunan performa dan keracuranan. Kadar metabolit sekunder pada ternak harus proporsional juga berdampak terhadap penurunan emisi gas metana.
Dengan menekan emisi metana melalui pakan dari olahan bungkil nyamplung, sektor peternakan di Indonesia dapat menjadi ramah lingkungan, selaras dengan tren di Eropa. Peternakan termasuk salah satu sektor yang menyumbang emisi metana terbesar.
Dimas menuturkan, bungkil nyamplung ternyata juga punya kandungan senyawa metabolit sekunder.
"Jadi,tidak hanya di minyaknya, tapi di limbahnya pun masih mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, seperti tanin, saponin, fenol, dan flavonoid," kata Dimas.
Baca juga:
Limbah biofuel nyamplung bisa diolah jadi pakan ternak kaya protein. Riset UGM menunjukkan pakan ini mampu menekan emisi metana.Dimas menyampaikan, pengembangan pakan dari olahan bungkil nyamplung yang natural tanpa aditif dapat menurunkan emisi gas metana pada sektor peternakan.
Ketika dibandingkan dengan pakan alternatif lain dari bungkil kelapa sawit, kopra, daun lamtoro, dan malapari, nyamplung menghasilkan emisi gas metana terendah.
Berdasarkan hasil uji in vivo pada domba, pakan dari olahan bungkil nyamplung dapat meningkatkan persentase karkas dan lemak marbling pada daging.
Pakan dari olahan bungkil nyamplung juga meningkatkan kandungan asam lemak tak jenuh dalam daging, yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi manfaat kesehatan daging.
"Ini mampu menurunkan emisi gas metana karena mereka bisa memodifikasi fermentasi yang ada di dalam ruminansia. Nah, inilah yang menyebabkan kita kok kayak prospek ini untuk kemudian dikembangkan menjadi salah satu pakan alternatif," tutur Dimas.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya