Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Limbah Kulit Kacang Bisa Jadi Material Terkuat di Bumi, Baik untuk Alat Elektronik

Kompas.com, 2 Maret 2026, 12:33 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kulit kacang tanah yang sudah tidak terpakai bisa digunakan untuk membuat graphene (grafena), salah satu material paling kuat di bumi, menurut para peneliti di University of New South Wales (UNSW), Australia.

Perkembangan ini membuka pintu bagi perangkat elektronik dan alat penyimpanan energi yang lebih murah dan berkelanjutan, serta dapat membantu mengubah limbah pertanian menjadi produk bernilai guna di dalam ponsel dan komputer yang digunakan setiap hari oleh miliaran orang di seluruh dunia.

Penelitian ini dipublikasikan di Chemical Engineering Journal Advances.

Baca juga: 

Ilmuwan buat material paling kuat di dunia dari kulit kacang

Apa itu grafena?

Peneliti ubah kulit kacang tanah menjadi grafena berkualitas tinggi. Inovasi ini berpotensi membuat baterai dan elektronik lebih berkelanjutan.PIXABAY/ANNETTE MEYER Peneliti ubah kulit kacang tanah menjadi grafena berkualitas tinggi. Inovasi ini berpotensi membuat baterai dan elektronik lebih berkelanjutan.

Profesor Guan Yeoh, yang memimpin tim peneliti, menuturkan bahwa grafena dikenal sebagai salah satu material tertipis, terkuat, dan paling konduktif yang dikenal dalam sains, dilansir dari Phys.org, Jumat (2/3/2026).

Grafena terdiri dari satu lapisan atom karbon yang tersusun dalam kisi heksagonal, tapi ratusan kali lebih kuat daripada baja. Material ini juga enghantarkan listrik dan panas lebih baik daripada tembaga, dan hampir sepenuhnya transparan.

Karakteristik tersebut membuat grafena sangat berguna dalam berbagai teknologi, dari baterai dan panel surya hingga layar sentuh, elektronik fleksibel, dan transistor super cepat.

Namun, grafena mahal dan sulit diproduksi dalam jumlah besar karena membutuhkan bahan kimia dan metode yang membutuhkan banyak energi. Itulah mengapa menemukan alternatif yang berkelanjutan dan terjangkau sangat bermanfaat.

Saat ini, tim peneliti UNSW berhasil mengembangkan proses untuk membuat grafena dari sesuatu yang biasanya dibuang orang: Kulit kacang.

"Ada sekitar 55 juta ton metrik hasil panen kacang yang diproduksi secara global setiap tahun, namun sebagian besar limbah dari kulitnya dibuang atau didaur ulang menjadi aplikasi bernilai rendah yang tidak memaksimalkan potensi penuhnya," kata Prof. Yeoh.

“Apa yang telah kami tunjukkan dalam penelitian ini adalah bahwa kulit kacang tanah biasa dapat diubah menjadi grafena berkualitas tinggi, menggunakan energi yang jauh lebih rendah daripada yang dibutuhkan saat ini dan karenanya dengan biaya yang lebih rendah. Kami juga tidak perlu menggunakan bahan kimia apa pun, sehingga ada manfaat lingkungan tambahan," tambah dia. 

Grafena berguna untuk membuat material yang lebih kuat, lebih ringan, dan lebih konduktif untuk aplikasi di bidang elektronik, penyimpanan energi, perangkat medis, dan bahkan teknologi fleksibel seperti sensor, sel surya, dan teknologi yang dapat dikenakan.

Permintaan untuk banyak hal tersebut meningkat pesat sehingga menarik untuk menemukan cara memproduksi lebih banyak grafena dengan cara yang hemat biaya dan dengan menggunakan material yang seharusnya menjadi limbah.

Baca juga:

Potensi limbah organik lainnya

Peneliti ubah kulit kacang tanah menjadi grafena berkualitas tinggi. Inovasi ini berpotensi membuat baterai dan elektronik lebih berkelanjutan.PIXABAY/IVABALK Peneliti ubah kulit kacang tanah menjadi grafena berkualitas tinggi. Inovasi ini berpotensi membuat baterai dan elektronik lebih berkelanjutan.

Meskipun jumlah grafena yang telah diproduksi menggunakan proses baru masih kecil, proses ini dapat dikomersialkan dalam waktu tiga hingga empat tahun dengan pengembangan lebih lanjut.

Prof. Yeoh mengatakan bahwa berbagai macam limbah organik lainnya berpotensi digunakan untuk menghasilkan hasil yang serupa.

"Kami telah menggunakan kacang tanah sebagai studi kasus, tetapi bahan utama dalam proses ini adalah lignin yang terdapat di banyak tanaman berbeda," katanya.

Lignin merupakan polimer alami yang terdapat pada tumbuhan yang mengandung banyak karbon.

Peneliti pun berencana untuk melakukan eksperimen dengan bahan lain, seperti ampas kopi, atau kulit pisang, atau apa pun yang dapat memberi kita arang yang baik untuk kemudian diubah menjadi grafena.

"Apa yang telah kami lakukan benar-benar menyoroti potensinya untuk digunakan dalam manufaktur biomassa ke grafena skala besar," pungkas Prof. Yeoh.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau