Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?

Kompas.com, 4 Maret 2026, 08:49 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pekerja Generasi Z (Gen Z) kerap mendapat kritikan terkait kinerja di perusahaan, dari pemalas, tidak disiplin, hingga tak bisa diandalkan. Bahkan, dalam kolom viral di Wall Street Journal tahun 2025, Gen Z disebut berpotensi tidak dapat dipekerjakan.

Para ahli berpandangan setiap generasi menghadapi berbagai pengawasan saat memasuki dunia kerja. Generasi Milenial dulunya dicap sebagai pemalas delusional, narsistik, dan tidak dapat diandalkan, tuduhan yang saat ini dilayangkan kepada generasi Z.

Baca juga: 

Kondisi yang lebih intens dialami Gen Z di tempat kerja.

“Setiap generasi cenderung mengeluh tentang generasi di sebelahnya. Dulu semua orang membenci generasi Milenial, dan sekarang giliran generasi Z," kata psikolog organisasi di Wharton Business School, Adam Grant, dilansir dari The Guardian, Selasa (3/3/2026).

Gen Z dianggap pemalas dan lemah

Lahir di tengah kondisi ekonomi dan politik yang berbeda

Gen Z kerap dinilai sebagai pekerja pemalas dan tidak bisa diandalkan oleh generasi di atasnya. Benarkah demikian?Pexels/Anamul Rezwan Gen Z kerap dinilai sebagai pekerja pemalas dan tidak bisa diandalkan oleh generasi di atasnya. Benarkah demikian?

Menurut Grant, generasi yang lebih tua juga cenderung membandingkan kemampuan mereka dengan kelemahan generasi di bawahnya. Generasi ini kerap melebih-lebihkan kesenjangan dan menggambarkan generasi muda dalam sudut pandang negatif.

“Kita cenderung membandingkan (generasi muda) dengan diri kita saat ini, yang merupakan kesalahan karena kebanyakan orang lebih narsis dan egois pada usia 20 tahun daripada pada usia 40 tahun. Itu bagian dari perkembangan dan kedewasaan," jelas Grant.

Gen Z tumbuh besar menyaksikan sejumlah institusi keuangan dan politik, gagal memenuhi janji-janji stabilitas dan kemakmuran, yang mana menanamkan rasa kurang percaya yang mendalam.

Akhirnya, bagi banyak pekerja muda, kepercayaan antara karyawan dengan perusahaan sudah tidak ada lagi.

“Sudah berlalu masa-masa ketika Anda bekerja di satu perusahaan, bertahan di sana selama 35 tahun, dan berencana pensiun di sana, serta mengharapkan mereka untuk mengurus Anda. Jika Anda melihat jumlah pengurangan karyawan dan PHK massal yang telah terjadi, itu adalah pengkhianatan besar (terhadap karyawan)," ujar Grant.

Baca juga:

Gen Z berbeda dengan generasi sebelumnya

Gen Z kerap dinilai sebagai pekerja pemalas dan tidak bisa diandalkan oleh generasi di atasnya. Benarkah demikian?Pexels Gen Z kerap dinilai sebagai pekerja pemalas dan tidak bisa diandalkan oleh generasi di atasnya. Benarkah demikian?

Sementara itu, salah satu pendiri jenama produk menstruasi, August, Nadya Okamoto mengaku tidak setuju dengan kritik yang ditujukan kepada gen Z.

Menurut Okamoto, generasi muda lebih berkontribusi terutama keterampilan yang belum ada selama puluhan tahun.

“Generasi Z mendapat reputasi buruk karena merasa berhak, karena menginginkan ekspektasi tertentu seperti keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi," tutur Okamoto.

Generasi Z berbeda dari generasi sebelumnya, dalam beberapa hal. Fleksibilitas, tujuan, dan kesejahteraan karyawan lebih penting daripada lembur dan promosi bagi pekerja muda. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau