Dalam survei Deloitte yang diterbitkan tahun 2025, ditemukan lebih dari setengah karyawan generasi Z melaporkan menggunakan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) secara teratur dalam pekerjaan mereka.
Gen Z mengoptimalkan alat kecerdasan buatan untuk menyelesaikan tugas 10 jam hanya dalam lima jam. Menurut riset Deloitte, 89 persen pekerja gen Z dan 92 persen generasi Milenial menganggap tujuan sangat atau agak penting bagi kepuasan kerja mereka.
Di sisi lain, perusahaan yang memecat atau mengabaikan staf Gen Z pada akhirnya akan membahayakan kinerja secara keseluruhan.
Menurut ahli strategi kepemimpinan dan budaya, Madeline Miller hal ini bukanlah pilihan bagi perusahaan. Sebab, gagal menerapkannya berarti berisiko meruntuhkan korporasi.
“Generasi Z akan mengubah cara kita bekerja sepenuhnya. Beradaptasi berarti perusahaan harus memiliki rasa ingin tahu tentang generasi Z, dan mengintegrasikan pengembangan pribadi dan profesional daripada memaksakan struktur, hierarki, dan model kepemimpinan yang sudah ada kepada mereka," jelas Miller.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya