JAKARTA, KOMPAS.com - Bekerja di atas 40 jam sepekan kini menjadi rutinitas sehari-hari banyak generasi muda. Iming-iming jam kerja fleksibel justru membuat mereka terpaksa bekerja berlebihan atau overwork.
Kondisi tersebut dirasakan Faiz, jurnalis salah satu media online di Indonesia. Pria berusia 25 tahun itu mengaku bisa bekerja 12 jam per hari selama lima hari.
Artinya ia bekerja 60 jam sepekan, di atas waktu rata-rata yang diatur Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Menjelang malam, pekerjaannya pun belum benar-benar selesai karena masih harus menunggu narasumber keluar dari gedung, berharap bisa mendapatkan pernyataan singkat (doorstop).
Baca juga: Generasi Sandwich Mudah Burnout akibat Beban Ekonomi dan Tekanan Kerja
"(Bekerja) 60 jam itu rata-rata ya, bisa lebih dari itu kalau menunggu agenda liputan di malam hari misalnya doorstop," kata Faiz kepada Kompas.com, Selasa (17/2/2026).
Setiap harinya, Faiz bisa bepergian ke beberapa lokasi yang berbeda. Pada kondisi seperti itu, waktu istirahat menjadi barang mewah baginya.
"Awalnya saya anggap bekerja dengan waktu fleksibel itu baik, menyesuaikan kondisi bisa tarik napas lebih lega, ternyata tidak," tutur Faiz.
Ketika ditanya apakah pekerjaannya senilai dengan upah yang diterima, ia hanya tersenyum tipis. Dalam satu bulan, Faiz menerima upah sekitar Rp 7 juta di tengah harga kebutuhan pokok yang makin mahal.
Oleh karenanya, Faiz kerap mengambil pekerjaan sampingan sebagai fotografer di saat senggang untuk menambah penghasilan. Di sisi lain, dia tetap menyukai pekerjaannya sebagai jurnalis.
Baca juga: PBB Sebut Kerja Sama Iklim Global Terancam, Ajak Negara untuk Bersatu
"Keuntungannya bisa menulis dari berbagai angle apapun, tanpa ada benturan kepentingan dengan pihak yang ingin ditulis. Itu menjadi salah satu kebebasan berekspresi ya," sebut dia.
Hal serupa dialami Karen (27), yang bekerja sebagai tenaga kesehatan di salah satu rumah sakit di Depok, Jawa Barat. Sehari-hari, Karen bisa bekerja antara enam hingga 10 jam dengan tambahan lembur dua jam.
"Pekerjaan ini termasuk overwork karena sering pulang lewat dari jam seharusnya. Biasanya karena menylesaikan kerjaan atau kondisi pasien perburukan," tutur Karen.
Karen menilai, pekerjaan menjadi perawat tak sepadan dengan gaji yang diterimanya yakni sekitar Rp 5,5 juta per bulan. Sebab, tuntutan di luar tanggung jawabnya masih harus dikerjakan setiap harinya.
"Saya merasa (gaji) tidak worth it karena ada beberapa jobdesk (pekerjaan) yang seharusnya bukan kerjaan perawat tetapi dikerjakan sama perawatnya. Beban dan tuntutan kerja makin nambah, tetapi gaji enggak nambah," beber dia.
Fenomena overwork lebih banyak terjadi di sektor informal. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 25,47 persen penduduk Indonesia bekerja dengan jam kerja lebih dari 49 jam per pekan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya