Alasan di balik penipuan produk laut ini tak lain tak bukan adalah faktor ekonomi. Misalnya saja di AS, salmon budidaya dapat dijual seharga sekitar Rp 63.800 per ekor.
Sementara itu, ikan liar dengan berat yang sama laku sekitar Rp 127.600. Spesies mahal seperti kod, ikan sebelah (flounder), dan pink cusk eel juga menjadi target utama penipuan.
Sebenarnya ada sejumlah cara yang dapat digunakan oleh para pejuang anti-penipuan untuk mendeteksi penggantian spesies tersebut.
Cara itu mencakup pemeriksaan DNA sampel, analisis kimia, analisis isotop ikan, dan bahkan analisis sinar-X menggunakan perangkat portabel.
Namun, penipuan bukan sekadar masalah teknis, Gamarro menyebut itu juga berkaitan dengan masalah tata kelola.
"Penipuan tumbuh subur di mana pengawasannya terpecah-pecah, di mana penelusurannya lemah, dan di mana insentif untuk kepatuhan itu rendah," kata Gamarro.
"Para pembuat kebijakan seharusnya melihat pencegahan penipuan di sektor ini sebagai investasi dalam perdagangan yang adil, kesehatan masyarakat, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan," pungkasnya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya