KOMPAS.com - Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, demikian peringatan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB.
Penipuan ini, misalnya, menjual ikan nila sebagai kakap merah atau ikan budidaya sebagai ikan liar, hingga secara sembunyi-sembunyi membuat udang tiruan dari pasta ikan yang dicetak atau senyawa berbahan dasar pati.
Baca juga:
Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, menurut PBB.
Laporan menemukan, probabilitas global suatu produk perikanan atau akuakultur merupakan hasil penipuan adalah 20,6 persen, diikuti oleh daging sebesar 13,4 persen, kemudian buah-buahan dan sayuran sebesar 10,4 persen, dilansir dari Eco Business, Senin (9/3/2026).
Teknologi seperti DNA barcoding yang dapat mengidentifikasi spesies secara presisi sangat penting untuk mengatasi masalah ini.
"Penipuan pangan di sektor perikanan adalah isu global. Yang mengkhawatirkan adalah skala dan persistensi dari masalah ini, serta fakta bahwa hal ini memengaruhi setiap wilayah dan setiap segmen pasar," kata Esther Garrido Gamarro, seorang pejabat perikanan di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UNFAO).
Ia menambahkan, masalah ini bukan cuma soal kerugian ekonomi saja. Penipuan bisa menutupi bahaya kesehatan yang mengancam orang yang memakannya.
Selain itu, karena menjual barang terlarang jadi terasa lebih mudah dan untung besar, penipuan ini akhirnya makin menyudutkan spesies hewan yang terancam punah dan dilindungi.
Baca juga: Riset Akademisi Soroti Pentingnya Sistem Pangan Lokal yang Tangguh
Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, menurut PBB.Ada banyak cara dalam melakukan penipuan makanan laut. Salah satu praktik yang dianggap paling umum terjadi adalah menyajikan jenis spesies yang berbeda dari klaim kepada konsumen.
Hal ini paling sering terjadi di restoran, yang mana beberapa penelitian menunjukkan bahwa 30 persen makanan laut berbeda dengan klaim yang ditawarkan.
Laporan tersebut mencatat bahwa di beberapa lokasi, tingkat penipuan yang terdeteksi bahkan jauh lebih tinggi. Penelitian di Peru menemukan, 78 persen ceviche (hidangan ikan mentah) tidak sesuai dengan jenis ikan yang diklaim.
Sementara itu, para ilmuwan yang menguji makanan laut di China menemukan bahwa 75,5 persen di antaranya adalah spesies yang bahkan tidak berasal dari satu keluarga spesies sama dengan yang diharapkan.
Gamarro mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara telah memperkuat regulasi, memperluas persyaratan penelusuran dan berinvestasi pada laboratorium untuk mendeteksi penipuan. Kerja sama internasional juga telah meningkat.
“Pada saat yang sama, para pelaku penipuan beradaptasi dengan cepat, dan globalisasi perdagangan di sektor perikanan dan akuakultur serta kompleksitas sektor kita ini menyebabkan munculnya kerentanan,” tambahnya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya