Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu

Kompas.com, 9 Maret 2026, 15:03 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, demikian peringatan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB.

Penipuan ini, misalnya, menjual ikan nila sebagai kakap merah atau ikan budidaya sebagai ikan liar, hingga secara sembunyi-sembunyi membuat udang tiruan dari pasta ikan yang dicetak atau senyawa berbahan dasar pati.

Baca juga:

PBB imbau waspada penipuan di industri makanan laut

Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, menurut PBB.Dok. Freepik/Freepik Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, menurut PBB.

Laporan menemukan, probabilitas global suatu produk perikanan atau akuakultur merupakan hasil penipuan adalah 20,6 persen, diikuti oleh daging sebesar 13,4 persen, kemudian buah-buahan dan sayuran sebesar 10,4 persen, dilansir dari Eco Business, Senin (9/3/2026).

Teknologi seperti DNA barcoding yang dapat mengidentifikasi spesies secara presisi sangat penting untuk mengatasi masalah ini.

"Penipuan pangan di sektor perikanan adalah isu global. Yang mengkhawatirkan adalah skala dan persistensi dari masalah ini, serta fakta bahwa hal ini memengaruhi setiap wilayah dan setiap segmen pasar," kata Esther Garrido Gamarro, seorang pejabat perikanan di Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UNFAO).

Ia menambahkan, masalah ini bukan cuma soal kerugian ekonomi saja. Penipuan bisa menutupi bahaya kesehatan yang mengancam orang yang memakannya.

Selain itu, karena menjual barang terlarang jadi terasa lebih mudah dan untung besar, penipuan ini akhirnya makin menyudutkan spesies hewan yang terancam punah dan dilindungi.

Baca juga: Riset Akademisi Soroti Pentingnya Sistem Pangan Lokal yang Tangguh

Berbagai cara memalsukan

Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, menurut PBB.Dok. Shutterstock/SugarHoney Industri makanan laut global yang bernilai sekitar Rp 3.110 triliun semakin rentan terhadap penipuan, menurut PBB.

Ada banyak cara dalam melakukan penipuan makanan laut. Salah satu praktik yang dianggap paling umum terjadi adalah menyajikan jenis spesies yang berbeda dari klaim kepada konsumen.

Hal ini paling sering terjadi di restoran, yang mana beberapa penelitian menunjukkan bahwa 30 persen makanan laut berbeda dengan klaim yang ditawarkan.

Laporan tersebut mencatat bahwa di beberapa lokasi, tingkat penipuan yang terdeteksi bahkan jauh lebih tinggi. Penelitian di Peru menemukan, 78 persen ceviche (hidangan ikan mentah) tidak sesuai dengan jenis ikan yang diklaim.

Sementara itu, para ilmuwan yang menguji makanan laut di China menemukan bahwa 75,5 persen di antaranya adalah spesies yang bahkan tidak berasal dari satu keluarga spesies sama dengan yang diharapkan.

Gamarro mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara telah memperkuat regulasi, memperluas persyaratan penelusuran dan berinvestasi pada laboratorium untuk mendeteksi penipuan. Kerja sama internasional juga telah meningkat.

“Pada saat yang sama, para pelaku penipuan beradaptasi dengan cepat, dan globalisasi perdagangan di sektor perikanan dan akuakultur serta kompleksitas sektor kita ini menyebabkan munculnya kerentanan,” tambahnya.

Baca juga: 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau