Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Diprediksi Melanda Indonesia Jelang Mudik Lebaran 2026

Kompas.com, 10 Maret 2026, 15:05 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan akan melanda sejumlah wilayah menjelang momen mudik Lebaran 2026.

"Periode 11 sampai 16 Maret 2026 cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan sedang," kata BMKG dalam keterangan resminya, Selasa (10/3/2026).

Sebagai informasi, menurut Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, kepadatan arus mudik Lebaran 2026 diprediksi akan terjadi pada Senin (16/3/2026) dan Rabu (18/3/2026), dilaporkan oleh Kompas.com, Minggu (8/3/2026).

Baca juga: 

Hujan melanda Indonesia jelang mudik Lebaran 2026

Wilayah mana saja yang harus waspada?

Hujan intensitas sedang hingga lebat diperkirakan bakal terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.

Lalu di Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, serta Papua Selatan.

Selain itu, BMKG memprediksi hujan dengan intensitas lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi selama sepekan ke depan. Kondisi ini disebabkan dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.

Menurut BMKG, Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi bergeser ke fase 6 dan 7 yang menyebabkan konsentrasi pembentukkan awan hujan lebih dominan terjadi di Indonesia bagian timur.

Gelombang atmosfer, yaitu gelombang kelvin dan gelombang rossby ekuatorial juga diperkirakan aktif di Sumatera dan Kalimantan bagian utara, sebagian Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua.

Fenomena itu menyebabkan peningkatan aktivitas konvektif serta potensi hujan di wilayah tersebut.

"Di sisi lain, bibit siklon tropis 95W diprakirakan masih persisten berada di Samudera Pasifik Utara Papua. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum 20 knots, tekanan udara minimum 1006 hPa, dan pergerakan ke arah timur laut menjauhi wilayah Indonesia," tutur BMKG.

Baca juga:

Hujan diprediksi akan melanda beberapa wilayah di Indonesia dalam sepekan ke depan, termasuk jelang periode mudik Lebaran 2026.canva.com Hujan diprediksi akan melanda beberapa wilayah di Indonesia dalam sepekan ke depan, termasuk jelang periode mudik Lebaran 2026.

Bibit siklon itu menginduksi terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di Samudera Pasifik Utara Pulau Halmahera hingga utara Papua Barat. Daerah konvergensi lain juga diprakirakan terbentuk di sebagian besar wilayah Indonesia.

Dampaknya adalah peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar bibit siklon dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi.

Terpantau pula daerah tekanan rendah yang terbentuk di Australia bagian utara, menginduksi terbentuknya daerah pertemuan angin yang memanjang dari Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian selatan, hingga Laut Arafuru.

Dengan kelembapan udara yang juga masih cukup tinggi, serta labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal di beberapa wilayah, kondisi di atas berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia.

BMKG lantas mengumbau masyarakat dan para pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat menyebabkan banjir maupun tanah longsor.

Adapun BMKG memprediksi musim kemarau terjadi pada April 2026, yang kemungkinan dimulai di Nusa Tenggara. Sementara itu, puncak musim kemarau 2026 di Indonesia akan terjadi pada Agustus mendatang. 

Diperkirakan, musim kemarau di beberapa wilayah lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normalnya. 

Baca juga:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau