KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau aktifnya tiga bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia yang dapat memicu cuaca ekstrem sepekan ke depan.
Bibit siklon tropis 90S diprediksi berada di Samudra Hindia barat daya Selatan Jawa Timur, dengan kecepatan angin maksimum 35 knot, tekanan udara minimum 998 hPa, bergerak ke arah timur.
Bibit siklon ini 90S diperkirakan akan melemah dalam dua hari ke depan.
"Bibit siklon tersebut menginduksi terbentuknya low level jet di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga selatan Nusa Tenggara Barat, serta membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di Perairan selatan Banten hingga selatan NTB dan dari Pulau Jawa hingga NTB," kata BMKG dalam keterangan resminya, Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: 1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
Selain itu, bibit siklon tropis 93S diprediksi berada di perairan barat Australia Barat, dengan kecepatan angin maksimum 25 knot, tekanan udara minimum 995 hPa, bergerak ke arah barat menuju barat daya. Menurut BMKG, intensitas bibit siklon 93S dalam kategori sedang.
Ketiga, bibit siklon tropis 92P diperkirakan terdapat di Teluk Carpentaria dengan kecepatan angin maksimum 15 knot, tekanan udara minimum 1004 hPa, bergerak ke arah barat ke barat daya.
"Dalam 48-72 jam ke depan, 92P diprakirakan akan melemah. Bibit siklon tersebut menyebabkan terbentuknya low level jet di Teluk Carpentaria, serta membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Laut Timor hingga Laut Arafuru bagian selatan dan Pesisir Utara Australia bagian utara," jelas BMKG.
Dinamika atmosfer dari skala global hingga lokal juga bakal memengaruhi cuaca di Indonesia. Monsun Asia diprediksi menguat, di samping peningkatan fenomena seruakan dingin.
Baca juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Potensi hujan turut dipicu Madden-Julian Oscillation (MJO) sehingga berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di Indonesia timur. Ada pula fenomena aktifnya gelombang kelvin di Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Barat bagian selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, dan Papua bagian utara.
Sementara, gelombang equatorial rossby diprediksi aktif di NTB bagian selatan, NTT bagian selatan, Maluku, dan hampir seluruh wilayah Pulau Papua.
"Adanya kombinasi fenomena ini berpotensi memicu peningkatan curah hujan di daerah-daerah tersebut," sebut BMKG.
Menurut prediksi BMKG, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang periode 6-8 Maret 2026.
Wilayah yang perlu mewaspadai hujan lebat antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat.
Lalu, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua serta Papua Selatan.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," imbuh dia.
Sedangkan pada 9-12 Maret 2026, wilayah yang akan mengalami hujan intensitas sedang hingga lebat antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
BMKG lantas mengimbau masyarakat waspada bencana banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya