KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem di Indonesia masih terjadi hingga Maret 2026 mendatang.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan, hujan intensitas sedang sampai lebat berpotensi melanda sebagian besar wilayah selatan Indonesia.
Baca juga:
"Untuk wilayah Indonesia di selatan equator termasuk Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan dan Sulawesi Selatan (cuaca ekstrem terjadi) bervariasi sampai dengan Februari hingga Maret," jelas Andri saat dihubungi Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
BMKG mencatat, cuaca ekstrem di Indonesia berupa hujan ringan hingga lebat akan terjadi hingga Maret 2026. Kondisi itu, lanjut Andri, dipengaruhi masih aktifnya monsun Asia yang membawa massa udara basah dari Benua Asia ke wilayah Indonesia bagian selatan.
Di samping itu, terdapat penguatan angin baratan dari Samudera Hindia yang meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan hujan secara intensif.
Lainnya, kelembapan tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat menyebabkan masifnya pembentukan awan serta hujan di sebagian Indonesia bagian selatan.
Akibatnya, kondisi itu memicu serangkaian bencana hidrometeorologis berupa banjir ataupun tanah longsor dalam sepekan terakhir.
"Kombinasi faktor tersebut memicu pertumbuhan awan konvektif yang cukup signifikan, khususnya di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Selatan, hingga Papua bagian selatan," tutur Andri.
Selama beberapa hari ke depan, hujan ringan sampai lebat diprediksi melanda sejumlah daerah, antara lain Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan Tengah.
Hujan intensitas tinggi ini berpotensi disertai kilat, angin kencang, serta meningkatkan risiko banjir, genangan, dan tanah longsor, terutama di wilayah rawan.
Baca juga:
BMKG mencatat, cuaca ekstrem di Indonesia berupa hujan ringan hingga lebat akan terjadi hingga Maret 2026. Sejauh ini, BMKG telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beberapa wilayah untuk mencegah bencana banjir maupun longsor sesuai kebutuhan penanganan cuaca ekstrem.
"Pelaksanaan OMC difokuskan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah rawan bencana, mendukung upaya mitigasi dan pengurangan risiko hidrometeorologi, serta membantu percepatan penanganan dampak bencana," terang Andri.
BMKG turut berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah dalam pelaksanaan OMC.
Petugas mempertimbangkan kondisi atmosfer, kesiapan sarana prasarana, dan efektivitas operasi di lapangan.
"BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika atmosfer dan secara berkala menyampaikan prakiraan cuaca, peringatan dini, hingga peringatan cuaca ekstrem kepada masyarakat dan pemangku kepentingan," jelas Andri.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya