Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga

Kompas.com, 6 Februari 2026, 21:21 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Keberadaan fasilitas refuse derived fuel (RDF Rorotan) di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, tak bisa lepas dari kolaborasi dengan masyarakat sekitarnya. 

Beberapa dari mereka ada yang awalnya menolak, tapi kemudian setuju hidup berdampingan dengan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) ini.

RDF Rorotan disebut membantu kurangi beban TPST Bantargebang di Kota Bekasi, Jawa Barat, dalam menangani masalah sampah di Jakarta.

Baca juga:

Cerita warga di sekitar RDF Rorotan

Tak bisa hanya andalkan Bantargebang

"Awalnya saya paling keras (menolak RDF Plant Rorotan) dan saya koordinator demo di kampung karena kampung kami paling terdekat dari RDF," kata tokoh masyarakat Kampung Karang Tengah Pustaka Rakyat, Kabupaten Bekasi, Ahmad Rifai, dikutip dari video yang dibagikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Ahmad lalu mengaku menjalin komunikasi intensif dengan pihak pengelola fasilitas RDF. Ia juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pihak pengelola fasilitas RDF untuk pelibatan dalam berbagai upaya perbaikan.

Tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghijau. Jakarta disebut tak lagi bisa andalkan Bantargebang. RDF Rorotan jadi alternatif, dengan keterlibatan warga untuk mengawasi dampak bau dan lingkungan.KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Tumpukan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, menghijau. Jakarta disebut tak lagi bisa andalkan Bantargebang. RDF Rorotan jadi alternatif, dengan keterlibatan warga untuk mengawasi dampak bau dan lingkungan.

Sebagai informasi, beban harian TPST Bantargebang menerima rata-rata 7.354 ton sampah per hari dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta. Tinggi tumpukan sampah bahkan sudah setara dengan gedung 16 lantai.

"Usia Bantargebang itu sudah 40 tahun melayani Jakarta dalam pengelolaan sampahnya. Kondisi Bantargebang ini memang sudah sangat mengkhawatirkan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto di kantor Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

"Jadi kalau dari tahun 1980-an, Bantargebang itu mungkin rata-rata menerima sampahnya 2.000-2.500 ton, sekarang ini sudah hampir 7.500 ton, bahkan pernah mencapai 7.900 ton per hari," tambah dia. 

Baca juga:

Keluhan bau RDF Rorotan

Ketua RW 09, Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, M. Amin mengatakan, laporan keluhan bau dari warga ditanggapi pihak pengelola fasilitas RDF dengan perbaikan.

Ia berharap, pihak pengelola rutin melakukan perbaikan dalam penanganan bau.

"Nah, setelah perbaikan, seperti kayak inilah, enggak begitu bau gitu," tutur Amin.

Senada, Ketua RW 08, Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Ahmad Fauzi menyebut, DLH DKI Jakarta merespons keluhan warga. 

"Saya juga bukannya diam saja, kalau ada keluhan saya datang, proses ini memang harus dilalui," ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Unit Pengelolaan Sampah Terpadu (UPST) DLH DKI Jakarta, Agung Pujo Winarko mengatakan, pihaknya mengundang warga untuk berkunjung ke fasilitas RDF dalam uji coba keduanya pada Oktober 2025 lalu.

Sebelum dioperasikan, DLH DKI Jakarta melibatkan perwakilan warga dari Kelurahan Rorotan, Cakung Timur, dan Ujung Menteng, yang masing-masing empat RW. Perwakilan warga dari luar Jakarta, seperti Karang Tengah dan Harapan Indah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
BUMN
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
LSM/Figur
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Pemerintah
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
LSM/Figur
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Pemerintah
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Enggan Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Malaysia Larang Impor Limbah Elektronik
Pemerintah
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Swasta
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Unicef Desak Negara Kriminalisasi Pembuat Konten Pelecehan Anak lewat AI
Pemerintah
Ancaman Penambangan Laut Dalam, Kehidupan Dasar Laut Bisa Hilang
Ancaman Penambangan Laut Dalam, Kehidupan Dasar Laut Bisa Hilang
LSM/Figur
Pestisida Kian Beracun, Studi Ungkap Ancaman Serius bagi Satwa Liar
Pestisida Kian Beracun, Studi Ungkap Ancaman Serius bagi Satwa Liar
LSM/Figur
Asap Kuning Asam Nitrat di Cilegon Berbahaya, BRIN Jelaskan Dampaknya
Asap Kuning Asam Nitrat di Cilegon Berbahaya, BRIN Jelaskan Dampaknya
Pemerintah
Mandatori Biodiesel Sawit Hemat Devisa Rp 720 Triliun dan Tekan Emisi 228 Juta Ton CO2
Mandatori Biodiesel Sawit Hemat Devisa Rp 720 Triliun dan Tekan Emisi 228 Juta Ton CO2
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau