Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Pemanfaatan EBT di Kawasan Industri, Pabrik di Medan Ini Mulai Gunakan PLTS Atap

Kompas.com, 16 Maret 2026, 14:00 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

MEDAN, KOMPAS.com - Pemanfaatan energi baru terbarukan di sektor industri mulai berkembang seiring meningkatnya tuntutan pengurangan emisi karbon dalam rantai pasok global.

Salah satu langkah tersebut terlihat dari penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di fasilitas produksi PT Cahaya Alam Sejati di Kawasan Industri Medan (KIM), Sumatera Utara.

PLTS atap berkapasitas terpasang 372 kilowatt peak (kWp) itu mulai beroperasi secara komersial dan diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon hingga 412 ton CO?e per tahun.

Baca juga: Harita Nickel Targetkan Pasang PLTS Atap 38 MWp Rampung April 2026

Sistem pembangkit ini dikembangkan melalui kerja sama dengan perusahaan pengembang energi terbarukan, Greenvolt Power Indonesia.

Operational General Manager PT Cahaya Alam Sejati, Edwin Tiaras, mengatakan pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjawab tuntutan pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

“Pengoperasian PLTS atap ini memungkinkan kami meningkatkan efisiensi energi sambil mendukung upaya pelanggan dalam menurunkan jejak karbon rantai pasok mereka,” ujar Edwin dalam keterangan resmi, Senin (16/3/2026).

PT Cahaya Alam Sejati merupakan produsen kemasan karton yang telah beroperasi lebih dari dua dekade dan menjadi bagian dari rantai pasok berbagai sektor industri, seperti barang konsumsi cepat saji (FMCG), agribisnis, elektronik, hingga e-commerce.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pengemasan semakin mendapat perhatian dalam upaya dekarbonisasi karena berkontribusi terhadap emisi tidak langsung atau Scope 3 dalam rantai pasok produk.

Penggunaan energi terbarukan di fasilitas produksi dinilai dapat membantu perusahaan menekan emisi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya pengelola Kawasan Industri Medan yang mendorong pengembangan kawasan industri hijau melalui peningkatan efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan.

Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly, mengatakan penerapan PLTS atap menjadi salah satu cara yang relatif mudah bagi sektor industri untuk memulai transisi energi.

Baca juga: RI Kantongi Investasi Pabrik PLTS 1,4 Miliar Dolar AS, Rampung Akhir 2026

Menurut dia, pemanfaatan atap bangunan industri yang sudah ada memungkinkan perusahaan mengintegrasikan energi terbarukan tanpa mengganggu aktivitas produksi.

“Setiap fasilitas industri memiliki kebutuhan energi yang berbeda. Pemanfaatan energi surya dapat menjadi salah satu solusi untuk mulai mengintegrasikan energi terbarukan dalam operasional perusahaan,” kata Bobby.

Dengan meningkatnya perhatian terhadap pelaporan keberlanjutan dan pengurangan emisi karbon di tingkat global, pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri dinilai akan semakin penting untuk menjaga daya saing perusahaan di pasar domestik maupun internasional.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Inpres Baru Presiden Prabowo Akan Wajibkan Perusahaan Jaga Habitat Gajah
Inpres Baru Presiden Prabowo Akan Wajibkan Perusahaan Jaga Habitat Gajah
Pemerintah
Astra Financial Jalankan Inisiatif Program Kesehatan, Jangkau 13.000 Penerima Manfaat
Astra Financial Jalankan Inisiatif Program Kesehatan, Jangkau 13.000 Penerima Manfaat
Swasta
Stok Ikan Global Terancam Turun Drastis akibat Perubahan Iklim
Stok Ikan Global Terancam Turun Drastis akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
PBB Prioritaskan Prosedur Pembuangan Sisa Obat secara Aman
PBB Prioritaskan Prosedur Pembuangan Sisa Obat secara Aman
Pemerintah
PLN Bakal Rampungkan 13 Proyek Pembangkit EBT Berkapasitas 700 MW
PLN Bakal Rampungkan 13 Proyek Pembangkit EBT Berkapasitas 700 MW
Pemerintah
Tekanan Besar di Laut Lepaskan Karbon-Nitrogen, Bisa Jadi Model Iklim Masa Depan
Tekanan Besar di Laut Lepaskan Karbon-Nitrogen, Bisa Jadi Model Iklim Masa Depan
LSM/Figur
Dorong Pemanfaatan EBT di Kawasan Industri, Pabrik di Medan Ini Mulai Gunakan PLTS Atap
Dorong Pemanfaatan EBT di Kawasan Industri, Pabrik di Medan Ini Mulai Gunakan PLTS Atap
Swasta
OJK Soroti Masalah Laporan Keberlanjutan Perusahaan, Ingatkan Aturan Baru pada 2027
OJK Soroti Masalah Laporan Keberlanjutan Perusahaan, Ingatkan Aturan Baru pada 2027
Pemerintah
Masalah Sampah di Indonesia Bisa Ciptakan Green Jobs Baru, Apa Saja?
Masalah Sampah di Indonesia Bisa Ciptakan Green Jobs Baru, Apa Saja?
LSM/Figur
Food Estate hingga Tambang Bikin Hutan Indonesia Makin Tergerus, Ini Laporan IEO 2026
Food Estate hingga Tambang Bikin Hutan Indonesia Makin Tergerus, Ini Laporan IEO 2026
Pemerintah
Jelang Nyepi dan Idul Fitri 2026, PLN Siapkan 142 SPKLU di Bali
Jelang Nyepi dan Idul Fitri 2026, PLN Siapkan 142 SPKLU di Bali
BUMN
Banyak Perusahaan Klaim ESG, tapi Tak Tahu Sampahnya Berakhir ke Mana
Banyak Perusahaan Klaim ESG, tapi Tak Tahu Sampahnya Berakhir ke Mana
LSM/Figur
Aksi Lawan Krisis Iklim Uni Eropa Disebut Melemah
Aksi Lawan Krisis Iklim Uni Eropa Disebut Melemah
LSM/Figur
Penelitian Ungkap Mikroplastik Bisa Ganggu Sistem Kekebalan Tubuh
Penelitian Ungkap Mikroplastik Bisa Ganggu Sistem Kekebalan Tubuh
LSM/Figur
Pekerja Lebih Prioritaskan Remote Working Dibanding Gaji dan Tunjangan
Pekerja Lebih Prioritaskan Remote Working Dibanding Gaji dan Tunjangan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau