Editor
MEDAN, KOMPAS.com - Pemanfaatan energi baru terbarukan di sektor industri mulai berkembang seiring meningkatnya tuntutan pengurangan emisi karbon dalam rantai pasok global.
Salah satu langkah tersebut terlihat dari penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap di fasilitas produksi PT Cahaya Alam Sejati di Kawasan Industri Medan (KIM), Sumatera Utara.
PLTS atap berkapasitas terpasang 372 kilowatt peak (kWp) itu mulai beroperasi secara komersial dan diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon hingga 412 ton CO?e per tahun.
Baca juga: Harita Nickel Targetkan Pasang PLTS Atap 38 MWp Rampung April 2026
Sistem pembangkit ini dikembangkan melalui kerja sama dengan perusahaan pengembang energi terbarukan, Greenvolt Power Indonesia.
Operational General Manager PT Cahaya Alam Sejati, Edwin Tiaras, mengatakan pemanfaatan energi surya menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjawab tuntutan pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.
“Pengoperasian PLTS atap ini memungkinkan kami meningkatkan efisiensi energi sambil mendukung upaya pelanggan dalam menurunkan jejak karbon rantai pasok mereka,” ujar Edwin dalam keterangan resmi, Senin (16/3/2026).
PT Cahaya Alam Sejati merupakan produsen kemasan karton yang telah beroperasi lebih dari dua dekade dan menjadi bagian dari rantai pasok berbagai sektor industri, seperti barang konsumsi cepat saji (FMCG), agribisnis, elektronik, hingga e-commerce.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri pengemasan semakin mendapat perhatian dalam upaya dekarbonisasi karena berkontribusi terhadap emisi tidak langsung atau Scope 3 dalam rantai pasok produk.
Penggunaan energi terbarukan di fasilitas produksi dinilai dapat membantu perusahaan menekan emisi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya pengelola Kawasan Industri Medan yang mendorong pengembangan kawasan industri hijau melalui peningkatan efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan.
Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly, mengatakan penerapan PLTS atap menjadi salah satu cara yang relatif mudah bagi sektor industri untuk memulai transisi energi.
Baca juga: RI Kantongi Investasi Pabrik PLTS 1,4 Miliar Dolar AS, Rampung Akhir 2026
Menurut dia, pemanfaatan atap bangunan industri yang sudah ada memungkinkan perusahaan mengintegrasikan energi terbarukan tanpa mengganggu aktivitas produksi.
“Setiap fasilitas industri memiliki kebutuhan energi yang berbeda. Pemanfaatan energi surya dapat menjadi salah satu solusi untuk mulai mengintegrasikan energi terbarukan dalam operasional perusahaan,” kata Bobby.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap pelaporan keberlanjutan dan pengurangan emisi karbon di tingkat global, pemanfaatan energi terbarukan di sektor industri dinilai akan semakin penting untuk menjaga daya saing perusahaan di pasar domestik maupun internasional.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya