KOMPAS.com - Pemerintah akan membangun 34 fasilitas untuk mengubah sampah menjadi energi (waste to energy / WtE) yang diproyeksikan beroperasi secara penuh pada 2028.
Pembangunan fasilitas WtE tersebut bertujuan mengatasi darurat sampah, dengan 66,26 persen dari 56,89 juta ton sampah per tahun di 512 kabupaten/kota Indonesia belum dikelola.
Di sisi lain, Kementerian ESDM memperkirakan potensi pembangkit listrik tenaga listrik dari sampah (PLTSa) di Indonesia mencapai 2.066 megawatt (MW). Namun, kapasitas PLTSa yang sudah terpasang saat ini masih sangat kecil.
"Outlook 5 sampai 10 tahun ke depan itu akan ada banyak proyek PLTSa, kemudian akan banyak butuh tenaga kerja di sektor energi dan muncul beberapa green jobs ya di bidang WtE. Akan banyak juga diperlukan profesional di bidang engineering, bidang lingkungan dan juga sustainability," ujar Professional Consultant of Environmental Engineering, Dewi Dwirianti dalam webinar Berkarier di PLTSa Peluang Kerja di Industri Waste to Energy, Senin (9/3/2023).
Ada sejumlah teknologi yang digunakan untuk WtE. Pertama, insinerator dengan konversi termal yang paling banyak dipakai pada PLTSa. Kedua, gasifikasi yang berupa teknologi konversi termal lanjutan, sebagaimana PLTSa Benowo di Surabaya dengan kapasitas hanya 9 MW.
Ketiga, adalah refuse derived fuel (RDF) yang mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif atau sebagai co-firing untuk industri semen atau pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Keempat, anaerobic digestion yang menghasilkan biogas dari sampah organik.
Ilustrasi green jobsJenis profesi di PLTSa setidaknya terbagi dalam kategori planning and feasibility, engineering & construction, serta plant operation.
Berikut profesi untuk kategori planning and feasibility.
1. Civil engineer
2. Mechanical Engineer
3. Electrical Engineer
4. Instrumentation Engineer
5. Process Engineer
6. Waste Management Specialist
7. Project Development Specialist
8. Infrastrukture Planner
9. Environmental Engineer
10. AMDAL/EIA Specialist
11. Project Finance Analyst
12. Legal & Regulatory Specialist
Berikut profesi untuk kategori engineering & construction.
1. Civil engineer
2. Mechanical Engineer
3. Electrical Engineer
4. Instrumentation Engineer
5. Project Manager
6. Construction Manager
7. EPC Engineer
8. HSE Officer
9. Environmental Compliance Specialist
Berikut profesi untuk kategori plant operation.
1. Mechanical Engineer
2. Electrical Engineer
3. Instrumentation Engineer
4. Process Engineer
5. Plant Operator
6. Control Room Operator
7. HSE Officer
8. Environmental Compliance Specialist
9. Emission Monitoring Specialist
10. Environmental Monitoring Officer
11. Supply Chain & Procurement Specialis
12. Financial Manager
13. Public Relations & Communication
14. Community Engagement Officer
"Apa saja sebetulnya latar belakang pendidikan yang dibutuhkan? Jadi, karier di WtE ini terbuka ya untuk berbagai jurusan karena sektor ini membutuhkan kolaborasi antara teknologi, kemudian lingkungan, energi, dan juga kebijakan," tutur Dewi.
Latar belakang pendidikan yang diperlukan untuk bekerja di industri WtE terbagi dalam empat kelompok. Yaitu, bidang lingkungan (teknik lingkungan, ilmu lingkungan, pengelolaan SDA), sistem energi (teknik elektro, teknik fisika, teknik instrumentasi), engineering (teknik mesin, teknik kimia, teknik material, teknik industri), serta bisnis dan kebijakan (ekonomi, akuntansi, hukum, hubungan internasional).
"Oh, mungkin ilmu komunikasi juga sangat diperlukan ya di sini," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya