KOMPAS.com - Kasus invasi biologis paling merusak bukan sekadar mengurangi spesies asli. Invasi biologis secara fundamental mengubah lingkungan dan habitat, mengatur ulang interaksi, serta menggeser proses dengan cara yang tidak bisa diungkapkan hanya melalui daftar spesies.
Misalnya, memperkenalkan kambing, kuda, atau rusa ke banyak di pulau di seluruh dunia. Penggembalaan kambing, kuda, atau rusa yang rakus bisa mendorong flora asli menuju kepunahan lokal, dilansir dari Phys.org, Senin (16/3/2026).
Baca juga:
Namun, kambing, kuda, atau rusa memadatkan tanah, membuka semak belukar, mengubah pola kebakaran, mempercepat erosi, serta meninggalkan "bekas luka" pada lanskap, bahkan setelah hewan-hewan herbivora invasif ini pergi.
Perubahan sistemik yang dipicu invasi biologis tersebut mengancam keanekaragaman hayati setara dengan kehilangan spesies tunggal mana pun.
Invasi biologis tak lagi sekadar tentang hilangnya spesies, tapi juga mengenai perubahan ekosistem secara diam-diam. Saat ini, para ilmuwan invasi biologis semakin banyak yang beralih ke Klasifikasi Dampak Lingkungan untuk Taksa Asing (Environmental Impact Classification for Alien Taxa atau EICAT) untuk mengatasi kompleksitas itu.
EICAT menandai lompatan signifikan ke depan, dengan menawarkan metode transparan dan berbasis bukti untuk mengklasifikasikan invasi biologis berdasarkan tingkat keparahan dampaknya terhadap spesies asli.
Kendati melacak efek yang dapat diabaikan hingga kepunahan lokal akibat invasi biologis, kerangka kerja perintis ini memiliki titik buta spesifik.
EICAT sangat berorientasi pada spesies, serta memberikan satu skor tingkat keparahan global secara eksklusif kepada suatu spesies invasif, biasanya merujuk pada skenario terburuk yang tercatat di wilayah invasinya.
Meski ampuh untuk prioritas global, pendekatan EICAT berpotensi mengabaikan kompleksitas dalam ekosistem lokal tertentu, yang masing-masing sebenarnya memiliki kerentanan unik.
Baca juga:
Invasi biologis tak lagi sekadar tentang hilangnya spesies, tapi juga mengenai perubahan ekosistem secara diam-diam. Invasi biologis menghasilkan spektrum dampak jauh melampaui efek langsung pada spesies asli yang tampak dalam penilaian tipikal. Studi yang diterbitkan PLOS Biology pada 2025 mengkatalogkan 19 jenis dampak lingkungan berbeda akibat spesies invasif.
Ketika meneliti semua dampak lingkungan yang terdokumentasi dengan baik, terungkap bahwa mayoritas perubahan struktural beroperasi pada tingkat komunitas, ekosistem, atau proses fisik.
Bahkan, sebanyak 12 dari 19 jenis dampak lingkungan mempunyai skala yang lebih luas daripada ruang jelajah spesies invasif itu sendiri. Misalnya, siklus nutrisi, struktur habitat, atau sifat fisik tanah dan air yang menjadi dampak dari invasi biologis yang diremehkan.
Terdapat tiga tingkatan perubahan struktural yang berbeda. Pertama, individu dan populasi. Kedua, kumpulan spesies yang berbeda. Ketiga, fungsi ekosistem, atau kondisi abiotik, bagian fisik maupun kimiawi non-hidup dari lingkungan yang memengaruhi organisme hidup, seperti penyerbukan.
Meski tersebar luas dan terdokumentasi dengan baik, perubahan struktural ini sebagian besar tetap tidak terklasifikasi oleh kerangka kerja yang pada akhirnya berfokus pada hilangnya spesies asli.
Kelalaian ini sangat penting karena banyak spesies invasif bertindak sebagai "insinyur ekosistem", atau organisme yang bukan sekadar hidup di suatu lingkungan, tapi juga secara aktif memodifikasinya, memengaruhi nasib seluruh komunitas.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya