Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Atasan Cenderung Bebani Pekerjaan Lebih Banyak ke Pekerja yang Rajin, Mengapa?

Kompas.com, 24 Maret 2026, 09:18 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Pernah merasa pekerjaan seperti tiada habisnya? Baru ingin pulang, tapi atasan tiba-tiba datang membawa pekerjaan tambahan. Anehnya, rekan kerjamu yang lain justru bisa pulang tepat waktu. 

Bila merasa sering "ditumbalkan" untuk pekerjaan tambahan hanya karena dianggap rajin dan bermotivasi tinggi, kamu tidak sendirian.

Baca juga:

Sebuah penelitian menunjukkan, karyawan yang punya motivasi tinggi cenderung dibebani pekerjaan ekstra.

Ironisnya, beban ini tetap diberikan meskipun bisa merugikan bonus atau kesejahteraan karyawan tersebut.

Karyawan rajin sering dibebani pekerjaan tambahan?

Karyawan dinilai menikmati pekerjaan mereka

Merasa beban kerja makin berat karena dianggap rajin? Simak hasil riset soal nasib pekerja bermotivasi tinggi selengkapnya.UNSPLASH/HEADWAY Merasa beban kerja makin berat karena dianggap rajin? Simak hasil riset soal nasib pekerja bermotivasi tinggi selengkapnya.

Profesor manajemen di Northeastern University, Amerika Serikat, bernama Sangah Bae melakukan penelitian mendalam soal pekerja bermotivasi tinggi dan pekerjaan tambahan. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Organizational Science.

Bersama timnya, Bae melibatkan lebih dari 4.300 peserta dari berbagai industri. Hasilnya, atasan dinilai cenderung memberikan tugas di luar deskripsi pekerjaan kepada karyawan yang terlihat menikmati pekerjaannya.

Atasan juga menganggap karyawan seperti ini menemukan makna dan kesenangan dalam setiap tugas.

"(Para atasan) mungkin beranggapan bahwa karyawan yang menikmati pekerjaan utama mereka juga akan menikmati tugas-tugas tambahan, dan bahwa rasa senang tersebut akan melindungi mereka dari kelelahan kerja," tulis para peneliti, dikutip dari Phys.org, Senin (23/3/2026).

Kehilangan bonus demi tugas ekstra

Dampak dari pola manajemen ini tidak main-main. Dalam salah satu eksperimen, peneliti membagi peserta menjadi manajer dan karyawan. Mereka diberi tugas dengan iming-iming bonus lima dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 85.000) bagi yang tercepat.

Namun, para atasan diwajibkan memberikan tugas tambahan di tengah jalan kepada salah satu karyawan. Tugas ini otomatis akan menghambat kecepatan kerja dan peluang mendapat bonus.

Hasilnya? Sebanyak 74 persen manajer memilih memberikan tugas penghambat itu kepada karyawan yang paling termotivasi, meskipun mereka tahu hal itu akan menghambat karyawan mereka untuk mendapat bonus.

Akibatnya, hanya 30 persen karyawan rajin yang berhasil mendapatkan bonus.

Bae menyebut hal ini sebagai "motive oversimplifying" atau "penyederhanaan motif". Manajer hanya melihat permukaan saja, mereka lupa bahwa karyawan yang mencintai pekerjaannya tetap bisa merasa lelah dan butuh penghargaan materi.

Baca juga:

Merasa beban kerja makin berat karena dianggap rajin? Simak hasil riset soal nasib pekerja bermotivasi tinggi selengkapnya.UNSPLASH/TIM GOUW Merasa beban kerja makin berat karena dianggap rajin? Simak hasil riset soal nasib pekerja bermotivasi tinggi selengkapnya.

Ada perbedaan besar antara persepsi atasan dan realitas yang karyawan jalani. Atasan mungkin mengira tugas tambahan hanya sedikit menurunkan kepuasan kerja.

Namun, data penelitian menunjukkan penurunan kepuasan kerja yang dirasakan karyawan jauh lebih besar dari perkiraan para atasan.

Atasan sering kali memberikan pekerjaan tambahan karena merasa tertekan oleh waktu. Mereka mencari "jalan pintas" dengan memilih orang yang paling bisa diandalkan.

"Karyawan yang menjadi andalan Anda, orang yang selalu bisa diandalkan dan tampak bersemangat serta mencintai pekerjaannya, sebenarnya mungkin sedang mengalami kelelahan kerja (burnout) tanpa disadari," tutur Bae. 

Baca juga:

Apa yang harus dilakukan?

Peneliti menyarankan agar perusahaan mulai menggunakan sistem manajemen tugas yang transparan.

Atasan perlu mencatat siapa saja yang sudah mendapatkan tugas tambahan agar beban kerja terbagi rata.

Pelatihan bagi para manajer juga penting untuk memahami bahwa antusiasme karyawan bukan berarti mereka bisa diberi beban tanpa batas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
40 Perusahaan Malaysia, Indonesia, dan Filipina Raih 52 Penghargaan ESG Asia 2026
Swasta
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
Karhutla Ancam Penghidupan dan Pendidikan di Kalimantan
LSM/Figur
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Ketika China Menjadi Ruang Belajar bagi Siswa
Swasta
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Aksi Pengurangan Penuh Metana Bisa Tekan Emisi, Namun Gagal Capai Target 2030
Pemerintah
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
Ekspor Indonesia Terancam CBAM dan EUDR, Sistem MRV Emisi Perlu Diperkuat
LSM/Figur
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
Arak Monster Godzilla, Koalisi Orang Muda Serukan Keadilan Iklim Antargenerasi
LSM/Figur
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
Cegah Pembukaan Lahan dengan Dibakar, Koperasi Sawit di Kaltim Sewa Alat Berat
LSM/Figur
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Perlu Pertimbangkan Satwa yang Ada
LSM/Figur
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Restorasi Ekosistem Global Lambat, PBB Ungkap Baru Mencapai 25 Persen
Pemerintah
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Riset Ungkap Mahasiswa Alami Kecemasan Akibat Krisis Iklim
Pemerintah
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Ditopang PLTS Atap Industri, Bauran EBT di Jawa Barat Capai 23,58 Persen
Pemerintah
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
Lele Jadi Sumber Protein Terjangkau, Peternak Madura Kembangkan Metode Panen 45 Hari
LSM/Figur
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Alarm Kesehatan, Kasus Kanker Serviks Global Diprediksi Terus Meningkat
Pemerintah
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
Kelompok Disabilitas di Pedalaman Kalimantan Pakai Dana Karbon untuk Budi Daya Ikan
LSM/Figur
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Studi Ungkap Krisis Pendanaan Hijau UMKM Global Capai Rp18.136 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau