KOMPAS.com - Dalam dunia kerja, microshifting merujuk pada gaya kerja dalam periode waktu singkat dan tidak linier, berdasarkan energi pribadi, tanggung jawab, atau pola produktivitas. Gaya kerja ini disebut semakin populer sejak pandemi Covid-19 melanda.
Doug Gregory dari Grand Rapids di Michigan, Amerika Serikat (AS), mengaku telah mengadopsi gaya kerja mirip microshifting sebagai pekerja jarak jauh (remote worker) selama beberapa dekade sebelum istilah itu dikenal.
Baca juga:
“Kami sudah terbiasa dengan gagasan untuk selalu hadir atau tersedia bagi orang-orang terkasih. Kami sudah terbiasa untuk lebih menjaga kesehatan," ucap Gregory, dilansir dari CNBC, Senin (16/3/2026).
Gregory merasa hari terasa lebih fleksibel ketika melakukan microshifting, yang mana memang tidak semua orang memperoleh "keistimewaan" untuk memiliki kendali atas "kalender mereka".
“Jika saya perlu mengambil waktu istirahat satu jam pada siang hari untuk melakukan sesuatu dengan cucu atau pergi ke dokter atau apa pun, tidak apa-apa, saya menggantinya pada malam hari, saya menggantinya pada pagi hari," jelas Gregory.
"Intinya adalah apa yang menjadi tanggung jawab saya, bagaimana saya melakukannya, dan bagaimana saya mengatur hidup saya untuk melakukannya," tambah dia.
Gregory sebelumnya pernah bekerja di bidang penjualan. Ia sekarang berwirausaha di bidang integrasi audiovisual.
"Saya mencari nafkah berdasarkan hasil. Tidak ada yang mengirimkan cek kepada saya berdasarkan berapa jam saya bekerja dalam seminggu," ujar Gregory.
Sementara itu, Theresa Robertson dari Elkridge di Maryland, AS, telah menjalani microshifting selama 25 tahun, dengan menyelaraskan pekerjaannya, termasuk pekerjaan sebelumnya sebagai manajer proyek, dengan merawat mendiang suaminya yang mengidap masalah kesehatan kronis.
"Bagi saya, yang terpenting adalah memastikan saya tidak kehilangan pekerjaan. Saya harus mengurus suami saya, dan saya harus bekerja, jadi saya harus mencari jalan keluar," tutur Robertson.
Saat ini, Robertson menjalankan agensi virtual assistant (asisten virtual), yang membantunya untuk terus melakukan microshifting.
Ia mengatur jam kerjanya sedemikian rupa. Misalnya, dengan membebaskan waktunya dari kerja setiap Jumat sore untuk mengurus urusan pribadi.
Baca juga:
Microshifting menarik bagi karyawan sebagai cara untuk mendapatkan kembali kendali atas kehidupan kerja mereka yang semakin terfragmentasi.
Laporan State of Hybrid Work 2025 dari Owl Labs mengungkapkan, sebesar 65 persen pekerja tertarik microshifting.
Kenaikan minat terhadap pendekatan terstuktur untuk kerja fleksibel ala microshifting terjadi seiring dengan semakin ditinggalkannya jadwal kerja dari pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore (9-to-5).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya