Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pekerja Makin Minat Microshifting dan Tinggalkan Jam Kerja 9-to-5

Kompas.com, 20 Maret 2026, 12:19 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber CNBC, Owl Labs

KOMPAS.com - Dalam dunia kerja, microshifting merujuk pada gaya kerja dalam periode waktu singkat dan tidak linier, berdasarkan energi pribadi, tanggung jawab, atau pola produktivitas. Gaya kerja ini disebut semakin populer sejak pandemi Covid-19 melanda.

Doug Gregory dari Grand Rapids di Michigan, Amerika Serikat (AS), mengaku telah mengadopsi gaya kerja mirip microshifting sebagai pekerja jarak jauh (remote worker) selama beberapa dekade sebelum istilah itu dikenal.

Baca juga:

“Kami sudah terbiasa dengan gagasan untuk selalu hadir atau tersedia bagi orang-orang terkasih. Kami sudah terbiasa untuk lebih menjaga kesehatan," ucap Gregory, dilansir dari CNBC, Senin (16/3/2026).

Mengenal gaya kerja microshifting, jam kerja lebih fleksibel?

Gregory merasa hari terasa lebih fleksibel ketika melakukan microshifting, yang mana memang tidak semua orang memperoleh "keistimewaan" untuk memiliki kendali atas "kalender mereka".

“Jika saya perlu mengambil waktu istirahat satu jam pada siang hari untuk melakukan sesuatu dengan cucu atau pergi ke dokter atau apa pun, tidak apa-apa, saya menggantinya pada malam hari, saya menggantinya pada pagi hari," jelas Gregory.

"Intinya adalah apa yang menjadi tanggung jawab saya, bagaimana saya melakukannya, dan bagaimana saya mengatur hidup saya untuk melakukannya," tambah dia.

Gregory sebelumnya pernah bekerja di bidang penjualan. Ia sekarang berwirausaha di bidang integrasi audiovisual.

"Saya mencari nafkah berdasarkan hasil. Tidak ada yang mengirimkan cek kepada saya berdasarkan berapa jam saya bekerja dalam seminggu," ujar Gregory.

Sementara itu, Theresa Robertson dari Elkridge di Maryland, AS, telah menjalani microshifting selama 25 tahun, dengan menyelaraskan pekerjaannya, termasuk pekerjaan sebelumnya sebagai manajer proyek, dengan merawat mendiang suaminya yang mengidap masalah kesehatan kronis.

"Bagi saya, yang terpenting adalah memastikan saya tidak kehilangan pekerjaan. Saya harus mengurus suami saya, dan saya harus bekerja, jadi saya harus mencari jalan keluar," tutur Robertson.

Saat ini, Robertson menjalankan agensi virtual assistant (asisten virtual), yang membantunya untuk terus melakukan microshifting.

Ia mengatur jam kerjanya sedemikian rupa. Misalnya, dengan membebaskan waktunya dari kerja setiap Jumat sore untuk mengurus urusan pribadi.

Baca juga:

Banyak pekerja tertarik untuk microshifting

Microshifting menarik bagi karyawan sebagai cara untuk mendapatkan kembali kendali atas kehidupan kerja mereka yang semakin terfragmentasi.Dok. Shutterstock Microshifting menarik bagi karyawan sebagai cara untuk mendapatkan kembali kendali atas kehidupan kerja mereka yang semakin terfragmentasi.

Laporan State of Hybrid Work 2025 dari Owl Labs mengungkapkan, sebesar 65 persen pekerja tertarik microshifting.

Kenaikan minat terhadap pendekatan terstuktur untuk kerja fleksibel ala microshifting terjadi seiring dengan semakin ditinggalkannya jadwal kerja dari pukul sembilan pagi hingga pukul lima sore (9-to-5).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau