Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat

Kompas.com, 25 Maret 2026, 12:25 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan.

Menurut studi gabungan dari berbagai lembaga, kenaikan suhu permukaan laut mendorong sekitar 50 hingga 64 persen peningkatan gelombang panas di darat secara global.

Baca juga:

Laporan ini tertuang dalam studi berjudul “Large-scale Aggregation of Humid Heatwaves Exacerbated by Coastal Oceanic Warming”.

"Kami menggunakan pendekatan jaringan kompleks yang diterapkan pada data reanalisis iklim untuk menunjukkan peningkatan intensitas gelombang panas lembap yang teramati memiliki hubungan erat dengan pemanasan laut pesisir selama periode 1982–2023," kata para peneliti, dilansir dari Down to Earth, Rabu (25/3/2026).

Kenaikan suhu di laut picu gelombang panas di darat

Harapan baru untuk sistem peringatan dini

Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan. Simak penjelasannya.Dok. Freepik/lifeforstock Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan. Simak penjelasannya.

Peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, Fenying Cai, menjelaskan hubungan antara laut yang memanas dengan kondisi di darat. 

"Kami melihat adanya hubungan yang erat antara pemanasan perairan pesisir dan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem yang panas dan lembap secara beruntun, terutama di daerah tropis, di mana lautan menyuplai lebih banyak uap air ke atmosfer, yang kemudian terbawa ke daratan dan memperkuat panas," jelas Cai. 

Di wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa, pola gelombang atmosfer juga ikut berperan. Kombinasi pemanasan darat dan laut menciptakan cuaca ekstrem yang sulit dihindari.

Adapun dunia yang makin panas membuat gelombang panas menjadi fenomena permanen. 

Para ahli memantau risiko ini menggunakan ambang batas suhu bola basah (wet bulb temperature). Angkanya berada di sekitar 31,5 derajat celsius.

Jika suhu dan kelembapan melewati batas ini, keringat di tubuh dinilai tidak lagi efektif untuk mendinginkan suhu badan. Kondisi tersebut sangat berbahaya karena bisa heatstroke (sengatan panas).

Baca juga:

Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan. Simak penjelasannya. Kenaikan suhu air laut termasuk pemicu terjadinya gelombang panas ekstrem di daratan. Simak penjelasannya.

Pada tahun 2023, banyak negara di Asia, khususnya di Asia Selatan dan Asia Barat, yang mengalami gelombang panas ekstrem. Studi tersebut menunjukkan, fenomena itu dipicu oleh kenaikan suhu Samudera Hindia. 

Kejadian serupa juga melanda wilayah lain. Suhu permukaan laut yang memecahkan rekor di Atlantik Utara pada tahun 2023 menyebabkan gelombang panas hebat di sisi selatan Amerika Selatan.

Penemuan ini memberikan harapan baru untuk sistem peringatan dini.

"Yang terpenting, suhu permukaan laut di wilayah pesisir muncul sebagai indikator peringatan dini potensial untuk kejadian panas lembap ekstrem yang meluas," ucap salah satu penulis studi tersebut, Jurgen Kurths.

Sebagai informasi, Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau mulai April 2026. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau ini datang lebih awal dan lebih kering. 

Adapun puncak musim kemarau di Indonesia tahun ini diprediksi terjadi pada Agustus 2026. 

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau