KOMPAS.com - Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi dilanda gelombang panas yang lebih hangat dari biasanya. Tidak hanya itu, musim panas berisiko meningkatkan permintaan energi untuk bahan bakar dan membebani jaringan listrik.
Padahal, saat ini, ketegangan geopolitik akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah memperketat pasokan energi di kawasan ini.
Baca juga:
Menurut prakiraan musiman terbaru Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC), suhu di sebagian besar wilayah maritim dan daratan Asia Tenggara akan berada di atas rata-rata untuk periode bulan Maret-April-Mei 2026, dilansir dari Bloomberg via Bangkokpost.com, Selasa (9/3/2026).
Hasil prakiraan muncul pada Jumat (6/3/2026), ketika perang AS-Israel versus Iran mengganggu transportasi dan produksi di seluruh wilayah tersebut, menyebabkan harga energi melonjak.
Gangguan berkepanjangan akan mengancam pembangkit listrik di Asia Tenggara yang bergantung bahan bakar fosil. Gangguan tersebut kemungkinan terjadi hingga April dan Mei 2026, saat suhu dapat melonjak hingga sangat panas.
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami musim panas yang lebih hangat dari biasanya mulai April 2026. Berdasarkan proyeksi ASMC untuk periode tiga bulan ke depan, ada kemungkinan 80-100 persen suhu di atas normal di seluruh Indonesia dan Malaysia. Gelombang panas yang tidak biasa itu kemungkinan akan pertama kali melanda kedua negara tersebut.
Bahkan, kemudian fenomena panas tersebut diperkirakan akan meluas ke sebagian besar daratan Asia Tenggara dalam dua bulan berikutnya.
Sebagian besar wilayah Thailand dan Vietnam utara juga diperkirakan akan dilanda gelombang panas. Hanya sebagian kecil di kawasan ini, termasuk Vietnam bagian tenggara, Kamboja, dan beberapa wilayah di Filipina, yang diperkirakan akan mengalami suhu mendekati normal.
importir gas di beberapa bagian blok itu sudah mulai memanfaatkan pasar spot untuk kargo gas alam cair (LNG) usai pemasok utama Qatar menghentikan fasilitas ekspor terbesarnya.
Vietnam dan Thailand mengincar pengiriman pada bulan Maret dan April, sedangkan Thailand telah mengubah rencana pengadaan LNG-nya untuk menambah tiga kargo spot pada bulan-bulan tersebut.
Singapura, yang mendapatkan lebih dari 40 persen LNG-nya dari Qatar tahun lalu, kemungkinan akan mengalami lonjakan harga listrik pada kuartal kedua.
Harga spot gas di Asia berlipat ganda pekan lalu dan tetap tinggi. Para pembeli dari Asia Tenggara akan bersaing dengan pembeli lain di Asia dan Eropa untuk memperebutkan gas yang terbatas.
Baca juga:
Asia Tenggara, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami musim panas yang lebih hangat dari biasanya mulai April 2026. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya