Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Migrasi Ikan Global Dilaporkan Turun Drastis, Populasinya Anjlok 81 Persen

Kompas.com, 25 Maret 2026, 13:27 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Migrasi ikan skala besar di sungai-sungai di seluruh dunia menurun drastis, menurut laporan PBB.

Analisis dari Konvensi PBB tentang Konservasi Spesies Migrasi atau Conservation of Migratory Species (CMS) menyatakan, populasi ikan air tawar global merosot sekitar 81 persen sejak tahun 1970.

Baca juga:

Dalam laporannya, PBB meneliti lebih dari 15.000 spesies ikan air tawar, dengan 325 spesies memenuhi kriteria perlindungan.

Beberapa di antaranya berasal dari Asia (205 spesies), Amerika Selatan:(55 spesies), Afrika (42 spesies), Eropa (50 spesies), dan Amerika Utara (32 spesies). Baru 24 spesies yang masuk daftar dilindungi.

“Migrasi hewan adalah salah satu keajaiban alam yang luar biasa. Namun, spesies ini menghadapi tekanan yang semakin besar di setiap tahap hidupnya. Kerja sama internasional sangat penting agar mereka dapat bertahan," ujar Sekretaris Eksekutif CMS, Amy Fraenkel, dilansir dari The Guardian, Rabu (25/3/2026).

Migrasi ikan di sungai menurun drastis

Berdampak dari lembah Amazon hingga Sungai Mekong

Migrasi ikan di sungai berbagai negara tercatat menurun. Sebanyak 81 persen populasi ikan bahkan menghilang. freepik.com/wirestock Migrasi ikan di sungai berbagai negara tercatat menurun. Sebanyak 81 persen populasi ikan bahkan menghilang.

Salah satu spesies yang terancam yakni piraiba atau ikan lele goliath, dengan berat 225 kilogram dan hidup di lembah Amazon, Amerika Selatan. Wilayah ini menjadi salah satu benteng terakhir bagi ikan migrasi.

Wilayah lain seperti cekungan Sungai Mekong berada dalam kondisi kritis. Semua ikan migrasi berukuran besar di area tersebut juga terancam punah, termasuk ikan lele raksasa yang populasinya menurun akibat penangkapan berlebihan.

PBB juga menyoroti, sekitar setengah daratan bumi berada di cekungan sungai lintas negara. Selain Mekong, cekungan sungai prioritas lainnya mencakup Danube, Nil, dan Gangga-Brahmaputra.

Fenomena migrasi terjadi di berbagai sungai di dunia dengan salmon dan belut sebagai contoh yang paling dikenal melakukannya.

Migrasi terpanjang dilakukan ikan lele dorado yang menempuh jarak hingga 11.000 kilometer (km), dari tempat bertelur di kaki Pegunungan Andes di Eropa menuju muara Amazon lalu kembali lagi. Ikan berwarna perak keemasan itu dapat tumbuh hingga sekitar dua meter.

Baca juga: 

Ulah manusia

Migrasi ikan di sungai berbagai negara tercatat menurun. Sebanyak 81 persen populasi ikan bahkan menghilang. Shutterstock/Nguyen Quang Ngoc Tonkin Migrasi ikan di sungai berbagai negara tercatat menurun. Sebanyak 81 persen populasi ikan bahkan menghilang.

Banyak spesies saat ini mengalami penurunan populasi akibat aktivitas manusia.

Penyebab utamanya, antara lain polusi yang mengalir ke sungai dan danau, pembangunan bendungan yang menghalangi jalur migrasi, penangkapan ikan berlebihan, serta krisis iklim yang meningkatkan suhu air.

Ikan migrasi air tawar menjadi tulang punggung perikanan darat terbesar di dunia dan menopang ratusan juta orang.

Danau Tonlé Sap di Kamboja, misalnya, memiliki lebih dari 100 spesies ikan migrasi, dengan hasil tangkapan yang bisa mencapai beberapa ton dalam satu jam.

Dilansir dari SciTechDaily, pada pertemuan Conference of The Parties (COP15), Pemerintah Brasil mengusulkan sejumlah langkah konservasi dengan fokus pada dua sistem sungai terbesar di Amerika Selatan yakni Amazon dan La Plata-Parana.

Brasil menekankan pentingnya perlindungan cekungan Amazon yang hingga saat ini masih menjadi salah satu benteng terakhir bagi ikan air tawar migrasi.

Tekanan pembangunan yang semakin intensif dinilai mulai mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut.

Brasil bersama sejumlah negara mengusulkan Rencana Aksi Multi-spesies untuk Ikan Lele Migrasi Amazon periode 2026-2036 untuk melindungi ikan lele dorado.

Selain itu, berencana menambahkan spesies ikan lele sorubim berbintik (Pseudoplatystoma corruscans) ke dalam daftar CMS. Sebab, spesies ini menghadapi ancaman dari pembangunan bendungan, perubahan aliran air, serta tekanan penangkapan ikan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau