Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hanya 14 Persen Wilayah di Dunia yang Punya Udara Sehat Sesuai Pedoman WHO

Kompas.com, 25 Maret 2026, 14:30 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hanya 14 persen negara dan kota di dunia dengan kadar PM2.5 di udara sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), turun dari tahun sebelumnya yakni 17 persen, menurut laporan perusahaan pemantau udara, IQAir.

Adapun kadar PM2.5 yang diatur sebesar lima miligram per meter kubik (µg/m3). 

Baca juga:

Tim menganalisis data dari stasiun pemantauan di 9.446 kota di 143 negara, lalu menambahkan 12 negara dan wilayah yang tidak terhitung pada tahun lalu.

"Dibandingkan tahun sebelumnya, sebanyak 54 negara mengalami peningkatan rata-rata tahunan PM2.5, 75 negara mengalami penurunan, dan dua negara tidak berubah," tulis IQAir dalam keterangan resminya, Rabu (25/3/2026).

Kota dengan kadar PM2.5 di udara tidak sesuai WHO

Wilayah mana saja yang paling tercemar?

IQAir mencatat hanya 14 negara dan wilayah yang kualitas udaranya memenuhi standar WHO. Apa sebabnya?FREEPIK/RAWPIXEL.COM IQAir mencatat hanya 14 negara dan wilayah yang kualitas udaranya memenuhi standar WHO. Apa sebabnya?

Peneliti mencatat, hanya 13 negara dan wilayah yang memenuhi pedoman tahunan PM2.5 dari WHO, berdasarkan laporan tahunan ke-8 World Air Quality Report 2025. 

Artinya, sebanyak 130 dari 143 negara, wilayah, dan teritori (91 persen) tidak memenuhi nilai pedoman tahunan WHO.

Eropa, Andorra, Estonia, dan Islandia termasuk wilayah dan negara yang memenuhi pedoman tahunan PM2.5 WHO.

Negara-negara lainnya yang masuk dalam kelompok yang sama, antara lain Australia , Barbados, Bermuda, Polinesia Prancis, Grenada, Kaledonia Baru, Panama, Puerto Riko, Réunion, dan Kepulauan Virgin AS.

Menurut laporan ini, 25 kota paling tercemar di dunia seluruhnya berada di India, Pakistan, dan China, dengan India menjadi lokasi tiga dari empat kota paling tercemar.

Kota besar paling tercemar di Amerika Serikat mencakup El Paso, Texas. 

Baca juga:

Tahun 2025 menjadi tahun kedua berturut-turut tidak ada kota di Asia Timur yang memenuhi pedoman PM2.5 WHO. Pola polusi di China menunjukkan pergeseran konsentrasi tinggi ke arah barat.

Eropa menunjukkan tren campuran, dengan 23 negara mengalami peningkatan PM2.5 dan 18 negara terjadi penurunan. Polusi musiman diperburuk oleh pembakaran kayu saat musim dingin, asap lintas batas dari kebakaran hutan Kanada, dan debu Sahara.

Di Amerika Latin dan Karibia, tren kualitas udara umumnya positif dengan 208 kota mengalami penurunan PM2.5, meningkat, dan sembilan kota lainnya tidak berubah.

Oseania tetap menjadi salah satu wilayah terbersih di dunia, dengan 61 persen kota memenuhi pedoman WHO, meskipun cuaca dingin ekstrem di New South Wales, Australia, pada Juni 2025 menyebabkan lonjakan musiman PM2.5.

Sementara itu, kebakaran hutan yang diperparah oleh perubahan iklim memainkan peran besar dalam memburuknya kualitas udara global pada 2025.

Emisi biomassa dari kebakaran di Eropa dan Kanada mencapai rekor, menyumbang sekitar 1.380 megaton karbon ke atmosfer.

Kanada menjadi tercemar daripada Amerika Serikat untuk kedua kalinya dalam delapan tahun laporan ini, akibat musim kebakaran hutan terburuk kedua dalam sejarah yang memengaruhi kualitas udara di Kanada, Amerika Serikat, serta sebagian Eropa.

Di Amerika Serikat, rata-rata PM2.5 tahunan meningkat menjadi 7,3 µg/m3, dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 7,1 µg/m3. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau